Sunda Wiwitan: Antara Budaya dan Agama

Indonesia mengakui adanya 5 agama yaitu Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu.

Sebagai sebuah negara yang berdiri dari sejarah panjang kerajaan-kerajaan nusantara, ternyata ada banyak budaya nenek moyang yang nyatanya tidak diketahui oleh generasi muda, salah satunya adalah Sunda Wiwitan.

Artikel ini bertujuan untuk mengenalkan budaya dan kearifan asli indonesia.

Sunda Wiwitan adalah kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di antara masyarakat adat Sunda, salah satunya pada suku Baduy.

Sunda Wiwitan dikatakan sebagai kepercayaan asli Sunda, jika merujuk pada kata “Kawit” yang menjadi dasar kata “Wiwitan” yang artinya adalah “asal” atau “asli” sehingga disebut juga “Jatisunda” dalam cerita Parahyangan.

Sunda Wiwitan merupakan aliran kepercayaan kepada nenek moyang, atau yang dikenal dengan animisme/dinamisme.

source: britagar

Sunda Wiwitan lahir jauh sebelum ajaran Hindu dan Islam masuk ke Nusantara. Sunda Wiwitan berpegang pada kitab Sanghyang Siksakanda ng Karesian, sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan, dan pelajaran budi pekerti. Kitab ini disebut Kropak 630 oleh Perpustakaan Nasional Indonesia.

Sunda Wiwitan sebagai agama

Terdapat tiga tempat (alam) dalam kepercayaan Sunda Wiwitan; Buana Nyungcung, Buana Panca Tengah, dan Buana Larang. Buana Nyungcung adalah tempat bersemayamnya Sang Hyang Kresa, terletak paling atas diantara tiga buana lainnya.

Buana Panca Tengah merupakan tempat berlangsungnya kehidupan makhluk, termasuk manusia. Terdapat 18 lapis alam di antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah. Lapis paling atas ialah Bumi Suci Alam Padang, atau yang menurut Kropak 630 bernama Alam Kahyangan atau Mandala Hyang.

Ajaran dalam Sunda Wiwitan pada dasarnya berangkat dari dua prinsip; Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa. Cara Ciri Manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia seperti welas asih dan tata krama. Sementara Cara Ciri Bangsa yaitu aspek-aspek yang membedakan antarmanusia, di antaranya rupa, adat, bahasa, aksara, dan budaya.

Bagaimana penganut Sunda Wiwitan bertahan

Sebagai kepercayaan tradisional yang dipeluk oleh hanya segelintir orang, Sunda Wiwitan tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia.

Karena itulah, sebagian besar penganut Sunda Wiwitan mengalami kesulitan ketika harus berurusan dengan birokrasi di pemerintahan.

Tidak jarang penganut Sunda Wiwitan kemudian mengalah atau bahkan berpindah agama agar bisa mendapatkan hak sebagai warga negara sepenuhnya.

Sunda Wiwitan sebagai sebuah bentuk budaya

Terlepas dari perdebatan bagaimana Sunda Wiwitan seharusnya diperlakukan dalam kacamata agama, Sunda Wiwitan tetaplah penting untuk dilestarikan sebagai sebuah bentuk budaya.

Mengacu pada definisi budaya yang menyatakan bahwa budaya termasuk meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, akhlak, hukum, adat dan kebiasaan yang dibentuk oleh kelompok masyarakat, dengan salah satu unsur budaya yaitu sistem kepercayaan, maka Sunda Wiwitan jelas bisa dikatakan sebagai warisan budaya.

Sebagai sebuah budaya, Sunda Wiwitan memegang identitas kelompok masyarakat yang melahirkanya, yaitu masyarakat Sunda. Oleh karena itu, Sunda Wiwitan penting untuk tetap dilestarikan.

oleh: caterina

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*