Tradisi Palang Pintu Suku Betawi

Palang Pintu Betawi - sumber: kata baba

Palang Pintu, Tradisi Betawi yang Terus Dilestarikan

Betawi merupakan suku yang memiliki begitu banyak tradisi atau kesenian dan salah satunya adalah palang pintu.

Sesuai dengan namanya, palang pintu merupakan arti dari kesenian membuka penghalang agar dapat memasuki suatu daerah.

Untuk membuka penghalang ini dapat diwakilkan oleh satu orang atau bahkan lebih. Palang pintu biasanya dapat kita jumpai pada acara-acara tertentu seperti menyambut tamu khusus atau acara perkawinan.

Meskipun ada beberapa kesenian betawi yang seakan “tenggelam”, palang pintu tetap bertahan hingga kini. Bahkan anak-anak muda betawi pun juga turut serta melestarikan tradisi ini.

Alat-Alat yang Dibawakan Dalam Tradisi Palang Pintu

Seperti tradisi lainnya, palang pintu juga memerlukan alat-alat pada saat pelaksanaannya.

Palang Pintu Betawi – sumber: kata baba

Beberapa peralatan yang harus dibawa seperti kembang kelapa, golok untuk atraksi silat, dan tidak lupa tim pemusik rebana kecimpring pun juga dihadirkan.

Untuk kostumnya sendiri para pemain menggunakan sadariah/baju koko, baju ujung serong dan celana kolor panjang.

Tidak Boleh Kawin Jika Tidak Bisa Kalahkan Jawara

 Ada yang unik dari acara palang pintu di pesta pernikahan, pasalnya ilmu dari pengantin laki-laki akan diuji dan akan dilihat sejauh manakah keberaniannya untuk bisa mempersunting mempelai perempuan.

Memang pada saat mendatangi suatu daerah maka kemampuan kita akan diuji oleh sang jawara daerah tersebut. Jadi jika jawara tidak bisa dikalahkan, maka tidak boleh kawin meskipun saling mencintai.

Adanya Unsur Silat

Pada tradisi palang pintu juga terdapat unsur silatnya. Jenis silat yang digunakan yaitu silat cingkrik. Jenis silat ini dari wilayah Sukabumi Utara, Rawa Belong, dan juga Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Yang selain berfungsi untuk bela diri juga digunakan untuk pertunjukan seni. Memang atraksi silat di tradisi palang pintu lebih terlihat seperti tarian, namun ketangkasan para pemain dan kecepatan tangan serta kaki membuat silat ini seperti sungguhan.

Pelengkap dalam Penampilan

Dalam setiap pertunjukan palang pintu, beberapa orang akan membawa kembang kelapa.

Kembang kelapa dipilih bukan tanpa alasan, karena pohon kelapa memang bisa dimanfaatkan mulai dari akar hingga buahnya. Sehingga pada saat sah menjadi kepala rumah tangga dapat berguna untuk orang banyak.

Selain itu, roti buaya juga dibawa sebagai seserahan yang menandakan bahwa mempelai laki-laki sudah siap untuk menikahi mempelai wanita dan akan setia.

Kesetiaan tercermin dari filosofi buaya yang memang hanya menikah sekali dalam seumur hidup, meskipun pasangannya telah meninggal si buaya tidak akan menikah lagi.

Buaya juga menyimbolkan sisi keberanian mempelai laki-laki sebagai calon kepala rumah tangga yang akan menghadapi segala tantangan ketika sudah berumah tangga nantinya.

Alasan lain dibawanya roti buaya pada saat seserahan ternyata pda zaman dulu orang betawi menganggap roti sebagai makanan mewah yang hanya dimakan oleh orang-orang Belanda. Sedangkan orang betawi hanya memakan umbi-umbian seperti ubi, singkong, kentang dan lain sebagainya.

Agar ciri khas kebudayaan lebih kental terlihat, maka penggunaan aksesoris pelengkap juga perlu seperti peci hitam, sarung yang diletakkan di pundak, sabuk khas betawi dan lain sebagainya.

Meskipun hingga kini tradisi palang pintu masih bertahan, kita sebagai generasi muda sudah sepatutnya melestarikan agar generasi berikutnya akan tetap mengetahui dan bahkan juga ikut melestarikan tradisi palang pintu.

Sekarang ini sudah banyak website sewa palang pintu, sehingga memudahkan Anda jika ingin menyewa. Untuk harganya sendiri mulai dari jutaan rupiah.

Oleh: Marcyella

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*