Macam-macam Bahasa Daerah di Indonesia

Indonesia memiliki budaya, tradisi, dan adat istiadat yang begitu beragam. Tak terkecuali dengan bahasa daerah. Kita dapat menemukan begitu banyak ragam bahasa di berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan, Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki keragaman bahasa terbanyak kedua di dunia di bawah Papua Nugini. Hal tersebut berdasarkan data Ethnologue  yang mencatat setidaknya terdapat 726 ragam bahasa dari berbagai suku di Indonesia.

Selain bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan, bahasa daerah pastinya juga jadi salah satu hal yang penting dalam menunjang komunikasi antar masyarakat.

Namun sayangnya, semakin berkurangnya jumlah penutur bahasa serta adanya bahasa asing yang mulai masuk ke Indonesia membuat “kelestarian” bahasa daerah sedikit terancam.

Baca Juga: Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia dalam Menjaga Alam

Di tengah ancaman tersebut, terdapat beberapa bahasa daerah yang statusnya masih tergolong “aman” karena masih banyak digunakan dalam keseharian. Bahkan jumlah penuturnya semakin banyak karena jumlah penduduk yang terus bertambah dan menyebar ke berbagai wilayah.

Berikut ini adalah daftar beberapa bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur terbanyak di Indonesia.

Bahasa Jawa

Berbicara soal bahasa daerah paling populer di Indonesia, pasti yang terbesit di pikiran pertama kali adalah bahasa Jawa. Ya, dengan jumlah populasi yang terus meningkat dengan pesat, tidak heran jika bahasa Jawa menjadi bahasa daerah paling populer di Indonesia.

Tercatat jumlah penutur bahasa Jawa mencapai 84.300.000 orang, atau sekitar sepertiga dari jumlah total penduduk Indonesia.

Bahasa Jawa terutama digunakan dalam keseharian oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur, Jawa, Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, penutur bahasa Jawa juga banyak yang pindah atau bertransmigrasi ke wilayah lain, sehingga menambah luas daerah penyebaran penutur bahasa ini.

Bahkan, penutur bahasa Jawa juga telah tersebar ke beberapa negara dan digunakan dalam berkomunikasi masyarakat setempat, misalnya Malaysia, Singapura, Suriname, dan Kaledonia Baru.

Bahasa Jawa sendiri terdiri dari berbagai tingkatan, yang penggunaannya disesuaikan dengan situasi dan norma kesopanan. Bahasa Jawa setidaknya terdiri dari tiga tingkatan, yaitu bahasa ngoko, madya, dan krama.

Jumlah penutur yang banyak membuat bahasa Jawa memiliki keragaman dalam hal dialek. Beberapa daerah memiliki dialek yang khas, misalnya dialek Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Demak, Kudus, Pekalongan, Malang, Banyuwangi, dan sebagainya.

Berdasarkan catatan penelitian, bahasa Jawa merupakan bahasa Austronesia dari subkelompok Melayu-Polinesia. Bahasa Jawa memiliki kekerabatan yang cukup erat dengan bahasa Bali, Sunda, dan Melayu yang merupakan bahasa yang umum digunakan di sekitar wilayah Jawa.

Sejarah tulisan bahasa Jawa bermula sejak abad kesembilan dalam bentuk bahasa Jawa Kuno, yang kemudian berkembang menjadi bahasa Jawa Baru sekitar abad kelimabelas.

Pada umumnya, bahasa Jawa Kuno ditemukan ditulisan dalam bentuk puisi yang berbait, atau dalam istilah kawi tulisan jenis tersebut sebagai bahasa kesusatraan. Sistem tulisan yang dipakai untuk menulis bahasa Jawa Kuno adalah bentuk adaptasi dari aksara Pallawa yang berasal dari India.

Baca Juga: Musyawarah Mufakat di Masa Kerajaan, Kemerdekaan, Saat Ini

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan sekitar hampir 50% dari total kosa kata pada tulisan-tulisan berbahasa Jawa Kuno berasal dari bahasa Sansekerta, meskipun bahasa Jawa Kuno juga memiliki kata serapan dari bahasa-bahasa lainnya di Nusantara.

