20 Tari Tradisional dari Provinsi Jawa Tengah

Sumber: ISI Surakarta

Jawa Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keragaman seni dan budaya yang sangat tinggi.  Sebagai wilayah yang berada di tengah-tengah Pulau Jawa, Provinsi Jawa Tengah bisa dibilang menjadi pusat dari kesenian dan kebudayaan yang ada di Pulau Jawa, khususnya kesenian dan kebudayaan Jawa. Hal tersebut antara lain dapat kita lihat pada seni tari.

Jawa Tengah memiliki banyak jenis tari tradisional dengan ragam gerak dan kostum yang digunakan. Kesenian Jawa yang biasanya memiliki  makna filosofis yang mendalam juga terlihat pada tari tradisional Jawa Tengah.

Sumber: ISI Surakarta

Apakah kamu tahu apa saja contoh tari tradisional yang berasal dari Jawa Tengah?

Tari Adat Kuntulan

Salah satu jenis tari yang dapat ditemui di Jawa Tengah adalah tari kuntulan. Tari kuntulan dapat ditemukan di beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Magelang dan Tegal. Kuntulan adalah jenis tarian tradisional yang mendapat pengaruh dari budaya Islam. Ada yang menyebut bahwa tari kuntulan ini merupakan sebuah kesenian yang digunakan untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa.

Dari gerakan-gerakan yang terdapat pada tarian ini, nampak bahwa kuntulan memadukan antara gerakan-gerakan tarian yang indah dengan seni bela diri.Tarian ini dilakukan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional seperti rebana.

Para penari mengunakan kostum berwarna putih-putih yang menyerupai burung kuntul. Selain dari kostum yang digunakan, gerakan-gerakan yang dilakukan juga memiliki makna yang mendalam, antara lain kepasrahan dan rasa syukur.

Burung kuntul adalah salah satu jenis burung yang sering dijumpai di daerah-daerah pedesaan khususnya di daerah persawahan.  Tari kuntulan masih sering dimainkan hingga saat ini, khususnya pada acara-acara adat maupun di festival kebudayaan.

Tari Adat Wira Pertiwi

Tari adat wira pertiwi tergolong sebagai tari kreasi baru. Pencipta tari ini adalah Bagong Kussudia. Tarian ini beliau ciptakan sebagai kontribusi untuk menggelorakan semnagat pengabdian terhadap bangsa dan negara. Tari wira pratiwi biasanya dimainkan oleh penari berjumlah ganjil, dengan jumlah minimal yaitu tiga orang.

Tarian dilakukan oleh perempuan, mengingat tarian ini bercerita tentang prajurit putri. Tari Wira Pratiwi adalah sebuah tarian yang menceritakan tentang sikap kepahlawanan yang dimiliki oleh seorang prajurit putri Jawa.

Gerakan yang ditunjukkan pada tari wira pertiwi ini cukup atraktif dan dinamis. Banyak gerakan yang merupakan simbolisasi dari sifat tegas, tangguh, serta tangkas.

Gerakan-gerakan tersebut ingin menggambarkan bagaimana semangat seorang prajurit dalam membela tanah airnya. Kostum yang digunakan penari memiliki kombninasi warna hitam, putih, merah, dan cokalet yang khas dengan budaya Jawa.

Para penari juga dilengkapi dengan aksesoris berupa anak panah dan busur panah. Panah menjadi simbol ketegasan dan keberanian dari prajurit. Simbol ketegasan dan keberanian juga dapat dilihat dari sorotan tajam dari mata sang penari.

Tari Adat Beksan Wireng

Tari adat beksan wireng berasal dari Kasunanan Surakarta. Istilah beksan wireng berasal dari bahasa Jawa, yaitu wira yang berarti perwira dan aeng yang berarti prajurit.

Tarian ini diciptakan oleh Prabu Amiluhur, dengan tujuan awalnya yaitu supaya putranya dapat aktif dalam keprajuritan serta menanamkan rasa cinta tanah air.

Tari Adat Beksan Wireng – sumber: loveindonesia

Seperti yang nampak pada namanya, tarian ini melukiskan ketangkasan dan kelincahan prajurit ketika berlatih perang. Gerakan-gerakan yang dilakukan penari kebanyakan berasal dari gerakan beladiri pencak silat. Tarian ini dilakukan oleh dua orang penari berjenis kelamin laki-laki.

