9 Seniman Indonesia yang Karyanya Mendunia

Indonesia  dkenal sebagai salah satu negara yang memiliki banyak seniman hebat. Beberapa dari seniman-seniman jenius tersebut telah menghasilkan berbagai karya seni yang mendapat apresiasi tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Mulai dari seni melukis, memahat, dan  karya-karya seni lainnya. Tahukah kamu siapa saja seniman-seniman kebanggaan Indonesia tersebut?

Berikut ini daftar sembilan seniman Indonesia yang karyanya telah mendunia. Yuk kita simak!

Naufal Abshar

Naufal Abshar tergolong masih muda, tapi bakat besarnya di bidang seni sepertinya sudah sangat terlihat. Hal tersebut terutama di bidang lukis. Ya, kepintarannya dalam membuat lukisan membuatnya menjadi salah satu seniman termuda yang telah menggelar pameran tunggal di Art Porters Gallery di Singapura beberapa waktu yang lalu.

Pameran bertema “Is This Fate” tersebut diinisiasi oleh seorang pengamat dari Eropa yang sepertinya tertarik setelah melihat karya-karya Naufal. Apabila diperhatikan, lukisan-lukisan yang dihasilkan Naufal memang memiliki keunikan tersendiri, sehingga menarik perhatian orang yang melihatnya.

Lukisan Naufal selalu mengandung unsur komedi di dalamnya, sehingga membuat siapapun yang melihatnya akan tersenyum atau bahkan tertawa.

Baca Juga: 23 Tips Cara Mudah Membuat Tulisanmu Jadi Menarik!

Bakat lukis lelaki yang lahir di tanggal 13 Juli 1993 terasah setelah dirinya belajar di jurusan seni di Lasalle College of the Arts, Singapura. Setelah itu, Naufal terus produktif menghasilkan karya. Karya-karyanya cukup diminati oleh para kolektor.

Tercatat kolektor dari berbagai negara, seperti Perancis, Sapnyol, Afrika Selatan, dan kolektor dari Singapura sendiri telah membeli hasil karya anak muda kebanggaan Indonesia ini.

Kesuksesan yang ia dapatkan saat ini tidak secara mulus didapatkan. Semasa kecil, Naufal sering mendapatkan ejekan dari teman-temannya di sekolah. Tidak sedikit dari mereka yang merendahkan kemampuan Naufal dalam melukis. Namun, hal tersebut tak lantas membuatnya patah semangat.

Justru hal tersebut dijadikannya sebagai motivasi tambahan untuk terus mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang seniman. Motivasinya tersebut semakin menguat setelah dirinya masuk ke  Lasalle College of the Arts di Singapura.

Ketika memasuki masa kuliah, Naufal bekerja part time sebagai art porter di Art Company Singapura. Di situ Naufal juga mencoba untuk memperkenalkan karya-karyanya pada pengunjung. Pada saat itu ketertarikan pada karya-karyanya mulai terlihat. Kariernya sebagai seorang seniman semakin terlihat. Naufal magang di Venice Biennale (selama 3 bulan).

Di tempat tersebut, Naufal banyak bertemu dan berkenalan dengan seniman-seniman lain dari berbagai negara. Salah satunya adalah pemilik sebuah galeri seni di Venesia, Italia. Tertarik dengan karya-karya Naufal, ia kemudian mengajak Naufal untuk mengadakan pameran atau eksibisi karya-karyanya di Eropa, salah satunya di Lithuania.

Setelah itu reputasi Naufal sebagai seorang seniman semakin meningkat. Ciri khas karyanya yang bernuansa gembira dengan warna-warna yang mencolok menjadi magnet tersendiri bagi para penikmat seni yang baru pertama kali melihat karya-karyanya.

Deretan prestasi terus ditorehkan Naufal. Salah satunya ketika dirinya menjadi pemenang kompetisi live painting Indonesia Art Festival tahun 2013. Naufal juga sukses menjadi wakil dari Indonesia sebagai The Youngest Fast Artist.

Affandi

Affandi Koesoema atau biasa dikenal dengan Affandi adalah salah satu pelukis legendaris yang Indonesia miliki. Popularitasnya tidak hanya sebatas di dalam negeri, tapi juga telah dikenal hingga ke luar negeri.