Bahasa Jawa Baru mulai dikenal dan menjadi ragam utama bahasa Jawas ekitar abad ke-15 atau  16. Pergantian bahasa tersebut terjadi bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam ke Tanah Jawa. Pada mulanya, ragam baku bahasa Jawa Baru didasarkan pada ragam bahasa daerah pantai utara Jawa di mana masyarakatnya waktu itu telah  memeluk agama Islam.

Kebangkitan Kerajaan Mataram membuat ragam tulisan baku bahasa Jawa kemudian beralih dari wilayah pesisir ke pedalaman. Ragam tulisan itulah yang kemudian dilestarikan oleh penulis-penulis Surakarta dan Yogyakarta, dan menjadi dasar untuk ragam baku bahasa Jawa masa sekarang.

Bahasa Sunda

Bahasa daerah berikutnya yang memiliki jumlah penutur cukup banyak di Indonesia yaitu bahasa Sunda. Bahasa Sunda banyak digunakan oleh masyarakat yang bertempat tinggal di Pulau Jawa, terutama di daerah Jawa barat dan Banten.

Bahasa Sunda digunakan di hampir seluruh provinsi Jawa Barat dan Banten serta daerah urbanisasi Suku Sunda di seluruh provinsi di Indonesia dan luar negeri.

Seiring dengan penyebaran penduduk yang makin merata, bahasa Sunda tidak hanya terbatas dituturkan di wlayah Jawa Barat dan Banten saja, melainkan juga menyebar ke pulau-pulau lain seperti Sumatera dan Kalimantan.

Berdasarkan catatan sensus, jumlah penutur bahasa Sunda diperkirakan mencapai 34-42 juta orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Catatan tersebut membuat bahasa Sunda menjadu bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah bahasa Jawa. Berdasarkan sejarahnya, bahasa Sunda dibedakan menjadi dua jenis, yaitu bahasa Sunda Kuno dan bahasa Sunda Modern.

Bahasa Sunda Kuno umumnya ditemukan pada peninggalan-peninggalan bersejarah dalam bentuk lontar ataupun prasasti. Kurangnya literatur membuat para peneliti kesulitan untuk mengkaji lebih lanjut keterkaitan antara bahasa Sunda Kuno dengan bahasa Sunda Modern.

Bahasa Sunda Kuno adalah bentuk bahasa Sunda yang ditemukan pada beberapa catatan tertulis, baik di batu (prasasti) maupun lembaran daun kering (lontar). Tidak diketahui apakah bahasa ini adalah dialek tersendiri atau merupakan bentuk yang menjadi pendahulu bahasa Sunda modern. Sedikitnya literatur berbahasa Sunda menyulitkan kajian linguistik varian bahasa ini

Baca Juga: 9 Pantai Jogja Terbaik untuk Liburan Bersama Keluarga

Sama seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda juga dituturkan dengan berbagai macam dialek, antara lain dialek barat, dialek utara, dialek selatan, dialek tengah timur, timur laut, serta dialek tenggara.Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten (khususnya Banten Selatan). Dialek Utara dipertuturkan di wilayah utara, seperti  Kota Bogor dan sebagian wilayah Pantura.

Kemudian dialek Selatan atau dikenal juga dengan sebutan dialek Priangan digunakan pada wilayah Kota Bandung dan sekitarnya. Dialek Tengah Timur adalah dialek yang digunakan di sekitar wilayah Kabupaten Majalengka dan sebagian Kabupaten Indramayu.

Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, sebagian Kabupaten Brebes serta Kabupaten Tegal (Jawa Tengah). Dan yang terakhir yaitu dialek Tenggara yang dituturkan di sekitar Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Brebes serta Kabupaten Banyumas (Jawa Tengah).

Bahasa Madura

Pulau Madura adalah pulau yang berada di utara Jawa Timur. Penduduk di Pulau Madura memiliki bahasa daerah yang disebut bahasa Madura. bahasa Madura memiliki perbedaan dengan bahasa Jawa.