Kostum yang digunakan memiliki warna yang cukup mecolok, yaitu merah, putih, dan kuning, yang mengkin melambangkan sifat berani dari prajurit. Penati beksan wireng membawa  tombak dan tameng yang yang menjadi simbol keberanian dan ketangkasan.

Tema besar dari tarian ini adalah mengenai keprajuritan, sehingga irama dan tempo pada tari ini cenderung cepat dan menghentak. Ketika menari, para penari diiringi oleh beberapa alat musik tradisional, salah satunya yaitu gamelan.

Tari Adat Bondan

Tarian lain yang juga berasal dari Surakarta yaitu tari adat bondan. Tari bondan adalah sebuah tarian yang menggambarkan ketulusan kasih sayang ibu terhadap anaknya. Kondisi tersebut sedikit berbeda dengan tari tradisional lain yang pada umumnya bertemakan keprajuritan.

Perbedaan tema tersebut juga membuat properti yag digunakan juga cukup berbeda, misalnya boneka bayi, payung, kendil dan alat-alat rumah tangga lain. Tari bondan ini di masa lalu biasanya ditarikan oleh para gadis desa di hadapan sang raja.

Tari bondan memperlihatkan gerakan-gerakan sang ibu yang sedang mendidik anaknya. Makna yang terkandung pada tari ini yaitu bahwa seorang perempuan tidak cukup hanya mengandalkan kecantikan fisiknya saja, tetapi juga harus memiliki sifat-sifat baik untuk mengasuh dan melindungi anaknya.

Musik yang mengiringi tari bondan adalah musik gending. Berdasarkan jenisnya, tari bondan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis tarian, yaitu tari bondan tani, tari bondan mardisiwi, dan tari bondan cindogo. Jenis-jenis tari tersebut memiliki perbedaan cerita serta suasana yang dibawakan (senang atau sedih).

Tari Adat Bedhaya Ketawang

Tari adat Bedhaya Ketawang berasal dari Kasunanan Surakarta. Tari ini dimainkan oleh sembilan orang penari yang seluruhnya berjenis kelamin perempuan. Jumlah sembilan tersebut melambangkan sembilan arah mata angin, di mana pada tiap-tiap mata angin dikuasai oleh seorang dewa (mitologi Jawa).

Bedhaya ketawang berasal dari dua kata yang berasal dari Jawa, yaitu bedhaya yang bermakna penari perempuan, sedangkan ketawang bermakna langit. Langit merupakan sebuah simbolisasi tentang kemuliaan dan keluhuran.

Tarian ini bukan sembarang tarian, karena tari bedhaya ketawang merupakan salah satu tarian kebesaran yang dipertunjukkan ketika upacara penobatan atau kenaikan tahta raja di Kasunanan Surakarta. Hal tersebut tentunya membuat tarian ini memiliki kesakralannya sendiri.

Berdasarkan sejarahnya, pada mulanya tarian ini dipentaskan pada masa pemerintahan Sultan Agung pada abad ke-17. gerakan-gerakan pada tari bedhaya ketawang ini  memiliki makna bahwa setiap manusia haruslah berbuat baik.

Terdapat cerita juga bahwa tari bedhaya ketawang ini juga merupakan simbolisasi rasa cinta Kanjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senapati.

Tari Adat Kretek

Tak kalah dengan daerah lain di Jawa Tengah, Kudus juga memiliki sebuah tari tradisional yang bernama tari adat kretek. Tari kretek menggambarkan aktivitas para buruh yang bekerja membuat kretek. Ya, Kudus memang sangat lekat dengan industri kreteknya.

Tari Kretek – sumber: UNNES/gita octaviani

Masyarakat setempat juga banyak yang memiliki matapencaharian yang berhubungan dengan kretek. Maka tidak heran jika kretek kemudian sangat erat dengan tradisi dan budaya masyarakat Kudus, yang salah satunya ditunjukkan pada tari kretek. Sebenarnya di awal-awal kemunculannya, tari ini memiliki nama tari mbatil. Namun seiring perkembangan jaman, nama dari tarian ini diubah menjadi tari kretek.

