Upacara Adat Ganti Welit di Trusmi

Indonesia kaya akan keanekaragaman budaya dan bahasa yang memiliki daya tarik serta keunikan tersendiri.

Setiap daerah mempunyai ciri khas itu yang membuatnya berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Salah satunya kebudayaan di Kota Cirebon terkenal banyaknya tradisi adat yang masih melekat hingga sekarang yaitu Upacara Adat Ganti Welit di Trusmi.

Masyarakat sekitar juga menyebutnya dengan Selawean Trusmi, kegiatan adat merupakan acara tahunan yang diselenggarakan khususnya di daerah trusmi.

Tradisi Adat Ganti Welit Trusmi

Ganti Welit atau Selawean Trusmi merupakan salah satu kegiatan ziarah kubur yang dilaksanakan di Makam Ki Buyut Trusmi. Umumnya diadakan tahlilan di Makam Ki Buyut Trusmi.

Dalam bahasa cirebon “Selawean” berarti dua puluh lima, oleh karena itu tradisi upacara adat ini dilaksanakan setiap tanggal 25 bulan Maulud.

Sebenarnya di Cirebon banyak upacara adat yang dilaksanakan bertepatan di bulan Maulud ini, diantaranya yang ada di daerah Trusmi Plered. Yang terkenal dengan pusat batik khas cirebon terdapat sebuah upacara adat di Makam Kramat Trusmi Cirebon atau yang dikenal dengan nama “Ganti Welit”.

Kegiatan upacara adat ini dilaksanakan setiap tahun di Makam Kramat Trusmi, bertujuan untuk mengganti atap makam keluarga Ki Buyut Trusmi, dengan menggunakan anyaman daun kelapa yang biasa disebut Welit. Kegiatan upacara Adat Ganti Welit dilakukan oleh warga masyarakat Trusmi Cirebon.

Mengenal Sosok Ki Buyut Trusmi

Mbah Buyut Trusmi adalah seorang putra dari Raja Pajajaran Prabu Siliwangi yang datang ke Cirebon untuk menyebarkan agama Islam. Beliau juga mengajarkan tata cara memperbaiki lingkungan.

Pangeran Manggarajati atau Bung Cikal adalah putra pertama dari Pangeran Carbon Girang, Ayahnya meninggal dunia saat Bung Cikal masih kecil. Kemudian Syekh Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan Gunung Jati mengangkat Bung Cikal sebagai anak dan diasuh oleh Mbah Buyut Trusmi.

Sejak kecil Bung Cikal sudah terlihat memiliki kesaktian yang mandraguna. Terlihat dari salah satu kebiasaan Bung Cikal yaitu kerap kali merusak tanaman Mbah Buyut Trusmi. Sering mendapatkan teguran dan nasehat dari Mba Buyut Trusmi tetapi, Bung Cikal tak selalu menghiraukan.

Namun, yang mengherankan setiap tanaman telah dirusak oleh Bung Cikal tumbuh dan bersemi kembali.

Kesaktian Bung Cikal yang menjadikan pendukuhan ini dinamakan TRUSMI memiliki arti terus bersemi. Pendukuhan Trusmi berubah menjadi sebuah Desa di perkirakan terjadi pada tahun 1925 yang bersamaan dengan meletusnya perang Diponegoro.

Usia Bung Cikal ketika meninggal yaitu menginjak remaja, kemudian dimakamkan di Puncak Gunung Ciremai. Selama ini, pendukuhan Trusmi di pimpin oleh Mbah Buyut Trusmi. Setelah beliau meninggal kepemimpinan pendukuhan trusmi dilanjutkan oleh keturunan dari Ki Gede Trusmi yang dilakukan secara turun temurun.

Wilayah desa Trusmi terletak di Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Desa Trusmi telah dilakukan pemekaran menjadi dua yaitu Desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon.

Situs Ki Buyut Trusmi adalah peninggalan dari Mbah Buyut Trusmi yang terletak di Desa Trusmi Wetan. Bangunan terdiri dari Pendopo, Pekuncen, Mesjid Kuno, Witana, Pekulaha atau kolam, Jinem dan Makan Buyut Trusmi serta pemakaman umum.

Keberadaan Situs Buyut Trusmi ada hingga sekarang, karena terus dipelihara dan dikelola oleh keturunan dari Ki Gede Trusmi, yang berjumlah 17 memiliki tugas yang berbeda-beda yaitu 1 orang pemimpin, 4 orang kyai, 4 orang juru kunci, 4 orang pengelola mesjid, 4 orang pembantu atau kemit.

Berbagai acara tradisional masih ada dan tetap dilestarikan hingga sekarang diantaranya: Arak-arakan, Memayu, Upacara Adat Gantu Welit dan Trusmian atau Selawean. Kegiatan acara bertujuan untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW.

oleh: Sofiyani

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*