Selain masyarakat Suku Madura sendiri, Bahasa Madura juga banyak digunakan oleh masyarakat di pesisir pantai utara (Pantura) Jawa Timur ataupun Jawa tengah. Penggunaan bahasa Madura juga menyebar ke daerah-daerah di sekitarnya, misalnya Surabaya, Malang, hingga ke Pulau Kalimantan.

Bahasa Madura merupakan subcabang dari bahasa Austronesia ranting Melayu Polinesia, sehingga memiliki kemiripan dengan bahasa daerah-bahasa daerah lain yang ada di Indonesia.

Bahasa Madura cukup banyak mendapat pengaruh dari bahasa-bahasa daerah lain, seperti bahasa Jawa (terutama bahasa jawa suroboyoan), Bugis, Melayu, Minangkabau, Arab, serta Tionghoa.

Terdapat cukup banyak kata-kata dari bahasa Madura yang berasal atau berakar dari bahasa Melayu dan Minangkabau. Jumlah penutur bahasa Madura diperkirakan mencapai 13,6 juta orang, sehingga menempatkan bahasa Madura sebagai bahasa dengan jumlah penutur terbanyak ketiga di Indonesia.

Bahasa Madura memiliki beberapa dialek, antara lain dialek Sumenep, Pamekasan, Bangkalan, Sampang, dan Kangean.

Dialek yang menjadi acuan standar bahasa Madura yaitu dialek Sumenep. Hal tersebut disebabkan karena di masa lalu,  Sumenep adalah wilayah pusat dari kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya adalah dialek rural yang pelan-pelan bercampur seiring dengan perpindahan penduduk yang dilakukan oleh masyarakat Madura.

Di Pulau Jawa, dialek-dialek Madura tersebut seringkali dicampur dengan Bahasa Jawa sehingga seringkali mereka lebih menyukai untuk disebut sebagai Pendalungan dibandingkan sebagai Madura.

Sebagian besar masyarakat di Jawa Timur, kecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo biasanya mampu berkomunikasi  menggunakan bahasa Madura.

Dengan wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Jawa, maka hal yang sangat wajar jika kemudian terdapat banyak kesamaan antara bahasa Madura dengan bahasa Jawa. Hal tersebut terutama nampak pada tingkatan bahasa (unggah-ungguh) pada bahasa Madura yang cukup mirip dengan bahasa Jawa.

Meskipun mirip, namun bahasa Madura tetap memiliki keunikannya sendiri, terutama dalam hal pelafalan. Karakter pelafalan yang unik tersebut terkadang membuat orang yang ingin mempelajari bahasa Madura merasa sedikit kesulitan.

Bahasa Minangkabau

Bahasa Minangkabau adalah bahasa yang digunakan oleh Suku Minangkabau. Suku Minangkabau merupakan kelompok etnis asli Nusantara yang memiliki penyebaran luas di Pulau Sumatera.

Wilayah persebarannya antara lain Sumatera Barat, bagian barat Riau, bagian barat Jambi, pantau barat Sumatera Barat, Aceh, bagian utara Bengkulu, hingga ke negara Malaysia (Negeri Sembilan).

Baca Juga: Danau Toba: Wisata Alam dan Budaya

Berdasarkan sensus, diperkirakan jumlah penutur bahasa Minangkabau yaitu sekitar 5,53 orang. Bahasa Minangkabau atau juga disebut bahasa Minang merupakan salah satu bahasa dari rumpun Melayu yang dituturkan oleh masyarakat Minangkabau sebagai bahasa ibu.

Bahasa Minagkabau menjadi bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Pulau Sumatera dan menjadi peringkat keempat terbanyak di Indonesia.

Bahasa Minangkabau memiliki cukup banyak dialek, misalnya dialek Padang (Minangkabau Baku),  Padang Panjang, Salimpaung, Rao-Rao Batusangkar,  Batusangkar, Mandahiling Kuti Anyie, Sungai Batang, Pariaman, Kurai, Kuranji, dan Ludai.

beberapa dialek memiliki perbedaan yang sangat menonjol, misalnya dialek yang dituturkan pada daerah Pesisir Selatan, Sumatra Barat dan dialek yang dituturkan di Mukomuko, Bengkulu.