Beberapa bahkan menyebut Affandi sebagai pelukis asal Indonesia yang paling terkenal di dunia. Affandi memiliki karya dengan karakter yang khas pada aliran abstrak atau ekspresionisme. Sebelum namanya menjadi sangat populer, Affandi sempat melakukan berbagai jenis pekerjaan di luar bidang seni. Hal tersebut ia kerjakan untuk menyambung hidupnya.

Baca Juga: Danau Toba: Wisata Alam dan Budaya

Affandi pernah menjalani profesi sebagai guru, pembuat gambar reklame bioskop, dan tukang sobek karcis. Tapi bagaimanapun juga, Affandi tidak dapat melepaskan diri dari bidang seni yang digemarinya.

Tidak berapa lama setelah melakukan berbagai pekerjaan tersebut, Affandi kemudian kembali ke bidang seni lukis. Hal tersebut beliau lakukan dengan bergabung ke dalam sebuah kelompok lukis.

Semasa hidupnya, Affandi sangat produktif dalam menghasilkan karya. Kurang lebih sebanyak 2000 karya lukis berhasil beliau ciptakan. Sebagian karya-karyanya tersebut dipamerkan ke berbagai penjuru dunia. Walaupun punya prestasi yang gemilang dan diakui dunia, Affandi tak lantas menjadi orang yang sombong.

Pria yang lahir tahun 1907 ini dikenal rendah hati. Affandi bahkan tak sungkan menjuluki dirinya sendiri sebagai “pelukis kerbau”. Hal tersebut dilakukan karena beliau merasa bahwa dirinya adalah pelukis yang bodoh dan masih harus banyak belajar.

Affandi tidak serta merta menjadi seorang legenda lukis, khususnya pada aliran ekspresionis. Karya-karyanya dianggap memiliki keunikan tersendiri, dan bahkan menjadi salah satu tokoh pembaharu di aliran ini. Pria kelahiran Cirebon ini memiliki gaya romantisme dan ekspresionisme yang berbeda dari banyak pelukis lain.

Tidak heran jika beliau memiliki reputasi yang tinggi di level internasional.  Karya-karya beliau sering dipamerkan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan negara Eropa lainnya. Salah satu bukti betapa spesial karya-karya Affandi yaitu seringnya Affandi menggelar pameran tunggal. Totalitas dan dedikasinya yang tinggi patut menjadi contoh bagi para generasi muda. Prestasi dan capaian yang beliau dapatkan haruslah menjadi motivasi bagi seniman muda untuk terus berkarya.

Raden Syarif

Raden Saleh Sjarif Boestaman atau lebih sering dikenal sebagai Raden Syarif atau Raden Saleh merupakan salah seorang pelukis ternama dari Indonesia. Karya lukisnya telah dikenal luas secara internasional. Raden Syarif memiliki jejaring pertemanan yang luas karena sifatnya yang luwes dan ramah dalam bergaul.

Hal tersebut membuatnya punya banyak kenalan terutama di negara-negara Eropa, seperti Rusia, Belanda, Inggris, dan Austria. Bahkan nama Raden Syarif cukup disegani dan diapresiasi hasil karyanya oleh para bangsawan dan keluarga kerajaan Inggris.

Hal tersebut antara lain bisa dilihat dari banyaknya penghargaan yang ia raih, misalnya   bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), Ksatria Orde Mahkota Prusia (R.K.P.), dan Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.). Pengharggan tersebut tentu cukup membanggakan mengingat tidak sembarang orang yang mendapatkannya.

Penghargaan juga beliau raih di dalam negeri. Pada tahun 1969, pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penghargaan kepada Raden Syarif secara anumerta berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi pemerintah Indonesia terhadap Raden Syarif yang dianggap memiliki jasa besar untuk Indonesia di bidang seni.

Baca Juga: Tempat Wisata Recomended Sekitar Kota Bandung

Bentuk kepedulian lain juga dilakukan pemerintah Indonesia, misalnya dengan memugar makam beliau yang ada di Bogor. Pemugaran tersebut dilaksanakan oleh Ir. Silaban atas perintah presiden Indonesia saat itu, yaitu Ir. Soekarno.

