Mitigasi Bencana Alam Gunung Berapi Dapat Dilakukan Dengan Cara

Indonesia memiliki banyak gunung aktif yang perlu diwaspadai contohnya saja Gunung Merapi, Gunung Kelud, Gunung Agung, Gunung Tangkuban Parahu dan sebagainya. Erupsi gunung ini bisa terjadi sewaktu-waktu.

Tenang pemerintah sudah memiliki badan yang akan selalu setia mendeteksi aktivitas gunung berapi ini. Badan ini bernama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologis (PVMBG).

Aktivitas gunung berapi akan selalu dipantau dengan bantuan alat berupa seismograf. Erupsi gunung berapi bisa menimbulkan kerugian yang sangat banyak jika tidak diantisipasi dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat. Langkah mitigasi bencana menjadi penting karena akan memperkecil kerugian yang diakibatkan dari bencana alam yang satu ini.

Mitigasi bencana alam gunung berapi dapat dilakukan dengan cara?

Mitigasi bencana harus bisa dilakukan oleh siapa saja. Jadi untuk Kamu yang tidak tinggal di area terdampak bencana tetap boleh mempelajari tips mitigasi bencana gunung berapi berikut ini. Tidak hanya mempelajari saja tapi juga harus memahami.

1. Kenali Daerah Tempat Tinggalmu

Tips yang pertama adalah mengenal daerah tempat tinggalmu sendiri terkait dengan kemungkinan terdampak bencana gunung berapi. Tujuannya untuk mengetahui apakah daerah tempat tinggalmu termasuk daerah rawan. Cara sederhananya Kamu bisa nih lihat di google maps atau peta geologis, berapa sih jarak rumahmu ke gunung berapi yang ada di sekitar daerahmu.

Lalu Kamu bisa nih melihat berita-berita resmi atau data dari badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologis (PVMBG) berapa sih jarak terjauh erupsi gunung berapi. Setelah Kamu mengetahuinya, Kamu bisa menyimpulkan apakah daerah tempat tinggalmu termasuk wilayah yang memiliki resiko bencana yang tinggi atau tidak.

Baca Juga: Upaya Mitigasi Bencana Tanah Longsor

Selain memperhatikan jarak gunung berapi ke rumah, Kamu juga harus memperhatikan jarak rumah dengan daerah aliran sungai. Hal ini juga perlu diwaspadai mengingat gunung berapi juga menimbulkan banjir lahar dingin yang kerapkali memporak-porandakan pemukiman yang ada di sekitar daerah aliran sungai yang ada di sekitarnya.

Jika daerah tempat tinggalmu termasuk daerah yang rawan terkena bencana gunung berapi maka Kamu harus mempersiapkan langkah mitigasi bencana. Pelaksanaan mitigasi bencana dimulai sebelum terjadinya bencana, saat terjadinya bencana dan pasca terjadinya bencana. Pada tips yang pertama ini Kamu sudah melakukan langkah mitigasi pra bencana.

2. Pelajari dan Pahami Istilah Status Kondisi Gunung Berapi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologis mempunyai beberapa status yang bisa dipahami oleh masyarakat. Status ini bisa digunakan sebagai dasar untuk melakukan langkah strategis guna mitigasi bencana gunung berapi. Ada empat status untuk mengidentifikasi kondisi gunung berapi yaitu status normal, status waspada, status siaga, dan status awas.

Status normal menggambarkan situasi aman dari gunung berapi karena tidak ada tanda-tanda aktivitas akan terjadi erupsi. Pada status ini warga bisa melakukan aktivitasnya dengan normal tanpa perlu dibatasi dengan jarak aman.

Status waspada, adalah satu level di atas status normal di mana sudah mulai dideteksi adanya aktivitas yang menunjukan tanda-tanda ringan akan terjadinya erupsi. Pada status ini aktivitas seismik menunjukan peningkatan yang menandakan adanya peningkatan aktivitas vulkanik gunung berapi.

Badan yang sudah ditunjuk pemerintah akan memberikan himbauan mengenai jarak aman dari lokasi gunung berapi. Masyarakat yang tinggal di daerah sekitar gunung berapi dan tinggal di wilayah dalam radius yang sudah ditentukan harus cepat melakukan langkah evakuasi diri. Evakuasi bisa dilakukan di barak-barak yang sudah didirikan tenda pengungsian.