Bahasa Minangkabau memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu, baik secara kosakata maupun dialek. Masih menjadi perdebatan tentang hubungan keterkaitan antara bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu.

Ada yang menganggap bahwa bahasa Minangkabau adalah bahasa yang mandiri dan berbeda dengan bahasa Melayu, namun ada pula yang beranggapan bahwa bahasa Minangkabau adalah salah satu dialek dari bahasa Melayu.

Perbedaan pendapat tersebut antara lain disebabkan oleh adanya teori yang menganggap bahwa bahasa Melayu bukanlah satu bahasa, melainkan lebih tepat disebut satu kelompok bahasa dalam rumpun bahasa Melayic (dan bahasa Minangkabau termasuk didalamnya).

Hingga kini, bahasa Minangkabau masih cukup sering digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari oleh masyarakat setempat. Banyaknya warga yang merantau ikut memperluas sebaran penutur bahasa ini baik di Pulau Sumatera maupun pulau-pulau lainnya seperti Jawa dan Kalimantan.

Bahasa Minangkabau juga menjadi salah satu bahasa yang dituturkan di Negeri Sembilan Malaysia, di mana nenek moyang masyarakat Negeri Sembilan adalah pendatang dari Minangkabau yang mendarat ke sana pada sekitar abad keempatbelas. Di Negeri Sembilan, dialek bahasa Minangkabau dikenal dengan sebutan Basi Nogoghi.

Bahasa Musi/Palembang

Selain bahasa Minagkabau, bahasa daerah lain dengan jumlah penutur terbanyak di Pulau Sumatera adalah bahasa Musi. Bahasa Musi, yang disebut juga dengan bahasa Sekayu atau bahasa Palembang, digunakan oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang hulu dan hilir sungai Musi, Provinsi Sumatera Selatan.

Berdasarkan hasil sensus, diketahui bahwa jumlah penutur bahasa Palembang yaitu sekitar 3,9 juta jiwa. Angka ini merupakan tertinggi kedua di Pulau Sumatera (di bawah bahasa Minang) dan tertinggi kelima se-Indonesia sebagai bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak.

Baca Juga: Asal Usul dan Fakta Tari Dolalak

Bahasa Palembang memiliki ragam dialek yang cukup banyak, antara lain dialek Palembang, Palembang Lama, Musi Skeayu, Belide, Burai, Kelingi, Lematang Ilir, Pegagan, dan Rawas. Bahasa Palembang termasuk kedalam kelompk bahasa Melayu. Bahasa Palembang juga memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat dengan bahasa Minangkabau, bahasa Banjar, bahasa jambi, serta bahasa Indonesia.

Bahasa Palembang juga berfungsi sebagai lingua franca atau bahasa pemersatu. Kuat dugaan bahwa bahasa Palembang merupakan sebuah bahasa umum yang tercipta karena adanya interaksi antara penduduk  setempat dengan penduduk beretnis lain.

Seperti bahasa-bahasa Melayu lain, bahasa Musi atau bahasa Palembang ini adalah turunan dari bahasa Proto-Malayik yang diduga berasal dari wilayah Kalimantan Barat. Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang adalah salah satu bukti tertulis dari rumpun bahasa Malayik yang digunakan di wilayah tersebut.

Walau demikian, para pakar bahasa masih perlu meneliti lebih lanjut untuk membuktikan bahwa ragam bahasa yang dipakai di prasasti tersebut adalah leluhur langsung dari bahasa-bahasa Melayu modern (termasuk Palembang) atau bukan.

Selain dari bukti-bukti berupa prasasti, sejauh ini masih jarang ditemukan sumber tertulis lainnya yang dapat dijadikan acuan dalam meneliti perkembangan bahasa Palembang. Salah satu sumber tertulis tentang bahasa Palembang yaitu Kitab Undang-Undang Simbur Cahaya, yang diduga kuat disusun oleh Ratu Sinuhun yang merupakan istri dari penguasa Palembang Pangeran Sido ing Kenayan sekitar abad ke-17. Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Melayu Klasik dengan sedikit pengaruh bahasa Jawa.

