Museum Tumurun, Museum Pribadi yang Menyimpan Karya Maestro Dunia

Warga Solo pasti sudah tak asing lagi dengan pabrik tekstil Sritex.

Pabrik garmen terbesar se Asia Tenggara tersebut pernah dipercaya memproduksi kebutuhan seragam militer di Indonesia dan 35 negara dunia termasuk North Atlantic Treaty Organization (NATO) dan Tentara Jerman.

Siapa yang menyangka pabrik tersebut ternyata didirikan oleh seorang pecinta karya seni bernama H. Muhammad Lukminto.

Untuk menghormati almarhum ayah yang wafat di tahun 2014 lalu, sang anak, Iwan Kurniawan Lukminto, mendirikan sebuah museum bernama  Tumurun Private Museum.

Ada berbagai ratusan karya seni antik dan berkelas dunia di museum ini. Kabar baiknya lagi, masuk ke museum ini tak perlu membeli tiket masuk alias gratis, loh.

Pengunjung hanya perlu melakukan reservasi online di website www.tumurunmuseum.com. Setelah itu, pihak museum akan mengirim email sebagai tiket masuk. Nah, kita hanya perlu menunjukan email tersebut kepada petugas museum sata berkunjung.

 Lokasi dan Cara Berkunjung ke Museum Tumurun

Museum Tumurun terletak di Jalan Kebangkitan Nasional No. 2,  Sriwedari, Laweyan, Solo. Museum ini bisakita kunjungi setiap hari Senin hingga Sabtu pada pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Jumlah kunjungan pun terbatas. Itu sebabnya, kita harus melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum memasuki museum.

Ada berbagai koleksi Seni Kelas Atas dan ratusan karya seni dari berbagai belahan dunia bisa kita temui. Mulai dari kontemporer hingga modern ada di museum ini.

Kita juga bisa menyaksikan karya maestro ternama, seperti Affadi, Basoeki Abdullah hingga maestro lukis asal Spanyol Antonio Blanco.

Sebelum memasuki ruang koleksi, ada pemandu yang akan menjelaskan terlebih dahulu aturan yang berlaku selama di museum. Setelah itu, pengunjung dipersilahkan masuk dan menikmati berbagai koleksi unik di dalamnya.

Setiap koleksi terdapat informasi yang bisa kita temukan dengan melakukan scanning kode atang (barcode). Jadi, pengunjung tak hanya menyaksikan saja tetapi juga menggali informasi dan makna tersirat di balik karya tersebut.

Salah satu karya unik sekaligus ikon museum ini seni instalasi berupa bola mata besar yang tersusun setinggi tujuh meter.

Karya bertajuk “Floating Eyes” tersebut berisi kritik sosial generasi masa kini di mana anak-anak muda zaman sekarang selalu mengumbar kehidupannya di media sosial.

Karya unik lainnya adalah seni instalasi berjudul “Potret Diri” karya Tisna Sanjaya yang dibuat pada tahun 1958. Karya seni berwujud manusia yang tertindih oleh beban berat itu menggambarkan prilaku masyarakat saat ini yang ditindas oleh lingkungan. Akibat penindasan tersebut banyak manusia yang menciptakan kebohongan dalam dirinya.

Selain itu, museum ini juga menyimpan koleksi mobil kuno seperti Mercedes Benz rakitan 1970 dan Dodge 1928 yang sudah tak bisa kita temui lagi di pasaran.

Museum Tumurun sebenarnya terdiri dari dua lantai. Sayangnya, lantai dua tidak dibuka untuk umum karena menyimpan karya maestro ternama seperti Affadi, Basoeki Abdullah hingga maestro lukis asal Spanyol Antonio Blanco.

Tempat ini benar-benar cocok bagi pecinta seni karena menyajikan sensasi yang berbeda dari kebanyakan museum lainnya. Bagi pecinta fotografi, museum ini juga cocok untuk spot hunting foto dengan background estetik

Oleh: Ariskaanggra

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*