Lukisan-lukisan asli karya Raden Syarif digunakan untuk desain ilustrasi beberapa benda berharga negara, seperti perangko seri Raden Saleh. Pada perangko tersebut nampak gambar yang pernah dibuat oleh Raden Saleh berupa gambar dua ekor hewan buas yang tengah bertarung.

Raden Saleh juga membuat Indonesia bisa berbangga karena beliau menjadi satu dari sedikit (atau bahkan satu-satunya) seniman Indonesia yang karyanya  dipamerkan di museum-musem besar, seperti di Amsterdam Belanda (Rijkmuseum) dan Paris Perancis (Louvre).

Raden Saleh lahir pada tahun 1807 dan meninggal pada tahun 1880. Raden Saleh berasal dari keluarga ningrat dan memiliki garis keturunan Jawa-Arab. Minat dan bakatnya di bidang seni lukis mulai nampak saat dirinya bersekolah di Sekolah Rakyat.

Raden Saleh menjadi salah satu pelukis yang menjadi pelopor seni modern di Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Lukisan yang beliau ciptakan sarat dengan budaya Jawa yang merupakan latar belakang beliau, dengan dipadu sentuhan-sentuhan romantisme yang ketika itu sedang populer terutama di Benua Eropa.

Darbotz

Darbotz adalah salah satu seniman muda Indonesia yang karyanya cukup mendunia. Nama Darbotz sendiri sebenarnya bukanlah nama asli, melainkan hanyalah sebuah nickname atau nama panggilan saja. Darbotz dikenal sebagai pembuat mural dengan karakter yang khas.

Seni mural memang masih dianggap sebagian orang sebagai seni yang kurang bagus karena mengotori kota. Namun dengan sentuhan ala Darbotz, seni mural buatannya memiliki kualitas tersendiri sehingga mendapat apresiasi dari banyak orang. Keahliannya tersebut juga telah ia tunjukkan dengan membuat mural di berbagai negara, seperti Singapura, Filipina, Australia, dan Hongkong. Karya-karya muralnya juga dipamerkan hingga negara-negara Eropa.

Tertarik dengan karyanya, sebuah perusahaan sepatu ternama asal Amerika Serikat mengajaknya untuk berkolaborasi. Kolaborasinya tersebut terbilang sukses besar, di mana koleksi sepatu dengan karya Darbotz tersebut cukup laris di pasaran, terutama di Brazil dan Jepang.

Berbicara mengenai seni mural, seni ini memang tak bisa lepas dari identitas kota. Lukisan-lukisan pada dinding rumah, kantor, ataupun hotel menjadi salah satu penghias kota dan menjadi ekspresi kehidupan masyarakat yang tinggal di sana.

Bagi sang pembuat mural, lukisan yang ia buat tersebut adalah salah satu caranya untuk mengekspresikan diri sekaligus menuangkan segala uneg-unegnya mengenai kota tersebut. Beberapa bahkan menjadikan mural sebagai sarana untuk kritik sosial baik kepada masyarakat maupun pemerintah.  Termasuk di dalamnya adalah Darbotz. Mural buatan Darbotz tidak hanya menarik untuk dipandang, tetapi juga memiliki makna tersirat di dalamnya.

Awal mula ketertarikan Darbotz terhadap seni mural yaitu ketika dirinya SMA. Ketika itu Darbotz sangat menggemari untuk membuat mural dengan teman-temannya. Walaupun saat itu hanya sebatas mencoret-coret tembok yang unsur seninya sedikit sekali. Seringkali kebiasaannya tersebut membawa sedikit masalah.

Darbotz dan teman-temannya kerap berurusan dengan pihak keamanan karena perbuatannya dianggap merusak pemandangan. Meskipun demikian, Darbotz tidak menghentikan kebiasaannya tersebut. Darbotz terus melatih kemampuannya dalam membuat mural. Mural buatannya semakin indah hingga kemudian dapat meyakinkan aparat bahwa apa yang dilakukannya bukan untuk mengotori tembok, melainkan untuk memperindahnya.

Karya-karya Darbotz dapat kita temui di berbagai sudut Kota Jakarta. Bahkan karena keunikannya, karya Darbotz juga cukup sering masuk ke galeri seni. Tidak hanya di Indonesia, karya-karyanya juga tersebar ke banyak negara. Beberapa menjadi koleksi salah satu galeri ternama di Singapura, yaitu Mizuma Gallery.

