Robot Reptil: Dari Alam untuk Alam

Robot Reptil
Robot Reptil

Kepintaran manusia memang tidak ada habisnya. Kecanggihan demi kecanggihan akan terus tercipta demi mengikuti kemajuan dunia. Sudah banyak penemuan – penemuan baru yang dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Bahkan sudah ada robot canggih yang sangat mirip sekali dengan manusia. Jepang memang berkembang dengan cepat, setelah anime dan manga yang mendunia sekarang robot yang hampir mirip dengan manusia diciptakan.

Tapi ada yang menarik dari robot – robot lainnya. Jika robot lain harus bekerja di tempat – tempat pada umumnya, beda dengan robot satu ini. Jauh dari kebisingan robot ini ditemapatkan untuk memata – matai kehidupan pedalaman predator. Sengaja ditempatkan jauh di pedalaman Afrika untuk mempelajari kehidupan sang reptil ini.

Penemu Robot Reptil

EPFL (École polytechnique fédérale de Lausanne) adalah penemu robot reptil yang berlokasi di Lausanne, Swiss. EPFL sendiri merupakan sebuah Universitas Sains yang hingga sekarang bekerja sama dengan Universitas berbahasa Jerman, ETH Zurich. 2 universitas ini akhirnya bergabung dan membentuk domain Institut Teknologi Konfederasi Swiss (ETH) yang sama sekali tidak bergantung dengan Departemen Urusan Ekonomi Federal. Universitas ini juga dapat mengoperasikan reaktor nuklir Crocus, reaktor Tokamak Tenaga Fusi, Blue Ginie / Q Supercomputer serta fasilitas P3 bio-hazard.

Robot Reptil
Robot Reptil / epfl

Menurut situs resminya di epfl.ch BioRob (Birorobotics Laboratory)telah meluncurkan kedua robot ciptaannya, yaitu buaya dan kadal untuk mempelajari kehidupannya lebih dekat. EPFL sendiri bekerjasama dengan BBC chanel untuk memproduksi sebuah film dokumentari ini.

Dengan pembuatan robot reptil seperti buaya ini sangat lah membantu mengetahui lebih dalam kehidupan alam liarnya. Jika kamu adalah salah seorang yang pernah melihat kedekatan antara manusia dan buaya mungkin artikel ini membantu semua kebingungan kamu. Ya, tentu saja buaya itu adalah hasil rekaya luar biasa dari tangan seorang manusia. Tidak tanggung – tanggung bentuk dan penampilannya pun benar – benar diciptakan sedemikian rupa hingga sangat lah mirip dengan bentuk aslinya.

baca Juga: OZOBOT: Robot Kecil Edukatif untuk Pembelajaran STEM

BioRob

Sudah banyak robot – robot hasil ciptaan dari Laboratorium Biorob ini. Dari Amphibot, Salamandra Robotica, Boxybot, Pleurobot dan masih banyak lagi lainnya. Namun yang menarik perhatian dari semua proyek adalah Amphibot robot amphibi yang berbentuk panjang seperti ular.

Rancangan Robot Reptil / epfl

Amfibi sendiri didefinisikan sebagai hewan bertulang belakang yang dapat hidup di dua alam sekaligus seperti di darat dan di air. Hewan amfibi itu sendiri seperti ada yang mirip kadal, katak bangkong, katak hijau serta Ichthyosis glutinosus. Tapi justru robot ini malah berbentuk mirip seperti ular yang bukan tergolong hewan amfibi (Source : biorob.epfl).

Bahan Pembuatan Robot

Seperti penjelasan sebelumnya, kedua reptil ini sangat lah mirip dengan hewan aslinya. Bahan yang diaplikasikan pun tidak lah sembarangan. Bahan yang digunakan antara lain adalah motor, aluminium dan serat karbon untuk meniru sendi dan tulang hewan – hewan itu. Untuk lebih memudahkan pergerakannya mereka juga menghubungkan 24 motor ke komputer kecil agar kedua reptil ini dapat dengan mudah dikendalikan dari jarak jauh hingga radius 500 m atau kurang lebih 1.640 kaki. Untuk kulitnya sengaja dipilihkan bahan latex tahan air, karena mengingat robot ini akan selalu berlokasi di perairan tempat reptil lainnya hidup.