Status siaga adalah satu level lebih tinggi dari status waspada. Pada status ini gunung berapi mulai intens melakukan aktivitas vulkaniknya. Hal ini akan membuat radius aman semakin diperpanjang dengan mempertimbangkan arah mata angin yang datang. Saat memasuki status siaga, masyarakat harus mematuhi jarak aman yang sudah ditentukan oleh PVMBG.

Status awas adalah status yang ditetapkan saat terjadi erupsi gunung berapi. Status awas ini juga bisa diartikan saat gunung mempunyai potensi erupsi dalam waktu kurang dari 24 jam.

Pada saat status awas inilah masyarakat yang berada di dalam radius aman dihimbau untuk tetap di rumah untuk menghindari hujan abu. Sedangkan masyarakat yang berada diradius tidak aman harusnya sudah dievakuasi melewati jalur evakuasi yang sudah ditentukan sebelumnya.

3. Pahami Jalur Evakuasi yang Ada

Hal ini sangat penting agar Kamu bisa tahu kemana Kamu harus mengungsi. Pahami jalur evakuasi yang sudah ditentukan oleh pihak terkait. Biasanya jalur evakuasi ini sudah diterbitkan dalam bentuk peta sehingga Kamu bisa mengakses melalui internet. Penggunaan jalur evakuasi akan menuntun Kamu ke arah yang aman menghindari bencana gunung berapi.

Pihak-pihak terkait seperti PVMBG dan sebagainya sudah mempersiapkan jalur-jalur ini dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi arah angin yang bisa membawa awan panas, jauh dari daerah aliran sungai, dan terhindar dari hujan abu dan gas beracun.

Baca Juga: Mencegah dan Mengatasi Bencana Alam yang Sering Terjadi di Indonesia

Jangan lupa untuk selalu memperbarui informasi mengenai jalur evakuasi ini. Hal itu disebabkan ada kemungkinan perubahan jalur evakuasi. Jalur evakuasi ini akan membawa Kamu ke barak-barak pengungsian yang sengaja dibangun untuk situasi bencana semacam ini.

Selain menuju ke barak-barak pengungsian, Kamu juga akan dituntun ke posko-posko tanggap darurat yang sudah dibangun. Bahkan, akan ada jalur menuju ke rumah sakit terdekat di peta tersebut. Kamu juga akan mengetahui lokasi sumber-sumber air yang bisa digunakan. Itulah mengapa memahami jalur evakuasi ini menjadi hal yang sangat penting.

4. Ikuti Sosialisasi Terkait Penanggulangan Bencana Gunung Berapi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) seringkali mengadakan sosialisasi terkait penanggulangan bencana. Nah, sosialisasi ini biasanya juga mencakup simulasi penanggulangan bencananya juga.

Kamu sebagai masyarakat yang berpotensi terdampak bencana bisa loh mengikuti sosialisasi ini. Harapannya setelah mengikuti sosialisasi ini Kamu menjadi lebih tahu, apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Kegiatan simulasi akan semakin memperjelas gambaran penanggulangan bencana gunung berapi ini.

5. Bentuk Tim Tanggap Darurat di Tingkat Masyarakat

Tim tanggap darurat di tingkat masyarakat bertugas melakukan edukasi kepada masyarakat tentang penanggulangan bencana gunung berapi. Adapun penanggulangan yang dimaksud adalah apa saja yang harus dilakukan sebelum terjadinya bencana, saat terjadinya bencana, dan sesudah terjadinya bencan gunung berapi.

Tujuan pembentukan tim tanggap darurat ini untuk membentuk masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Kamu yang sudah mengikuti sosialisasi dari pihak-pihak terkait itu bisa nih menginisiasi pembentukan tim tanggap darurat. Tenang, Kamu juga bisa kok meminta pendampingan dari BNPB maupun BPBD.

Partisipasi aktif dari masyarakat adalah pondasi utama untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh bencana gunung berapi. Upaya pemerintah akan efektif jika ada kesadaran aktif dari masyarakat, sehingga pembentukan tim tanggap darurat ini harus dilaksanakan di tingkat masyarakat.

6. Persiapkan Kebutuhan Pokok Sebelum Terjadinya Bencana

Kebutuhan dasar menjadi hal yang penting saat bencana terjadi. Jadi Kamu harus mempersiapkan kebutuhan logistik yang akan digunakan sewaktu-waktu saat terjadi erupsi gunung berapi. Nah, tidak hanya dilakukan individu, Kamu juga bisa mengajak masyarakat untuk melakukan iuran dalam rangka mempersiapkan kebutuhan logistik saat terjadinya bencana.