Berdasarkan catatan, tari kretek dipentataskan pertama kali pada tahun 1986. Pencipta tari kretek adalah Endang Tonny, seorang pemilik Sanggar Seni Puring Sari yang berada di Kudus.

Cerita pada tarian ini semua berhubungan dengan kretek, mulai dari pembuatan hingga penjualan kretek. Tari ini dimainkan oleh laki-laki dan perempuan. Penari laki-laki adalah representasi dari mandor, sedangkan penari perempuan merepresentasikan buruh kretek.

Tari Adat Ronggeng

Tari adat ronggeng merupakan salah satu tarian yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan tari tradisional lainnya. Tari ronggeng kemungkinan telah berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat sekitar abad ke-8.

Hal tersebut antara lain diperkuat dengan adanya bukti berupa relief pada bagian Karmawibangga di Candi Borobudur yang memperlihatkan adegan serombongan seniman dan penari perempuan yang melakukan perjalanan. Tari ini juga dikenal memiliki gerakan yang sangat ekspresif dan cenderung erotis.

Penari melakukan gerakan-gerakan tari dengan diiringi suara beberapa instrumen musik tradisional, seperti gong dan rebab. Tari ini dibawakan oleh penari perempuan.

Pada jaman dahulu, para penari ronggeng melakukan perjalanan dari satu desa ke desa lain. Ketika tampil, para penari perempuan biasanya akan menarik atau mengajak penonton laki-laki untuk menari bersama. Penonton laki-laki tersebut lalu akan memberikan uang pada sang penari saat sedang menari ataupun setelah tarian berakhir.

Tari ini kadang dianggap negatif karena gerakan-gerakannya yang cenderung erotis dan dinilai tidak sesuai dengan norma kesopanan keraton Jawa.

Tari Adat Serimpi

Tari adat berikutnya yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah adalah tari serimpi. Tari serimpi diperkirakan muncul pertama kali pada abad ke-17, yaitu saat era Kerajaan Mataram yang dipimpin Sultan Agung. Tari serimpi termasuk sebagai tari yang memiliki tingkat kesakralan yang tinggi.

Bhakan kesakralannya dapat disetarakan dengan tingkat kesakralan benda-benda pusaka kerajaan. Hal tersebut disebabkan karena tari ini hanya ditampilkan pada upacara kenaikan tahta raja serta ritual-ritual penting kenegaraan lainnya.

Tarian ini biasanya ditampilakn dengan diiringi oleh gamelan. Oleh karena itu, tari ini dapat dibilang memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan tari-tari tradisiomal lain di Jawa Tengah.

Taria serimpi memiliki gerakan yang lemah gemulai, yang menjadi simbol sifat kelemah-lembutan dan sopan santun. Tari ini dimainkan oleh empat orang penari perempuan.

Tari serimpi menceritakan berbagai peristiwa pertempuran atau peperangan serta kisah-kisah kepahlawanan, misalnya cerita peperangan Mahabarata, Ramayana, Menak, dan Purwa. Peperangan yang diceritakan pada tari serimpi adalah simbol dari pertempuran abadi antara kebaikan dan kejahatan.

Tari Adat Blambangan Cakil

Tari Blambangan Cakil merupakan sebuah tari tradisional yang dipadukan dengan cerita dari pewayangan. Adegan yang ditampilkan pada tari ini yaitu “perang kembang”, di mana kisah tersebut menceritakan peperangan antara golongan ksatria melawan golongan raksasa. Peperangan tersebut merupakan simbolisasi dari peperangan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Tokoh Arjuna sebagai ksatria dimainkan oleh penari yang melambangkan kebaikan.

Penari tersebut akan memperlihatkan gerakan-gerakan yang halus, lembut, dengan tempo yang tidak terlalu cepat. Berbeda halnya dengan penari yang memainkan tokoh raksasa yang melambangkan kejahatan. Gerakan tarinya cenderung kasar dan beringas.

Makna penting yang disampaikan melalui tari blambangan cakil ini yaitu bahwa setiap kebaikan pasti akan mampu mengalahkan kejahatan. Tidak terdapat percakapan pada tari bambangan cakil ini. Semua kisah pewayangan  diceritakan melalui gerakan.

