Upacara Kehamilan Adat Banjar (Kalimantan Selatan)

Sumber - Norman Muzanni

Kehamilan, merupakan salah satu tahap yang wajib dilalui oleh setiap wanita dalam fase hidup sebelum memiliki seorang anak, terlebih saat kehamilan anak pertama.

Saat kehamilan telah mencapai usia bulan tertentu harus dilakukan sebuah ritual untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan bagi ibu dan anak di dalam kandungan hingga prosesi kelahiran.

Dalam artikel ini, akan dibahas salah satu tradisi untuk wanita yang sedang hamil di daerah Kalimantan Selatan, yaitu upacara Batapung Tawar Tian Tiga Bulan dan Upacara Tian Mandaring (7 Bulanan).

Upacara Batapung Tawar Tian Tiga Bulan

Upacara ini dilakukan ketika usia kandungan baru mencapai 3 bulan, nama upacara ini berarti memercikkan air tapung tawar bagi wanita yang sedang hamil 3 bulan, dimana terdiri dari beberapa kata, yaitu Betapung dan Tian.

Btapung Tawar – Sumber – Norman Muzanni

Betapung dalam bahasa Banjar berarti mengikat atau mendekatkan satu benda dengan benda yang lain. Ba adalah kata awalan dalam menunjukkan suatu pekerjaan dan berfungsi sebagai penegas dari kata tapung. Sedangkan tian berarti kehamilan atau hamil (mengandung).

Waktu penyelenggaraan upacara ini yaitu pada hari Jumat dan dimulai pada pukul 07.00 pagi. Mengapa hari Jumat dipilih sebagai waktu pelaksanaan upacara terbaik? Karena menurut kepercayaan adat Banjar (Kalsel) hari Jumat adalah hari terbaik dalam satu minggu untuk melakukan upacara.

Wanita hamil yang mengikuti upacara ini ditapungtawari oleh minyak Likat Baboreh yang dicampur dengan darah ayam yang berasal dari babalungan/jambul ayam.

Tempat upacara ini dilaksanakan di ruangan tengah rumah yang disebut dengan tawing halat.

Proses tapung tawar dilakukan oleh wanita tua yang mengerti tata cara batapung tawar, dengan memercikkan minyak likat baboreh di atas kepala wanita yang hamil tiga bulan dengan harapan memperoleh keselamatan hingga bulan berikutnya.

Upacara Tian Mandaring (Tujuh Bulanan)

Upacara Tian Mandaring dilakukan ketika usia kehamilan telah mencapai 7 bulan. Upacara ini dilaksanakan pada siang pukul 14.00 hingga sore pukul 16.00 di hari-hari minggu ke 3 bulan Arab (Hijriyah) dan disaksikan oleh seluruh pihak keluarga dari wanita yang sedang hamil, Tuan Guru (Mualim), dan para undangan/kerabat dekat wanita.

Sebelum upacara dilaksanakan, terlebih dahulu melakukan persiapan dan perlengkapan upacara. Perlengkapan upacara Tian Mandaring terdiri dari wadai (kue) 40 macam, pagar mayang sebagai tempat memandikan wanita hamil, serta berbagai macam perlengkapan mandi seperti Kasai Temugiring (bedak), keramas asam jawa, mayang pinang, kelapa tumbuh yang berselimut kain kuning, benang lawai dan kelapa muda.

Prosesi upacara Tian Mandaring diawali dengan wanita hamil yang berpakaian indah dan menggunakan perhiasan duduk diatas lapik ruang tengah sambil memangku sebiji kelapa tumbuh berselimutkan kain kuning menghadapi sajian wadai 40 macam.

Setelah beberapa lama duduk di atas lapik, kemudian turun ke pagar mayang sambil menggendong kelapa tumbuh. Setelah turun ke pagar mayang, kelapa tumbuh diserahkan kepada orang lain, bertukar pakaian dengan kain basahan kuning sampai batas dada, lalu duduk diatas bamban bajalin.

Kemudian wanita hamil ini disiram oleh beberapa wanita tua dengan cara menyiraminya dengan air bunga, membedaki dengan Kasai Temugiring, mengeramasinya.

Wanita-wanita tua yang terlibat dalam prosesi ini biasanya sudah berpengalaman dalam menangani upacara ini dalam jumlah yang selalu ganjil (minimal 3 orang dan maksimal 7 orang) dengan 1 orang sebagai pemimpinnya, yaitu sebagai bidan.

Selanjutnya para pembantunya memapaikan berkas mayang, berkas daun balinjuang dan berkas daun kacapiring secara bergantian, kemudian disiram juga dengan air lainnya, seperti banyu baya yang telah dicampur dengan banyu Yasin atau banyu doa dan banyu Burdah.

Sebuah mayang pinang yang masih belum terbuka dari seludangnya diletakkan di atas kepala wanita yang sedang hamil lalu ditepuk. Kemudian Mayang dikeluarkan dari dalam seludangnya dan kembali disiram dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dalam posisi mayang yang berbeda.

Diusahakan agar mayang pinang agar dapat pecah dalam sekali tepukan, karena pecahnya mayang dengan sekali tepukan menandakan proses persalinan akan berjalan dengan lancar.

Setelah dimandikan, kedua tangkai mayang diselipkan di sela-sela daun telinga wanita hamil masing-masing sebuah. Lalu, dua orang wanita tua membantukan meloloskan lawai dari kepala sampai ujung kaki sebanyak tiga kali berturut-turut dimana pada langkah pertama ke depan, kedua melangkah kebelakang dan yang ketiga kembali melangkah ke depan.

Badannya kemudian dikeringkan, berganti pakaian lalu keluar dari pagar mayang dengan menginjak sebiji telur ayam, saat keluar dari pagar mayang shawalat dibacakan secara beramai-ramai.

Wanita hamil itu kembali duduk di atas lapik, rambutnya disisir dan disanggul, serta kembali ditapung tawari oleh percikan minyak likat baboreh dengan anyaman daun kelapa bernama tepung tawar.

Upacara Tian Mandaring telah selesai, sebagai prosesi penutupan, salah seorang hadirin membacakan doa selamat dengan nama ritual batumbang. Saat doa selamat dibacakan wanita hamil menyalami semua wanita yang hadir lalu wadai/kue 40 macam tadi mulai dibagikan dan dihidangkan kepada seluruh hadirin untuk dikonsumsi bersama-sama.

Demikianlah artikel tentang upacara kehamilan adat Banjar (Kalimantan Selatan), semoga menambah wawasan bagi sobat semuanya.

oleh: halimnegara

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*