I Nyoman Nuarta

I Nyoman Nuarta adalah pematung asal Bali yang karya-karyanya mendapat apresiasi dunia.  Namanya jadi salah satu yang paling populer jika membahas tentan seni patung di Indonesia.

Sepanjang kariernya, I Nyoman sangat produktif dalam menghasilkan karya. Tercatat kurang lebih ratusan patung telah ia buat, khususnya patung berukuran besar. Salah satu karya ciptaannya yang dikenal luas yaitu patung Garuda Wisnu Kencana di Bali. Patung berukuran raksasa ini memiliki bentuk dan ukiran yang indah, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Bali.

Baca Juga: Cara dan Strategi Meringankan Biaya Kuliah, Cekidot!

Namanya cukup dikenal secara internasional karena dirinya cukup rajin mengikuti berbagai pameran seni di mancanegara. Kecintaan I Nyoman Nuarta pada seni salah satunya berkat pengaruh dari pamannya, yaitu Ketut Dharma Susila. Pamannya yang merupakan guru seni rupa mendidik dan mengajarkan I Nyoman Nuarta mengusai berbagai keterampilan di bidang seni. Hingga kemudian lulus SMA, I Nyoman Nuarta lalu memilih untuk mengambil jurusan seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Hal tersebut ia lakukan agar bakatnya di bidang seni dapat lebih terasah.

Tidak berselang lama, I Nyoman Nuarta kemudian memutuskan untuk keluar dan masuk ke jurusan seni patung, yang menurutnya lebih sesuai dengan minatnya. Di sini kemampuannya dalam membuat patung mengalami perkembangan. I Nyoman Nuarta mengikuti lomba Patung Proklamator Republik Indonesia, dan berhasil menjadi pemenangnya. Sejak kemenangan tersebut, reputasi pria kelahiran 1951 ini sebagai pematung handal makin dikenal publik.

I Nyoman Nuarta berhasil mendapat gelar sarjana seni rupa di ITB. Setelah itu, kariernya di bidang seni patung makin melejit. Nyoman Nuarta tercatat sebagai salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru pada tahun 1976. Selain Garuda Wisnu Kencana dan Monumen Proklamasi Indonesia, karya besar lain dari lelaki kelahiran Tabanan Bali ini yang cukup populer adalah   Monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya.

I Nyoman Nuarta telah membangun sebuah taman patung yang diberi nama NuArt Sculpture Park. Nuarta membangun taman tersebut di Kota Bandung, tempat di mana dirinya menetap sekarang. Di dalam taman tersebut, terdapat berbagai jenis dan bentuk patung dengan berbagai ukuran. Areal taman seluas tiga hektare tersebut menjadi satu tempat di mana orang-orang dapat menikmati dan mengapresiasi karya patung buatannya.

Selain membuat taman patung, I Nyoman Nuarta merupakan pemilik dari Studio Nyoman Nuarta, Pendiri Yayasan Mandala Garuda Wisnu Kencana, Komisioner PT Garuda Adhimatra, dan Komisioner PT Nyoman Nuarta Enterprise. I Nyoman Nuarta juga aktif dalam pergaulan internasional, dengan tergabung dalam organisasi seni patung internasional, seperti International Sculpture Center Washington (Washington, Amerika Serikat), Royal British Sculpture Society (London, Inggris), dan Steering Committee for Bali Recovery Program.

Basuki Abdullah

Selain Affandi, salah satu nama lain yang dikenal sebagai pelukis legendaris Indonesia adalah Basuki Abdullah. Basuki Abdullah, atau biasa dipanggil Basuki lahir pada tahun 1915. Basuki merupakan pelukis yang beraliran naturalis atau realis.

Ketika itu tidak banyak pelukis yang memiliki kemampuan sebaik Basuki di aliran ini. Bakat besar Basuki sepertinya diturunkan dari sang ayah, Abdullah Suirosubroto. Abdullah Suriosbroto adalah seorang seniman di bidang tari dan lukis. Latar belakang sang ayah membuat Basuki sejak kecil tidak jauh dari dunia seni, sehingga bakatnya di bidang ini jadi lebih terasah.

