Nama Pakaian Adat Sumatera Barat (Minangkabau)

Provinsi Sumatra Barat merupakan sebuah provinsi yang memiliki keragaman seni dan budaya yang tinggi.

Nilai-nilai seni dan budaya yang tinggi tersebut salah satunya tercermin dari pakaian adat yang dimiliki oleh provinsi yang berada di bagian barat Indonesia ini.

Sumatra Barat memiliki pakaian adat yang indah dan memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan pakaian adat dari provinsi atau daerah lain.

Pakaian adat Sumatra Barat beserta dengan beragam aksesorisnya banyak terinspirasi oleh keindahan alam yang ada di Sumatra Barat, karakteristik masyarakat, serta berbagai macam bangunan atau benda yang menjadi kekhasan salah satu provinsi yang ada di Pulau Sumatra ini.

Hal tersebut misalnya nampak pada salah satu jenis aksesoris pada pakaian adat Sumatra Barat yang berbentuk seperti perahu terbalik atau atap dari rumah adat Sumatra Barat, rumah gadang.

Berbagai bentuk pakaian adat Sumatra Barat berasa dari kebudayaan Suku Minangkabau yang menempati wilayah tersebut. Masyarakat Suku Minangkabau masih menjaga kebudayaan leluhur mereka hingga saat ini, termasuk juga dengan pakaian adatnya, yang masih sering dikenakan pada acara-acara tertentu.

Selain untuk tetap melestarikan budaya, hal tersebut juga menjadi salah satu daya tarik bagi para turis untuk datang ke Sumatra Barat.

Berikut ini adalah daftar beberapa pakaian adat Provinsi Sumatra Barat. Mari kita simak!

Deta

Deta merupakan sebuah penutup kepala tradisional Sumatra Barat yang digunakan oleh para pria. Deta digunakan dengan cara dililitkan pada bagian kepala.

Cara penggunaan deta ini mirip dengan cara penggunaan penutup kepala orang Jawa yang disebut udheng. Baik Deta maupun udheng sama-sama dipakai dengan cara dililitkan pada kepala.

Pada umumnya deta memiliki warna dominan hitam. Namun seiring dengan perkembangan jaman, kini deta juga tersedia dengan berbagai variasi warna. Penutup kepala yang satu ini terbuat dari kain yang memiliki bentuk  segitiga, di mana bagian lancipnya haruslah berada di bagian depan kepala.

Meskipun nampak sederhana, terdapat beberapa aturan dalam menggunakannya. Tingkatan deta dapat dibedakan berdasarkan strata sosial atau marga dari sang pemakai. Terdapat jenis deta yang biasa dipakai oleh seseorang yang berkedudukan sebagai raja. Deta raja yang digunakan raja biasanya memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan deta pada umumnya.

Terdapat juga jenis deta yang biasa dikenakan bersamaan dengan baju penghulu, yang disebut deta saluak batimbo. Deta saluak batimbo adalah deta yang dipakai oleh para pemangku adat. Jenis deta yang biasanya digunakan oleh masyarakat antara lain deta ameh dan deta cilien manurun.

Dua jenis deta tersebut memiliki tampilan yang lebih sederhana dibandingkan dengan deta raja deta saluak batimbo. Deta ameh dan deta cilien manurun umumnya digunakan dalam keseharian.

Tengkuluk

Selain deta, Suku Minangkabau juga memiliki jenis penutup kepala lain bernama tengkuluk. Berbeda dengan deta yang nampak lebih sederhana, tengkuluk memiliki bentuk yang lebih unik.

Tengkuluk adalah sebuah penutup kepala yang memiliki kemiripan bentuk dengan atap rumah gadang atau sekilas seperti kepala hewan kerbau. Pada bagian atas tengkuluk terdapat bentuk mahkota perahu yang dinamai tingkolok bertanduk.

Bentuk tengkuluk tentu memiliki makna filosofis di dalamnya. Bentuk tingkolok bertanduk merupakan simbolisasi dari karakter dan identitas masyarakat Suku Minangkabau atau masyarakat Sumatra Barat pada umumnya. Bentuk penutup kepala ini juga menjadi tanda perlambang bahwa sang pemakai merupakan pemilik dari ruamh gadang.