Bahasa Bugis

Pulau Sulawesi tidak hanya dikenal dengan keragaman flora faunanya, tetapi juga keragaman bahasa daerahnya. Salah satunya adalah bahasa Bugis. Bahasa Bugis merupakan bahasa daerah yang dituturkan oleh masyarakat Suku Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Majene, Luwu, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo, Bone, Sinjai, Pinrang, Kota Parepare serta sebagian Kabupaten Enrekang, Majene, dan Bulukumba.

Selain banyak digunakan atau dituturkan oleh penduduk di Sulaewsi, penutur bahasa Bugis juga dapat ditemukan di pulau-pulau lain, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku, serta Papua. bahasa Bugis adalah bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Pulau Sulawesi, yaitu sebanyak 3,5 juta orang.

Sama seperti bahasa daerah lain, bahasa Bugis memiliki banyak dialek, antara lain dialek Luwu, Sawitto, Barru, Wajo, Soppeng, Sinjai, Pasangkayu, Sidrap, Camba, Pangkep, dan Bone. Beberapa dialek memiliki kemiripan satu dengan yang lain, misalnya dialek Sidrap yang memiliki kemiripan dengan dialek Pinrang, tetapi juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan walaupun berdekatan, misalnya perbedaan antara dialek Bone Utara dengan Bone Selatan.

Selain perbedaan dialek, terdapat pula perbedaan secara kosakata. Hal tersebut contohnya nampak antara dialek Sidrap dan Pinrang dengan dialek Bugis yang lain. Dialek Sidrap dan Pinrang menggunakan kata Loka untuk pisang. Berbeda dengan dialek Sidrap dan Pinrang, pada dialek Bugis yang lain menggunakan Otti atau Utti.

Suku Bugis memiliki peninggalan sastra yang cukup penting. Karya sastra yang disebut terbesar di dunia bernama Lagaligo memakai Bahasa Bugis tinggi yang disebut bahasa Torilangi. Bahasa Bugis umum menyebut kata Menre’ atau Manai untuk kata yang berarti “ke atas/naik”. Sedangkan bahasa Torilangi menggunakan kata “Manerru”.

Perbedaan penggunaan bahasa juga dapat dipengaruhi oleh kedudukan sosial. Terdapat aturan khusus untukt penggunaan bahasa Bugis di kalangan kerajaan. Misalnya ketika suasana duka/meninggal. Apabila terdapat orang biasa yang meninggal, digunakan kata “Lele ri Pammasena” atau “mate”. Sedangkan jika Raja atau kerabatnya yang meninggal digunakan kata “Mallinrung”.

Bahasa Aceh

Bahasa Aceh merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Aceh, terutama di wilayah pesisir Aceh. Bahasa ini dituturkan mulai dari Manyak Payed, Aceh Tamiang di pesisir timur sampai ke Trumon, Aceh Selatan di pesisir barat.. Bahasa Aceh digolongkan sebagai cabang dari rumpun bahasa Austronesia.

Beberapa bahasa yang memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan bahasa Aceh antara lain bahasa Rade, Jarai, dan Roglai. Bahasa Aceh juga memiliki kekerabatan yang dekat dengan bahasa daerah lain di Nusantara, msalnya bahasa Minangkabau. Jumlah penutur bahasa Aceh diperkirakan mencapai 3,5 juta orang.

Baca Juga: Gotong Royong Adalah Budaya Sejati Bangsa Indonesia!

manuskrip tertua yang dapat ditemukan sampai saat ini adalah Hikayat Seuma’un, yang ditulis pada tahun 1069 Hijriyah atau sekitar 1658/1659 Masehi. Sebelum era kolonial Belanda, hampir semua literatur berbahasa Aceh berbentuk puisi yang disebut hikayat. Sedikit sekali yang berbentuk prosa dan salah satunya adalah Kitab Bakeu Meunan yang merupakan terjemahan kitab Qawaa’id al-Islaam.