Diceritakan bahwa Basuki sudah mulai menggambar sejak berusia empat tahun. Di usia yang masih belia tersebut, bakat Basuki sudah menunjukkan potensi besarnya. Basuki dapat menggambar banyak tokoh-tokoh terkenal, antara lain  Rabindranath Tagore dan Mahatma Gandhi.

Untuk terus mengasah kemampuannya di bidang seni lukis, Basuki meneruskan studinya ke Den Haag, Belanda. Potensinya semakin menonjol. Basuki kala itu sukses menjadi pemenang sayembara lukis yang diselenggarakan oleh Ratu Yuliana. Kemenanangan yang cukup membanggakan, mengingat sayembara tersebut cukup bergengsi karena diikuti oleh sekitar 87 pelukis asal eropa. Prestasi tersebut kemudian makin mempopulerkan nama pria yang meninggal di usia 87 tahun tersebut.

Basuki cukup aktif menghasilkan karya. Banyak karya lukis beliau yang dipamerkan di luar negeri. Kemampuannya yang istimewa kemudian menarik minat pemerintah Indonesia menggunakan jasanya. Di tahun 1974, Basuki ditunjuk sebagai pelukis resmi di Istana Merdeka. Hingga kini, banyak lukisan-lukisan karya Basuki yang dapat dijumpai di istana-istana negara.

Basuki lahir dan besar di Solo. Pada masa Pemerintahan Jepang, Basuki  bergabung dalam Gerakan Poetra atau PTR. Basuki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (Pusat Kebudayaan punya pemerintah Jepang).

Basuki cukup sering berkunjung ke berbagai negara Eropa untuk memperdalam ilmu lukisnya. Basuki tidak segan untuk belajar dari pelukis-pelukis laindi Perancis dan Italia yang dikenal memiliki reputasi dunia. Basuki Abdullah dikenal sebagai  pelukis potret ( keluarga kerajaan dan kepala negara serta wanita-wanita cantik).

Selain sebagai pelukis potret yang handal, Basuki juga sering menggambar keindahan alam, termasuk flora dan fauna di dalamnya. Basuki juga sering melukis peristiwa-peristiwa penting di Indonesia, seperti gerakan perjuangan, aktivitas pembangunan, dan lain-lain.

Bayu Santoso

Bayu Santoso adalah salah satu nama yang cukup membanggakan nama Indonesia. Lelaki yang lahir 16 September 1994 ini sukses menjadi pemenang sebuah kompetisi desain cover album band ternama asal Amerika Serikat, Maroon 5.

Pada kompetisi tersebut Bayu mampu mengalahkan banyak seniman dari berbagai dunia, bahkan beberapa diantaranya memiliki reputasi yang cukup bagus. Padahal sebelumnya Bayu Santoso tidak memiliki latar belakang sebagai seorang seniman. Bayu hanyalah seorang mahasiswa biasa.

Ketertarikannya untuk mengikuti kompetisi tersebut lebih karena dirinya menggemari band tersebut dan mencoba untuk berpartisipasi. Maka tak heran Bayu sangat kaget ketika dirinya diumumkan sebagai pemenang. Terlebih lagi desain yang ia buat tersebut dibuat dengan waktu yang mepet. Desain yang dibuat Bayu memang tergolong unik, mungkin bisa juga dikatakan berani.

Bayu memadukan ornamen barat dengan ornamen Indonesia pada gambar harimau yang ia jadikan sebagai objek utama. Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yoyakarta tersebut memang sering memenangi berbagai kompetisi desain. Selain menjadi pemenan kompetisi desain album Maroon 5, Bayu juga pernah keluar sebagai pemenang pada kompetisi poster musisi ternama lain. Hal tersebut membuktikan bahwa seniman Indonesia memiliki kemampuan yang tak kalah dengan seniman di negara-negara lain.

Pria kelahiran Yogyakarta ini ia mengambi jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sejak berkuliah di sana, kemampuan Bayu dalam membuat desain kian terasah. Bayu juga makin sering mengikuti perlombaan desain.

Bayu terus menekuni bidang desain dan terus berkarya, karena baginya di bidang inilah bakat dan minat yang ia miliki.  Meskipun desainer belum sepenuhnya mendapat apresiasi yang layak khususnya di Indonesia, namun Bayu tetap optimis jika seiring berjalannya waktu hal tersebut akan berubah.