Jika deta digunakan oleh kaum laki-laki, maka tengkuluk ini biasa digunakan oleh kaum perempuan. Tengkuluk biasanya dipakai bersamaan dengan pakaian bando kanduang.

Tengkuluk sering digunakan pada berbagai upacara adat masyarakat Suku Minangkabau. Namun tidak berarti tengkuluk hanya dipakai ketika acara-acara adat tertentu saja, karena penutup kepala yang satu ini juga umum digunakan masyarakat pada keseharian.

Bundo Kanduang

Bundo kanduang adalah pakaian adat yang seringkali dipakai oleh para perempuan Suku Minangkabau atau Sumatra Barat. Nama pakaian tersebut memiliki kemiripan nama dengan nama salah satu pakain adat dari Aceh, tetapi masing-masing memiliki ciri tersendiri yang membedakan satu sama lain.

Persamaan nama tersebut adalah hal yang wajar mengingat wilayah Aceh dan Sumatra Barat yang cukup berdekatan serta memiliki akar kebudayaan yang sama, yaitu Melayu.

Perbedaan antara bundo kanduang dari Aceh dengan bundo kanduang dari Sumatra Barat antara lain dapat dilihat dari macam penutup kepalanya. Pada bundo kanduang Aceh, pada penutup kepalanya terdapat mahkota yang lebih ramai.

Sedangkan bundo kanduang Sumatra Barat ini biasanya dilengkapi dengan penutup kepala bernama tingkolok bertanduk yang nampak lebih sederhana tapi elegan, serta bawahan sarung. Sarung terbuat dari kain dengan dihiasi oleh corak motif khas daerah Sumatra Barat yang indah.

Bordir yang memakai benang berwarna emas membuatnya terkesan mewah dan menarik perhatian mata. Bundo kanduang sampai saat ini masih sering digunakan baik pada acara-acara adat maupun festival-festival budaya.

Galang

Aksesoris lain yang melengkapi pakaian adat Sumatra Barat yaitu galang. Galang, atau gelang, merupakan aksesoris pelengkap yang biasa digunakan bersamaan dengan pakaian bundo kanduang. Galang dikenakan dibagian lengan sebagai perhiasan yang menambah cantik perempuan yang memakainya.

Masyarakat Suku Minangkabau umumnya memang tidak menggunakan terlalu banyak perhiasan. Hal tersebut karena menyesuaikan dengan pakaian yang yang biasanya sudah memiliki banyak motif di dalamnya, sehingga perhiasan hanya diperlukan sebagai pelengkap.  Ditambah lagi dengan bawahan berupa rok ataupun kain songket yang juga sudah cukup memberikan kesan mewah.

Galang bisa dikatakan sebagai salah satu aksesoris yang juga sering dikenakan oleh perempuan Suku Minang pada kesehariannya. Galang sendiri terdiri dari beberapa sebutan atau nama tergantung dari jenisnya, antara lain galang rago-rago, galang bapahek, galang basa, galang ula, dan kunci maiek. Pada umumnya tidak ada peraturan khusus dalam memakai galang. Galang dapat digunakan baik di tangan sebelah kanan maupun kiri.

Galang tidak hanya sebatas sebagai aksesoris pelengkap saja. Aksesoris ini memili makna tersirat dalam penggunaannya. Penggunaan galang juga dapat menjadi simbol harapan agar sang pemakai dapat meeperoleh lebih banyak rezeki di kemudian hari.

Selain itu, galang juga juga mengandung pesan bahwa segalanya pasti ada  batasnya. Setiap mengharapkan atau mengerjakan sesuatu haruslah disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing.

Baju Batabue

Apakah Anda pernah melihat ataupun mendengar mengenai baju batabue? Baju batabue, atau juga disebut baju bertabur, merupakan salah satu pakaian adat Sumatra Barat (Suku Minangkabau). Baju batabue biasanya menjadi bagian atasan pada bundo kanduang.

Baju batabue memiliki banyak variasi warna, misalnya hitam, merah, biru, serta lembayung. Tidak hanya memiliki warna yang indah, baju batabue juga biasanya dihiasi oleh bermacam-macam motif.

Motif yang terdapat pada baju batabue merupakan motif khas Provinsi Sumatra Barat yang banyak menggunakan benang emas sebagai bahannya. Penggunaan benang emas ini membuat baju batabue terlihat mewah.