Robot Reptil / epfl

Alasan Terciptanya Dua Robot Reptil

Menariknya Kamilo Melo, ilmuwan EPFL, dan kolega ternyata selama bertahun – tahun sudah mempelajari gerakan – gerakan buaya dan kadal itu. Seperti dikutip dari website steemit.com Kamilo Melo mengatakan bahwa kepentingan ilmiah mereka pada dasarnya menggunakan mata pelajaran Biologi untuk menciptakan robot – robot yang lebih baik lagi, yang pada akhirnya nanti robot itu akan digunakan untuk belajar Biologi.

Bionform adalah alasan kenapa kedua reptil itu tercipta. Pengambilan informasi dari Biologi lah bahan dasar mereka yang kemudian menginformasikan desain robot. Sebelumnya mereka menggali informasi yang didapat dari Biologi dan melakukan semua percobaan, melakukan pengukuran secara Biologi yang pada akhirnya semua data yang didapat akan diaplikasikan pada robot – robot reptil tersebut. Dengan adanya semua percobaan ini secara tidak langsung mereka mempelajari pergerakan dari hewan nyata (source : roboticstrends).

Baca Juga: Family Hub: Kulkas Canggih dan Pintar dari Samsung

Mata – Mata Alam Liar

Tidak bisa dibayangkan jika kamu harus tinggal dekat bersama reptil – reptil di alam liar, bukan? Semua reptil pasti akan berbondong – bondong mendekati tubuhmu karena bentuk dan penampilan yang berbeda dari mereka. Tentu saja bukannya jadi teman malah kamu akan jadi santapan besar untuk reptil buas seperti buaya. Buaya memang dikenal sebagai hewan buas yang tidak kenal pertemanan. Belum tentu memeliharanya dari kecil tidak akan menghilangkan sifat alaminya, buas dan liar. Oleh karena itu, robot ini sengaja diciptakan dengan kamera pengintai di bagian matanya guna mengamati, merekam serta mempelajari kehidupan nyata di alam liar. Peran dari kedua robot reptil ini sangat lah penting bagi penelitian laboratorium Biorob, yaitu melakukan pencarian dan penyelamatan.

Belajar Dari Alam

Demi mendalami kehidupan alam liar pun kedua robot reptil ini di tempatkan di Sungai Neil, Uganda, sebuah medan sempurna untuk menguji ketahan robot tersebut selama dua minggu untuk mencari kehidupan reptil sesungguhnya. Murchison Falls Natural Park merupakan tempat medan dimana kedua reptil robot tersebut ditempatkan. Murchison Falls Natural Park sendiri adalah taman nasional yang berlokasi di Uganda yang dikelola oleh Uganda itu sendiri. Di taman tersebut memiliki suhu setinggi 70 derajat celcius persis di dalam kulit latex. Tempat ini pun lembab, berdebu serta berlumpur. Situasi ini menjadi tantangan besar untuk sebuah penelitian kehidupan alam liar reptil.

Robot – robot reptil ini sengaja di tempatkan di pinggir sungai serta menyusuri sungai tersebut untuk lebih memastikannya. Secara tidak langsung mereka telah mempelajari seluk beluk lingkungan hewan reptil ini agar dapat menjadi bahan informasi yang lebih akurat lagi. Kemungkinan dengan adanya robot – robot ini di masa akan datang akan lebih di perbanyak lagi untuk membantu manusia dalam bencana darurat, seperti setelah gempa bumi. Fungsinya pun untuk membantu manusia dalam melakukan pencarian korban yang tertimbun. Jadi secara tidak langsung juga dapat mengurangi angka kecelakaan tim penyelamat yang tengah membantu.

Menurut Tomislav Horvat, ilmuan EPFL, mengatakan bahwa sebuah keberanian besar menempatkan kedua reptil tersebut ke alam liar langsung.

Sampai sekarang laboratorium Biorob masih melakukan penelitian untuk meningkatkan pembelajaran Biologi. Namun sayangnya robot ini tidak diperjualbelikan seperti halnya robot – robot lainnya yang telah dijual di Amazon. Karena bentuk dan penampilannya yang hampir mirip hewan reptil sungguhan , maka nilainya sendiri tidak lah terhitung. Mengingat untuk meningkatkan pembelajaran di Universitas Biologi.

Jadi jangan heran jika kamu melihat kedekatan intens antara manusia dan reptil tersebut. Belum tentu hewan itu adalah hewan asli yang sering berjemur di pinggiran sungai. Siapa tahu saja hewan itu adalah salah satu robot buatan Biorob, bukan?

1 Trackback / Pingback

  1. Beberapa Kamera Canon Yang Wajib Dicoba Para Youtuber - INSFIRA

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*