Aspek fisik juga menjadi hal yang diperhatikan pada pemilihan penari pada tari ini. Tidak hanya aspek fisik, tapi juga dari sifat dan karakter gerakan dari sang penari. Untuk pemeran ksatria, pemain yang dipilih biasanya memiliki yang wajah rupawan serta gerakan tubuh yang lembut, sedangkan pemeran cakil diperankan oleh penari yang gerakannya lincah.

Tari Adat Ujungan

Tari tradisional di Jawa Tengah selanjutnya adalah tari ujungan. Tari ujungan adalah sebuah tari yang merupakan bagian dari ritual untuk meminta hujan. Tari ujungan biasa dilakukan oleh masyarakat di daerah Gumelem, Banjarnegara dan sekitarnya. Tari ini terutama dilakukan ketika sedang mengalami musim kemarau atau pancaroba. Tari ini dilakukan oleh dua orang laki-laki. Pada tari ini, penari melakukan ritual dengan saling unjuk kekuatan.

Tari ujungan bisa dibilang cukup keras dan terkesan menyakitkan. Para pemain membawa batang rotan untuk memukul lawannya. Tak jarang pemain mengeluarkan darah akibat pukulan rotan tersebut. Mereka percaya bahwa semakin banyak darah yang mengalir, maka semakin cepat pula hujan akan turun.

Walaupun nampak berbahaya karena seringkali penari yang melakukan ritual mengalami luka, tarian ini sebenarnya mempunyai pesan kedamaian.

Pesan tersebut yaitu jika  tidak ingin disakiti,  maka janganlah menyakiti orang lain. Ketika melakukan tari ujungan, para penari dilarang untuk menunjukkan rasa marah dan benci. Mereka saling memukul namun disertai dengan canda tawa, sehingga menciptakan situasi yang akrab.

Tari Adat Gambyong

Tari adat gambyong tarian khas yang berasal dari daerah Surakarta. Tari gambyong diciptakan oleh Mas Ajeng Gambyong, yang kemudian namanya digunakan pada tari ini. Tari gambyiong adalah percampuran antara tari rakyat dengan tari kraton.

Tari ini biasa dipentaskan sebagai tanda selamat datang untuk menyambut tamu. Tari gambyong memiliki bebrapa variasi gerakan atau koreografi, antara lain tari gambyong pangkur dan tari gambyong pareanom. Walaupun demikian, tari gambyong memiliki dasar gerakan yang sama, yaitu gerakan tarian tayub.

Penari menggunakan pakaian berwarna kuning dan hijau, yang dimaknai sebagai simbol kesuburan serta kemakmuran. Pada awalnya tari gambyong dimainkan oleh penari tunggal. Namun seiring waktu berjalan, tari ini juga di mainkan secara berkelompok dengan jumlah penari yang banyak.

gerak pada tari gambyong melibatkan banyak unsur gerak, seperti bagian kaki, tangan, dan kepala. Pandangan dari sang penari akan mengikuti arah gerakan tubuh yang dilakukan. Saat ini tari gambyong banyak dipentaskan untuk memeriahkan pesta perkawinan ataupun festival-festival budaya.

Tari Adat Sintren

Tari Sintren merupakan tari yang cukup berkembang di beberapa daerah di pesisir utara Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Banyumas, Pemalang, dan Brebes.Tari sintren tergolong sebagai tari yang mengandung nilai mistis karena sering dikaitkan dengan peristiwa kerasukan (kesurupan).

Penari tari sintren menggunakan properti berupa kaca mata hitam. Penggunaan kaca mata hitam tersebut digunakan untuk menutupi bola mata sang penari yang diyakini menjadi putih akibat sedang kerasukan arwah. Pementasan tari ini diiringi dengan musik gamelan.

Tarian ini dilakukan oleh gadis yang masih perawan. Unsur-unsur yang terdapat pada tari sintren  mempunyai arti masing-masing. Selain kaca mata hitam, benda lain yang digunakan pada tarian ini yaitu sesaju, kemenyan, dan kurungan besar. Benda-benda tersebut dibutuhkan untuk memnaggil arwah bidadari. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh penari diyakini merupakan gerakan dari arwah bidadari yang merasuki tubuh penari.