Berbagai pernak-pernik sulaman pada jenis pakaian yang satu ini merupakan simbolisasi dari keragaman dan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh Sumatra Barat. Bervariasinya sulaman atau corak yang terdapat pada baju melambangkan kelimpahan alam yang dimiliki daerah tempat tinggal mereka, dan juga dapat diartikan sebagai bentuk syukur mereka atas karunia tersebut.

Pada bagian tepi lengan dan leher baju ini, memiliki sebuah hiasan yang disebut dengan nama minsie. Minsie merupakan sebuah sulaman yang melambangkan bahwa kaum perempuan Suku  Minang haruslah patuh pada ketentuan-ketentuan hukum adat yang berlaku di wilayah tersebut.

Balapak

Balapak adalah salah satu aksesoris selendang yang dikenakan oleh perempuan Suku Minang. Selain dapat mempercantik perempuan yang mengenakannya, balapak juga memiliki makna tersendiri di dalamnya.

Penggunaan balapak adalah salah satu simbol atau tanda bagi perempuan Suku Minang bahwa perempuan tersebut telah memiliki kesiapan untuk menikah dan mendapatkan keturunan. Dengan demikian, maka dapat diketahui bahwa perempuan yang menggunakan balapak adalah perempuan dewasa.

Setiap perempuan Minang yang telah memasuki usia dewasa dan siap menikah diwajibkan untuk mengenakan jenis aksesoris yang satu ini. Selain itu, balapak adalah aksesoris pelengkap untuk seorang perempuan yang mengenakan pakaian bundo kanduang. Balapak memiliki beberapa warna dasar, misalnya merah dan biru.

Dukuah

Provinsi Sumatra Barat memiliki beragam jenis perhiasan khas. Salah satunya adalah dukuah. Dukuah atau dukuh merupakan jenis perhiasan kalung khas Sumatra Barat yang umum digunakan oleh para perempuan khususnya di Padang.

Dukuah juga disebut dengan beberapa nama lain, misalnya kaban, manik pualam, dukuh, dukuh panyiaram, daraham, cekik leher, dan kalung perada.

Dukuah tergolong sebagai jenis perhiasan yang mewah, sehingga penggunaan dukuah akan makin melengkapi kemewahan dari pakaian yang dikenakan oleh perempuan.  Pada umumnya, dukuah yang digunakan akan semakin mewah terutama pada acara-acara penting seperti pernikahan.

Dukuah dikenakan dengan cara dikalungkan melingkar di bagian leher mempelai pengantin. Kemewahan pada dukuah membuat pengantin perempuan terlihat lebih cantik dan menarik saat mengenakannya.

Selain menambah kecantikan bagi yang memakainya, dukuah juga mengandung arti filosofi di dalamnya. Dukuah secara filosofi merupakan simbol bahwa seorang perempuan haruslah selalu berada dalam lingkaran kebenaran, layaknya perhiasan dukuah yang berbentuk melingkar.

Dukuah juga mengandung makna tentang sebuah pendirian yang teguh dan tidak tergoyahkan untuk membela kebenaran.

Limpapeh Rumah Nan Gadang

Limpapeh Rumah Nan Gadang bisa juga disebut pakaian bundo kanduang. Pakai tradisional khas Suku Minangkabau ini adalah simbol dari penghormatan atau lambang kebesaran dari seorang istri pada sebuah keluarga. Limpapeh rumah nan gadang mengandung makna bahwa seorang istri atau ibu memiliki peranan yang sangat penting di dalam keluarganya.

Limpapeh bermakna tiang tengah pada bangunan rumah adat Suku Minangkabau. Limpapeh yang berfungsi vital untuk menjaga kekokohan dan tegaknya bangunan menjadi analogi yang tepat untuk peran ibu pada suatu keluarga.Tanpa adanya limpapeh, maka rumah dapat dengan mudahnya roboh. Atau jika limpapeh mengalami kerusakan, maka akan rusak pula rumah tersebut.  Begitu juga dengan seorang ibu.

Jika ibu atau istri dapat mengatur rumah tangga dengan baik, menjaga keharmonisan dengan suami dan anggota keluarga yang lain, serta dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya, maka kemungkinan besar keluarga tersebut akan hidup dengan bahagia.