Roby Dwi Antono

Indonesia terbukti memiliki banyak pelukis bertalenta. Salah satu nama terbaru yang muncul yaitu Roby Dwi Antono. Roby adalah pelukis beraliran pop surealis. Lukisan buatan Roby memadukan unsur-unsur imajinatif yang menarik untuk dilihat.

Roby juga terkadang menambah unsur lain pada karyanya, seperti drama melankolis, horor, dan detail-detail lain yang membuat karyanya makin unik. Banyaknya unsur yang ia tambahkan tersebut juga membuat karya-karyanya dapat dinnterpretasi dari berbagai sudut pandang, sehingga jadi menarik untuk didiskusikan.

Keunikan lukisan karya  lelaki yang lahir pada tanggal 30 Oktober 1990 ini cukup menarik perhatian galeri-galeri seni mancanegara. Karyanya telah seri dipamerkan di banyak pameran bergengsi dunia, misalnya Art  Phillipine, Art Fair Tokyo, dan Art Stage Singapura.

Pria yang lahir di Semarang ini telah menyukai seni lukis sejak umurnya masih kecil. Menurut penuturannya, dia menyebut bahwa pada awalnya menggambar adalah caranya untuk mengusir kebosanan. Kariernya sebagai pelukis mulai menemui titik terang ketika Roby mengambil jurusan Desain Grafis di Sekolah Menengah Kejuruan Grafika Banyumanik.

Berhasil lulus, Roby lalu mendapat kesempatan bekerja sebagai desainer rafis di sebuah perusahaan di Yogyakarta. Mulai dari situlah kemudian Roby makin mengeksplorasi kemampuannya hingga akhirnya memutuskan untuk mencoba melukis di atas kanvas.

Berkat bantuan dan tawaran dari temannya, Roby menggelar pameran tunggal pertamanya bertema Pilu Lalu pada taun 2012. Setelah itu Roby memutuskan untuk beralih fokus menjadi seniman sepenuhnya.

Gregorius Sidharta

Gregorius Sidharta Soegijo atau lebih dikenal dengan nama  Gregorius Sidharta adalah salah satu pelukis dan pematung yang cukup populer di Indonesia. Sidharta dianggap sebagai tokoh pembaruan seni patung Indonesia. Karya patung buatannya berjudul Tangisan Dewi Betari jadi salah satu karya yang melejitkan namanya. Patung karyanya tersebut kini menjadi salah satu koleksi museum yang ada di Jepang.

Kemampuan Sidharta dalam membuat patung memang patut diacungi jempol. Tidak hanya membuat patung dari bahan batu atau kayu, Sidharta juga kerapkali membuat patung dengan bahan-bahan lain yang tergolong tak biasa. Hal tersebut membuat karya-karyanya selalu memiliki daya tarik tersendiri.

Tak heran jika pematung yang tutup usia pada tahun 2006 ini sering diundang untuk membuka pameran di berbagai negara.

Gregorius Sidharta lahir di Yogyakarta, 30 November 1932 dan tutup usia di Surakarta 4 Oktober 2006 diusia 73 tahun. Sidharta adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Sidharta pertama kali mendalami seni lukis di Sanggar Pelukis Rakyat, Yogyakarta.

Setelah itu, Sidharta melanjutkan pendidikannya di Akademi Seni Rupa Indonesia yang masih berada di kota yang sama. Sidharta sempat mempelajari dasar-dasar melukis dari tokoh-tokoh pelukis seperti Hendra Gunawan dan Trubus pada th 50-an, 3 Tahun Kemudian ia dikirim belajar di Jan van Eyck Academie, Belanda.

Karya sidharta antara lain:

  • Tonggak Samudra, monumen Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta Utara
  • Garuda Pancasila” di atas podium Gedung MPR/DPR
  • patung Bung Karno di makamnya di Blitar

Ia pernah menampilkan karya-karyanya di pameran Taman Patung Olimpiade Seoul, Korea Selatan (1986), Taman Patung ASEAN di Manila, Filipina, pameran patung di Plaza Elgala di Fukuoka, Jepang.

Oleh: Riyyan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*