Tari Adat Jlantur

Tari tradisional berikutnya yaitu tari jlantur. Tarian ini berasal dari Kabuoaten Boyolali. Tari jlantur dimainkan dengan menggunakan banyak penari, yaitu berjumlah hingga empat puluh orang. Tari ini dimainkan oleh penari laki-laki. Terdapat beberapa properti yang dipakai pada tarian ini, antara lain ikat kepala dan kuda-kudaan (kuda tiruan). Melihat dari properti yang dipakai, sekilas tari jlantur ini memiliki kemiripan dengan tari kuda lumping.

Penari mengenakan pakaian berwarna merah, celana hitam, dan mengenakan kain batik pada bagian pinggang. Tarian ini bertema seputar prajurit yang gagah berani dalam peperangan.

gerakan-gerakan yang dilakukan pada tarian ini yaitu simbol dari ketangkasan, keberanian, dan semangat bela negara yang ditunjukkan oleh prajurit. Tari jlantur masih sering dipentaskan pada acara-acara kebudayaan.

Tari Adat Prawiroguno

Banyak tari-tari tradisional yang menggambarkan tentang situasi peperangan. Salah satunya adalah tari prawiroguno. Tariprawiroguno merupakan suatu tari tradisional yang berasal dari Jawa Tengah yang melukiskan kondisi peperangan di masa penjajahan.

Seperti tari bertema peperangan pada umumnya, tari prawiroguno juga memiliki gerakan tari yang lincah serta dinamis. Tari ini juga menggunakan properti layaknya sedang berperang, seperti tombak dan tameng.

Tari prawiroguna khususnya menceritakan tentang kisah saat  para penjajah yang tengah terdesak dan hampir mengalami kemunduran, lalu kondisi tersebut dijadikan inspirasi untuk membuat tarian yang saat ini dikenal sebagai tari prawiroguno. Tarian ini juga menggambarkan para prajurit yang dengan heroik mengusir para penjajah. Tari ini biasanya dipentaskan untuk menyambut tamu kerajaan, acara-acara pernikahan, serta acara penobatan raja.

Tari Adat Kukila

Tari adat yang satu ini memiliki tema yang agak berbeda dengan tari-tari adat lainnya. Tari kukila memiliki gerakan-gerakan tari yang diadopsi dari gerakan yang dilakukan oleh burung. Tari kukila memperlihatkan berbagai macam gerakan burung, yang lincah, gesit, dan dinamis.

Dalam falsafah Jawa, kukila termasuk ke dalam salah satu dari lima syarat paripurnanya kehidupan seorang laki-laki. Syarat tersebut adalah rumah (wisma), istri (wanodya), kendaraan (turangga), senjata (curiga), dan burung (kukila). Kukila mengandung makna sebagai sebuah hobi atau peliharaan, yang bermanfaat untuk menghilangkan rasa penat.

Tarian ini umumnya dilakukan oleh lebih dari satu penari, tetapi bisa juga dilakukan sendiri (tunggal). Penari menggunakan pakaian yang didesain menyerupai burung, dengan menggunakan selendang. Pada bagian kepala terdapat properti seperti mahkota yang melambangkan kepala burung. Kostum yang menarik serta gerakan-gerakan yang unik membuat tarian ini cukup menghibur bagi yang melihatnya. Saat ini tari kukila masih sering dipentaskan di berbagai acara, baik di acara-acara sekolah, pernikahan, ataupun festival budaya.

Tari Adat Lengger

Tari adat berikutnya yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah yaitu tari lengger. Tari lengger adalah sebuah tarian yang dikembangkan atau diturunkan dari tari tayub. Kata lengger sendiri Tari lengger sebenarnya berasal dari dua kata, yaitu le atau tole yang berarti anak laki-laki dan ger atau geger yang berarti ramai.

Tari lengger merupakan salah satu tarian yang dipakai untuk berdakwah oleh Sunan Kalijaga. Beliau mengubah anggapan masyarakat yang pada awalnya memandang negatif tarian ini karena kental dengan unsur sensual. Sunan Kalijaga lalu memodifikasi gerakan tarian sehingga lebih bisa diterima masyarakat dan memiliki makna mendalam terutama untuk memperkenalkan ajaran Islam.