Sebaliknya, jika seorang ibu tidak mampu mengatur rumah tangga dengan baik, hubungan dengan keluarga tidak harmonis, dan menunjukkan perilaku-perilaku buruk lainnya, maka bisa jadi rumah tangga akan mengalami keretakan atau bahkan bisa jadi mengalami kerobohan layaknya sebuah rumah.

Limpapeh Rumah Nan Gadang mempunyai corak dan desain yang berbedabeda pada tiap-tiap sub suku,  tetapi cukup memiliki kemiripan dengan pakaian adat Minangkabau anak. Limpapeh rumah nan gadang memiliki beberapa bagian serta aksesoris khusus yang dapat dijumpai pada pakaian ini.

Aksesoris atau kelengkapan tersebut antara lain baju batabue, minsie, tingkuluak (tengkuluk), salempang,  lambak atau sarung, galang (gelang),  dukuah (kalung), dan berbagai aksesoris lainnya.

 Sasampiang

Selendang identik sebagai aksesoris yang sering dipakai oleh perempuan. Namun bukan berarti selendang hanya diperuntukkan bagi perempuan saja. Laki-laki pun  bisa memakai aksesoris yang satu ini. Di Sumatra Barat misalnya, di mana terdapat aksesoris selendang bernama sasampiang tyang umum dikenakan oleh laki-laki.

Biasanya sasampiang dikenakan dengan cara dislampirkan secara menyilang di bagian bahu. Selain menambah gagah laki-laki yang memakainya, sasampiang ini merupakan aksesoris yang menjadi simbol keberanian dan ilmu pengetahuan pada kaum laki-laki.

Sasampiang umumnya dilengkapi dengan motif atau corak pada kainnya, berbeda dengan beberapa jenis selendang pada perempuan yang biasanya lebih polos. Adanya motif tersebut menambah nilai estetika dari aksesoris yang satu ini, terlebih karena pakaian laki-laki yang biasanya lebih simpel ketimbang perempuan.

Sasampiang dapat terdiri dari berbagai macam warna. Pada sebuah sasampiang bisa terlihat perpaduan beberapa warna, misalnya hitam, merah, emas, biru, dan sebagainya.

Warna-warna tersebut juga memiliki beragam arti, misalnya warna merah yang menyimbolkan keberanian serta hitam yang melambangkan kepemimpinan. Benang pada sasampiang biasanya didominasi oleh benang makau. Pemakaian benang makau tersebut secara filosofis merupakan simbol dari kearifan.

Jenis aksesoris yang satu ini termasuk sebagai salah satu aksesoris pelengkap pada baju penghulu. Penambahan sasampiang membuat laki-laki yang mengenakannya akan terlihat lebih menarik.

Lambak

Pakaian bundo kanduang yang merupakan pakaian kebesaran untuk seorang ibu terdiri dari beberapa aksesoris pelengkap. Jika atasannya berupa baju batabue, maka bawahan yang biasa digunakan yaitu lambak. Lambak merupakan sebuah kain yang berbentuk seperti sarung.

Lambak biasanya berbahan dasar kain songket dan dihiasi oleh berbagai motif yang merupakan motif khas dari Sumatra Barat. Keberadaan motif-motif tersebut menambah nilai seni pada aksesoris yang satu ini. Cara memakai lambak sama seperti cara menggunakan sarung pada umumnya.

Lambak dipakai untuk menutupi bagian bawah perempuan di mana pada bagian atasnya diberi ikatan pada pinggang agar kuat ketika dipakai. Belahan pada lambak sendiri cukup bervariasi, tergantung dari keinginan si pemakai. Belahan dapat disusun di sisi samping, depan, maupun belakang.

Tidak ada aturan khusus mengenai posisi belahan lambak, yang terpenting si pemakai nyaman untuk menggunakannya. Namun biasanya setiap suku atau nagari memiliki ciri khas tersendiri dalam menggunakan lambak. Hingga saat ini lambak masih cukup sering digunakan terutama sebagai aksesoris pelengkap pada baju bundo kanduang.

Sarawa

Sama seperti pakaian bundo kanduang, pakaian adat penghulu juga terdiri dari beberapa aksesoris pelengkap. Salah satu aksesoris pelengkap pada pakaian adat penghulu adalah sarawa. Sarawa merupakan pelengkap untuk menutupi tubuh bagian bawah pada pakaian adat penghulu. Sarawa   berbentuk seperti celana, dan cara mengenakannya pun sama seperti cara mengenakan celana pada umumnya. Sarawa mempunyai ukuran yang besar.

