Menelisik Sejarah Kota Kretek dari Museum Gusjigang Kudus

Kudus merupakan kota kecil dideretan pantai utara Provinsi Jawa Tengah. Kota yang merupakan eks karasidenan Pati ini telah tumbuh menjadi kota yang menarik untuk dikunjungi karena wisata religinya dimana merupakan daerah asal dua sunan, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Kota kecil itu telah tumbuh menjadi kota industri yang makmur. Salah satunya adalah rumah bagi perusahaan rokok ternama yaitu Perusahaan Rokok Sukun Sigaret yang berlokasi di kecamatan Gebog, Kudus.

Museum Gusjigang – sumber: lutfi basyari

Karena menjadi rumah bagi Perusahaan Rokok ternama, sehingga Kudus juga dikenal sebagai Kota Kretek. Kata Kretek sendiri diambil  dari bunyi gemeretak yang dihasilkan racikan tembakau dan cengkeh yang ada di dalam rokok saat dinyalakan dengan api.(sukunsigaret.com, 18 November 2020)

Asal Mula Nama Gusjigang

Spirit jiwa pengusaha warga Kudus tidak lepas dari semboyannya, yaitu Gusjigang. Kata Gusjigang sendiri merupakah akronim dari Bagus, Mengaji dan Berdagang.

Filosofi ‘gusjigang’ merupakan personifikasi dari Sunan Kudus agar masyarakat Kudus mempunyai budipekerti yang baik (masalah moralitas, ahklak), pandai mengaji yang berarti menuntut ilmu, rajin beribadah, dan pandai berdagang.

Ada yang mengartikan mengaji adalah rajin beribadah, dan ‘ji’ ada  yang mengartikan kaji. Ajaran ‘gusjigang’ ini ada yang menyebutkan menonjol di wilayah Kudus Kulon atau wong ngisor menoro.

Ada anggapan masyarakat di kawasan ini memiliki tingkat religiusitas dan etos kerja lebih tinggi dengan mereka yang jauh dari Menara Kudus (Kudus bagian timur) Tradisi Gusjigang ditanamkan oleh Sunan Kudus sejak perjumpaannya dengan The Ling Sing, tokoh China mantan nakhoda panglima Cheng Hoo, yang menyepakati lahirnya kota Kudus yang merdeka, tidak terikat dengan kerajaan tertentu dan tidak dimonopoli oleh suku atau agama tertentu. (M.Ihsan, 2017:163)

Dari filosofi itulah masyarakat Kudus lebih bersemangat untuk berkehidupan, mulai dari pariwisata, industri, hingga kuliner.

Banyak pengusaha-pengusaha yang lahir dari Kota kawasan pantura yang tidak memiliki lautan ini, diantaranya seperti Muhammad Hilmy yang merupakan pemilik Jenang Kudus Mubarok, atau Mc. Wartono pemilik Perusahaan Rokok Sukun Kudus.

Areal Museum Gusjigang Kudus

Selanjutnya kita akan berjelajah menuju museum Gusjigang. Museum ini terletak di Glantengan, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59313.

Dari luar museum ini bertuliskan Gusjigang X Building Museum Jenang Mubarok. Sehingga selain belajar sejarah, anda juga bisa berbelanja jenang dan oleh-oleh khas Kudus lainnya di lantai satu. Untuk museumnya sendiri terletak di lantai dua.

Ketika anda memasuki lantai dua museum. Anda akan dimanjakan oleh pemandangan lampu yang redup namun terasa hangat. Awal masuk dilantai dua yang nampak adalah sekumpulan candi atau menara yang berjajar-jajar.

Lalu anda akan berjalan lebih jauh lagi dan menemukan pemandangan yang sangat estetik berupa trilogi ukhuwah, di spot ini anda akan menemukan daftar pemimpin pusat Muhammadiyah dan NU dari tahun ke tahun.

Area ini bisa menjadi simbolisasi atas kerukunan umat seagama yang ada di Kota Kudus. Dimana populasi dari dua organisasi ini sama banyaknya. Maka tak heran jika memasuki kota Kudus anda mendapatkan suasana yang sangat religius karena banyaknya pondok pesantren dan sekolah berbasis Islami.

Museum Gusjigang lebih menawarkan simbol sejarah Kota Kudus, Budaya, serta kuliner khasnya, yaitu jenang. Namun tak lupa unsur religius sebagai rumah dari dua wali (Sunan Kudus dan Sunan Muria) tetap diangkat terlihat dari ornamen-ornamen bangunan yang Islami.

Bagaimana? Anda berminat untuk berkunjung ke Museum ini? Jangan lupa membeli oleh-oleh dilantai satu jika anda sudah selesai berswafoto dilantai dua.

Sumber: anasuhanda

Setiawan, Deni. 2014.Kisah Sukses Muhammad Hilmy Bos Jenang Kudus Mubarok – tribunews (diakses 18 November 2020)

sukunsigaret (diakses 18 November 2020)

Ihsan,M. 2017.”GUSJIGANG; KARAKTER KEMANDIRIAN MASYARAKAT KUDUS MENGHADAPI INDUSTRIALISASI”. Jurnal Kajian Ekonomi dan Bisnis Islam, 10 (2) :163.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*