Sejarah Adu Bagong Di Bandung Timur

Setiap wilayah di belahan tanah air ini, memiliki beragam budaya, serta kearifan lokal yang kita pun harus sama-sama memahaminya dan menjadi maklum, karena sudah menjadi akulturasi budaya yang sudah turun temurun, terlepas dari nilai-nilai lain yang mengikat.

Yang jelas, jika kita memandang keragaman dan kekayaan budaya di negeri ini, maka tak ada hal yang perlu disangsikan.

Sama seperti budaya Adu Bagong yang menjadi sarana hiburan bagi masyarakat di Bandung Timur, tepatnya daerah Majalaya. Ada satu kebiasaan penduduk setempat khususnya, dan umumnya mereka yang memahami betul budaya di wilayah Bandung, Jawa Barat.

Tradisi adu bagong itu dimana hewan Babi Hutan dan Anjing disatukan dalam satu arena, saat kedua binatang tersebut sudah berada di dalam area tempat pertandingan, maka anjing akan terus memburu Babi Hutan, Babi Hutan sendiri sekuat tenaga harus menghindari serangan atau terkaman dari Anjing yang cukup buas untuk memangsa.

Ada dua kemungkinan, Babi Hutan tersebut kalah dalam pertarungan dan bisa jadi Anjing pun kalah dengan terjangan si Babi Hutan.

Aturan mainnya, kedua binatang tersebut diberikan waktu selama 5-10 menit tergantung kesepakatan atau aturan main yang berlaku di setiap wilayah.

Binatang-binatang tersebut dibiarkan untuk saling menyerang, jika Anjing mampu menggigit Babi Hutan maka Anjing dinyatakan sebagai pemenang, namun tidak melulu anjing yang menyerang bahkan Babi Hutan sendiri memiliki cara untuk melakukan perlawanan.

Tradisi ini sudah sejak 1960-an yang dilakukan penduduk Jawa Barat khususnya pedalaman Bandung, dan sudah turun temurun.

Dahulu, Binatang Anjing digunakan untuk memburu Babi Hutan yang kerap mengganggu atau merusak perkebunan warga. Untuk itulah warga memelihara anjing sebagai binatang yang memburu Babi Hutan tersebut. Gunanya untuk menjaga agar lading atau perkebunan mereka tidak lagi diganggung oleh Babi-Babi liar tersebut.

Bagong sendiri adalah Bahasa sunda yang artinya adalah Babi. Untuk itulah, nama Adu Bagong diartikan sebagai pertarungan antara Anjing dan Babi Hutan.Babi yang menang dalam pertandingan akan diobati lagi lukanya, dan jika Babi tersebut kalah maka dagingya akan dijual.

Ada asumsi sejarah lain yang menyatakan, bahwa tradisi tersebut sebagai bentuk cara warga menyelamatkan kampungnya dari gangguan Babi-Babi hutan yang bukan saja menyerang perkebunan, bahkan ada juga Babi Hutan yang memang liar dan sering masuk ke perkampungan untuk menyerang binatang ternak, dan tidak kemungkinan warga pun terancam dengan kehadiran Babi-Babi Hutan yang kerap masuk ke pekarangan rumah warga.

Tradisi Adu Bagong pun sebagain warga menganggap, bahwa tradisi ini sebagai bentuk menekan jumlah populasi Babi Hutan yang setiap hari terus bertambah, dan semakin meresahakan warga.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini sering mendapatkan protes dari sejumlah aktifitas pecinta binatang, namun bagi Sebagian warga atau para penggiat tradisi ini justru menganggap bahwa kegiatan ini menjadi sumber pendapatan bagi mereka, disamping sarana hiburan.

Namun dewasa ini, untuk mencari tradisi Adu Bagong sudah terbilang Langkah, dikarenakan Pemda melarang bentuk tradisi atau permainan yang kerap dijadikan ajang taruhan, bukan semata-mata sebagai tradisi, disamping itu sudah banyaknya protes dari beberapa penggiat lingkungan yang menganggap tradisi ini terbilang kejam dan sadis.

Semua kita kembalikan kepada penilaian masing-masing, tetap mengedepankan kebijakan dan peraturan yang berlaku di negara Republik Indonesia serta mengedapankan Langkah terbaik untuk tetap budaya ini tidak terkikis zaman dan dapat dilestarikan.

oleh: emhalbana

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*