Selain supaya nyaman untuk dikenakan, ukuran tersebut juga memiliki makna filosofis. Ukuran besar pada sarawa adalah simbolisasi yang menunjukkan  bahwa seorang penghulu atau pemangku adat adalah orang bermartabat.

Koto Gadang

Pernikahan merupakan acara yang spesial bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, segala persiapan dilakukan dengan sebaik mungkin. Termasuk dengan pakaian yang akan dikenakan oleh pengantin. Biasanya terdapat pakaian adat tertentu yang khusus digunakan oleh pengantin saat pernikahan. Di Padang misalnya, terdapat pakaian adat khusus untuk pengantin yang disebut dengan koto gadang.

Koto gadang memiliki beberapa kemiripan dengan pakaian adat lain yang ada di Sumatra Barat, misalnya bundo kanduang dan baju adat penghulu. Namun demikian, koto gadang tetap memiliki ciri khas yang membedaknnya dengan pakaian adat lain. Hal tersebut misalnya terlihat dari warna bahan serta ragam aksesoris yang dikenakan.

Warna yang umumnya dipakai pada koto gadang adalah merah. Warna merah selain membuat kedua mempelai lebih menarik perhatian, juga melambangkan keberanian serta rasa cinta kasih antar keduanya.

Sedangkan dari sisi aksesoris, koto gadang terkesan lebih ramai dan mewah dibandingkan dengan pakaian adat lain. Hal tersebut wajar mengingat pakaian ini digunakan pada acara pernikahan yang biasanya digelar dengan mewah dan banyak mengundang tamu.

Kemewahan dan keindaan koto gadang tersebut merupakan salah satu bentuk penghormatan pada tamu undangan yang telah hadir.

Cawek

Cawek adalah salah satu jenis aksesoris pelengkap yang kenakan laki-laki. Cawek merupakan sebuah sabuk atau ikat pinggang yang berguna untuk menguatkan celana sarawa yang biasa digunakan bersamaan dengan baju adat penghulu.

Aksesoris yang satu ini pada umumnya terbuat dari bahan sutra. Sutra adalah bahan yang cukup kuat sebagai pengikat dan cukup mudah dicari di Sumatra Barat.

Meskipun hanya sebagai aksesoris pelengkap saja, namun cawek menyimpan makna filosofis yang luhur. Cawek adalah simbol dari eratnya tali hubungan persaudaraan antara sesama masyarakat Suku Minang baik di Padang maupun daerah-daerah Sumatra Barat yang lain.

Selain itu, pemakaian bahan sutra pada cawek juga memiliki makna khusus, yaitu bahwa seorang pemangku adat atau penghulu harus mampu menjaga rasa persaudaraan anggota sukunya serta harus memiliki kecakapan dalam memimpin.

Salempang

Sumatra Barat memiliki banyak jenis selendang tradisional. Salah satunya adalah salempang. Berbeda dengan selendang balapak yang biasa dikenakan oleh perempuan gadis yang telah siap untuk menikah, salempang adalah selendang yang dikenakan oleh perempuan yang telah menikah dan berkeluarga.

Perbedaan pemakaian dari dua jenis selendang khas Sumatra Barat tersebut juga mengandung arti yang berbeda. Apabila selendang balapak berarti menunjukkan kesiapan untuk membangun keluarga, maka salempang menunjukkan kesiapan untuk menjadi sosok ibu dan nenek yang dapat memberi contoh baik pada anak-anak dan cucu-cucunya dan pengingat untuk selalu waspada pada berbagai macam kondisi.

Salempang berbentuk layaknya selendang pada umumnya yang panjang dan memiliki satu atau lebih warna dasar. Aksesoris pelengkap untuk perempuan ini terbuat dari kain songket yang merupakan kain khas Sumatra Barat. Salempang biasanya dipakai dengan cara ditaruh di bagian pundak.

Aksesoris salempang ini menambah cantik perempuan yang memakainya, membuatnya terlihat lebih feminim. Baik salempang maupun balapak dapat dipakai sebagai aksesoris pelengkap pada pakaian adat bundo kanduang.