Baca Juga: Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia dalam Menjaga Alam

Kebutuhan dasar ini bisa berupa mie instan dan air minum kemasan yang disediakan di barak-barak pengungsian. Hitung juga kira-kira berapa jumlah mie instan yang mencukupi untuk semua anggota masyarakat. Perhitungan ini akan menentukan besaran iuran yang ditentukan. Meskipun tidak terjadi bencana, setidaknya masyarakat sudah siap sedia.

Jangan lupa juga, pastikan pembelian logistik ini dilakukan secara berkala ya. Hal ini dikarenakan untuk menghindari logistik sudah kadaluarsa. Paling tidak cek dulu masa kadaluarsa logistik yang akan dibeli.

7. Hindari Tempat-tempat Berbahaya Saat Terjadinya Bencana Erupsi Gunung Berapi

Ada beberapa tempat berbahaya yang tidak boleh Kamu lewati saat terjadinya erupsi gunung berapi. Kamu harus menghindari daerah aliran sungai, karena biasanya di sana akan mengalir lahar. Selain itu Kamu juga harus menghindari lereng dan lembah gunung. Kedua tempat itu mempunyai kemungkinan besar terpapar hujan abu dan gas-gas beracun dari gunung berapi.

Jangan salah erupsi gunung berapi juga bisa menghasilkan gas beracun. Tentu Kita masih belum lupa dengan kejadian erupsi di Dieng pada tahun 1979 yang menyebabkan banyak korban jiwa berjatuhan.

8. Gunakan Alat Pelindung Pernapasan

Hujan abu yang ditimbulkan oleh erupsi gunung berapi sangat berbahaya untuk pernapasan manusia. Saat ke luar rumah Kamu harus menggunakan masker atau setidaknya kain basah untuk melindungi pernapasan dari material yang dibawa hujan abu tersebut. Terlalu banyak menghirup abu hasil erupsi bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan.

Hujan abu membawa material pada hasil erupsi gunung berapi. Material ini terdiri atas abu dan batuan kecil yang mempunyai sudut tajam. Sudut tajam batuan kecil ini bisa menimbulkan luka pada organ dalam saat masuk ke sistem pernapasan manusia sehingga menyebabkan terjadinya batuk berdarah.

9. Gunakan Juga Alat Pelindung Mata dan Kulit

Hujan abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi mata yang parah. Sangat disarankan saat beraktivitas di luar rumah Kamu bisa menggunakan alat pelindung mata berupa kacamata. Abu ini juga bisa membuat iritasi pada kulit sehingga sebisa mungkin saat berada di luar Kamu bisa mengenakan pakaian berlengan panjang.

10. Pasang Kawat Kasa atau Tirai Basah untuk Menghalangi Abu Vulkanik

Jika rumahmu berada di lokasi jangkauan hujan abu, maka Kamu bisa memasang bagian ventilasi dengan kawat kasa dan juga tirai basah pada sisi rumah. Pemasangan kedua komponen tersebut akan mencegah debu vulkanik masuk ke dalam rumah sehingga udara di dalam rumah mempunyai kandungan debu yang lebih sedikit.

11. Bersihkan Atap Rumah dari Tumpukan Abu Vulkanik Setelah Bencana Berakhir

Setelah bencana usai, Kamu bisa segera membersihkan abu dari atap rumah. Banyaknya abu yang ada di atas rumah sangatlah berbahaya karena menambah beban atap yang bisa menyebabkan runtuhnya atap rumah.

12. Jangan Gunakan Mobil Sebelum Dibersihkan

Kondisi mobil yang dipenuhi dengan abu sangat tidak dianjurkan untuk digunakan bepergian. Abu vulkanik yang masuk ke bagian mesin-mesin mobil bisa menimbulkan kerusakan. Kamu yang mempunyai mobil harus memastikan mobil sudah bersih dari debu vulkanik sebelum digunakan. Jika belum memungkinkan gunakan kendaraan lainnya terlebih dahulu ya.

Itulah 12 tips mitigasi bencana alam gunung berapi dapat dilakukan dengan cara yang bisa Kamu praktekan di lingkungan tempat tinggalmu. Lakukan langkah-langkah ini dan jangan lupa untuk selalu mengedukasi diri agar semakin paham mitigasi bencana gunung berapi ini.

Oleh: Y. Anugrahanto

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*