Tari ini umumya dimainkan oleh 2-4 orang penari. Saat dipentaskan, penari biasanya diiringi oleh beberapa instrumen musik, misalnya calung, gong,  kenong, gambang dan kendang. Penari menggunakan kain batik dan selendang. Tarian ini memiliki gerakan yang dinamis dan bernuansa ceria. Tempo relatif cepat dan menarik untuk ditonton. Sampai saat ini tari lengger masih sering dipentaskan terutama di acara-acara seni budaya.

Tari Adat Topeng Ireng

Tari topeng ireng memiliki latar belakang yang cukup menarik di awal perkembangannya. Tari ini pada mulanya merupakan salah satu cara masyarakat untuk berlatih bela diri namun dikamuflasekan sebagai sebuah tarian. Hal tersebut terpaksa dilakukan masyarakat karena ketika itu terdapat larangan dari pemerintah kolonial Belanda pada masyarakat untuk berlatih silat. Walau memiliki tujuan awal sebagai media latihan bela diri, namun tari ini tetap memiliki unsur seni yang menarik untuk dilihat.

Tari topeng ireng cukup berkembang di daerah Jawa Tengah, khususnya di daerah sekitar lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Magelang.  Tari ini termasuk tarian rakyat modifikasi atau kreasi baru dari tari kubro siswo. Tari topeng ireng memiliki makna mendalam pada gerakan-gerakannya. Banyak pesan-pesan tersirat mengenai kehidupan yang disampaikan melalui tarian ini.

Penari tarian ini mengenakan kostum dan properti yang cukup unik. Penari mengenakan semacam mahkota di kepalanya. Mahkota tersebut terdiri dari bulu warna-warni, ditambah dengan riasan serta kostum yang sekilas nampak seperti pakaian Suku Indian.

Tari Adat Rong Tek

Tari adat rong tek adalah tari kreasi baru dari tari longger yang berasal dari daerah Banyumas. Kata rong tek sendiri berasal dari dua kata, yaitu rong atau ronggeng yang berarti penari dan tek yang berasal dari bunyi suara kentongan bambu (bambu merupakan alat pengiring utama pada tari rong tek). Tarian ini biasa dibawakan oleh cukup banyak penari, dari 5-10 orang yang seluruhnya adalah perempuan.

Dari segi gerakan dan cerita yang dibawakan, tarian ini memperlihatkan gerakan yang dinamis, ceria, dan cenderung lucu. Gerakan-gerakan tersebut adalah simbolisasi dari kehidupan para remaja puteri yang suka bercanda dan penuh dengan kegembiraan.

Seperti halnya tari-tari kreasi baru pada umumnya, tari rong tek memiliki kostum dan properti tari yang nampak segar dan menarik. Beberapa properti yang digunakan antara lain kemben, sampur, dan juga jarik. Di bagian kepala terdapat konde serta beberapa hiasan berwarna emas atau perak. Untuk alat musik pengiring, selain kentongan bambu terdapat juga beberapa alat musik pengiring lain seperti kenong, kendang, dan gong.

Tari Adat Rancak Denok

Tari adat dari Jawa Tengah berikutnya yaitu tati rancak denok. Tarian ini berasal dari dua suku kata, yaitu rancak yang bermakna cepat atau dinamis, dan denok yang bermakna perempuan. Dari asal kata tersebut maka dapat diketahui jika tari ini dilakukan oleh perempuan dengan gerakan-gerakan yang dinamis.

Tari ini termasuk sebagai tari kreasi baru, yang memadukan berbagai gerakan  serta properti dari jenis-jenis tarian yang telah ada sebelumnya. Ciri khas dari tari ini yaitu penggunaan  topeng dalam setiap pementasannya. Tari ini sering dipentaskan di acara-acara seni dan kebudayaan.

Tari Adat Aplang

Munculnya tari yang satu ini berawal dari tradisi agama Islam yang saat itu sedang berkembang di Jawa Tengah khususnya di daerah Banjarnegara. Hal tersebut membuat tari aplang kental dengan nuansa islami, baik dari kostum serta alat musik pengiringnya seperti bedug dan rebana. Untuk syair lagunya memadukan antara bahasa Jawa sebagai bahasa asli setempat dengan bahasa Arab. Pada umumnya tari aplang dimainkan minimal oleh lima orang penari laki-laki atau perempuan. Usia penari biasanya tidak lebih dari 25 tahun.

Oleh: Riyyan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*