Keris dan Tongkat

Aksesoris lain yang biasa digunakan laki-laki pada Suku Minang adalah keris dan tongkat. Dua senjata ini menjadi aksesoris pelengkap yang dapat memberi kesan berani dan gagah pada yang memakainya. Keris biasanya diletakkan di bagian pinggang, mirip seperti pada pakaian tradisional di Jawa. Sedangkan tongkat umumnya dibawa dengan cara digenggam atau dipegang dengan tangan kanan.

Keris dan tongkat adalah senjata yang diartikan secara filosofis sebagai simbol amanah serta tanggung jawab. Pemangku adat atau penghulu diharapkan dapat menjaga tanggung jawab selama memimpin anggota-anggota sukunya.

Selain berfungsi sebagai aksesoris pelengkap, tentu keris dan tongkat juga dapat dipakai sebagai senjata untuk menjaga diri. Baik keris maupun tongkat dapat dipakai untuk melakukan duel jarak dekat. Keris dapat digunakan untuk menusuk atau menikam musuh, sedangkan tongkat untuk memukul. Tongkat juga dapat berfungsi untuk membantu untuk berjalan, terutama jika yang memakai telah berusia sepuh.

Sandang

Sandang adalah jenis kain lain yang biasa dipakai oleh para laki-laki Suku Minang. Berbeda dengan sasampingan yang berbentuk selendang dan dikenakan di bagian pundak, sandang adalah kain yang digunakan sebagai sabuk atau ikat pinggang. Baik sasampingan maupun sandang dapat dipakai secara bersamaan.

Sandang juga dapat dipakai bersamaan dengan cawek. Jadi, sandang berfungsi sebagai penutup dari cawek. Biasanya laki-laki akan menggunakan cawek kemudian ditambahkan lagi dengan sandang agar ikatan menjadi semakin kuat. Kain sandang memiliki bentuk segi empat. Aksesoris ini biasanya berwarna merah. Warna tersebut mengandung arti kepatuhan terhadap peraturan-peraturan atau hukum adat yang berlaku. Sandang menjadi salah satu aksesoris pelengkap yang biasa digunakan pada pakaian adat penghulu.

Baju Penghulu

Jenis baju adat berikutnya yang berasal dari Provinsi Sumatra Barat yaitu baju penghulu. Baju penghulu juga biasa disebut sebagai baju pemangku adat. Disebut baju pemangku adat karena pada awalnya baju tradisional yang satu ini merupakan baju yang dikenakan oleh para kepala suku. Baju penghulu memiliki ciri khas yang membedakannya dengan jenis-jenis baju yang lainnya.

Pakaian adat yang satu ini memiliki warna dominan hitam dengan bahnnya terbuat dari kain beludru. Warna tersebut tidak sembarang dipilih, melainkan ada makna di dalamnya. Warna hitam dianggap sebagai simbolisasi dari jiwa kepemimpinan. Sang pemakai diharapkan dapat menjadi pemimpin yang terhormat.

Laki-laki sebagai pemakai baju ini dianggap memiliki tanggung jawab untuk menjadi pemimpin kaum perempuan, atau jika yang memakai adalah kepala suku maka bermakna tanggung jawab untuk memimpin anggota sukunya.

Selain warna, baju penghulu juga memiliki kekhasan pada celana. Celana yang memiliki diameter lebar atau kombor mengandung arti bahwa seorang laki-laki memiliki martabat yang tinggi.

Bersamaan dengan baju ini biasanya juga disertai dengan beberapa aksesoris tambahan, seperti keris, tongkat, penutup kepala (deta atau peci) dan selendang. Baju penghulu masih lestari sampai sekarang, dan masih sering terlihat digunakan pada berbagai acara adat di Sumatra Barat.

Minsie

Dan aksesoris khas Sumatra Barat terakhir pada  daftar ini adalah minsie. Minsi adalah  aksesoris pelengkap pada pakaian bundi kanduang.  Minsia merupakan nama dari bis tepi dari pakaian yang diberi benang emas. Sama seperti pakaian dan aksesoris tradisional lainnya, minsie juga mengandung makna filosofis di dalamnya. Minsie merupakan perlambang bahwa kehidupan demokrasi Suku Minangkabau sungguh  luas, akan tetapi tetap berada pada batasan-batasan tertentu  dengan alur yang patut.

Oleh: Riyyan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*