Saat Belanda mulai datang dan memasuki wilayah Aceh, kemudian muncullah karya tulis berbahasa Aceh dalam bentuk lain, yaitu prosa pada tahun 1930-an. Contohnya yaitu “Lhee Saboh Nang” yang ditulis oleh Aboe Bakar dan De Vries. Setelah itu mulailah bermunculan berbagai karya tulis berbentuk prosa di Aceh.

Walau demikian, karya tulis hikayat masih  tetap lebih dominan ketimbang prosa. Bahasa Aceh memakai aksara Arab yang disebut dengan “jawoe” atau aksara Jawi dalam bahasa Melayu. Sejak penjajahan Belanda, bahasa Aceh lalu ditulis dalam bentuk aksara Latin.

Bahasa Bali

Bahasa Bali selain digunakan oleh masyarakat di Pulau Bali, juga digunakan oleh sebagain masyarakat di wilayah-wilayah sekitarnya, seperti Nusa Tenggara Barat (khususnya Lombok bagian barat) dan ujung timur Pulau Jawa (Banyuwangi, Situbondp, dsb.) Berdasarkan sensus, diketahui jumlah pengguna atau penutur dari bahasa Bali yaitu sekitar 3,33 juta orang.

Bahasa Bali memiliki kekerabatan dengan bahasa lain, misanya bahasa Jawa, bahasa Sumbawa, serta bahasa Sasak. Bahasa Bali memiliki beberapa kemiripan dengan bahasa Jawa. Salah satunya dari tingkatan bahasa. Seperti yang ditemukan pada bahasa Jawa, bahasa Bali juga memiliki beberapa tingkatan bahasa, yaitu bahasa Bali kasar, Bali madya, dan Bali alus. Selain itu, terdapat juga beberapa kosat kata di bahasa Bali yang berakar dari bahasa Jawa.

Adanya tingkatan bahasa tersebut salah satunya akibat dari pengaruh bahasa Jawa yang menyebar ke Bali sejak zaman Majapahit dan zaman Mataram Islam. Bahasa Bali alus digunakan untuk berkomunikasi secara formal, misalnya saat berbicara di rapat atau pertemuan desa adat, melamar perempuan, ataupun antara orang berkasta rendah dengan berkasta lebih tinggi.

Bahasa Bali madya digunakam di level masyarakat menengah, contohnya antara pejabat dengan prajuritnya. Untuk bahasa Bali kasar biasanya digunakan untuk komunikasi orang dengan kasta sosial yang lebih rendah, misalnya antara sesama kaum sudra atau antara bangsawan dengan abdi dalemnya.

Bahasa Bali juga memiliki keragaman dialek, antara lain dialek Dataran Rendah Bali dan dialek Dataran Tinggi Bali. Dialek Dataran Rendah Bali dituturkan di daerah Tabanan, Jembrana, Badung, Klungkung, Karangasem, Buleleng, dan Gianyar, sedangkan dialek dataran tinggi dituturkan di Nusa Penida dan Bali Aga.

Bahasa Betawi

Bahasa Betawi, atau disebut juga dengan Melayu Batavia atau Melayu Dialek Jakarta adalah salah satu peninggalan budaya dari Suku Betawi. Berdasarkan kekerabatan bahasa, bahasa Betawi masih memiliki kekerabatan yang dekat dengan bahasa Melayu.

Bahasa Betawi merupakan bahawa percampuran atau bahasa kreol dari bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan Bali. Bahasa Betawi juga mendapat pengaruh dari bahasa-bahasa asing, semisal bahasa Arab, Belanda, Portugis, dan Tiongkok.

Berdasarkan sensus, jumlah penutur bahasa Betawi ditaksir mencapai 2,7 juta orang. Jumlah tersebut menempatkan bahasa Betawi di urutan sepuluh bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia.

Sebagai bahasa percampuran, bahasa Betawi berkembang secara alami dan tidak memiliki struktur yang baku. Walau demikian, bahasa Betawi tetap memiliki ciri linguistik tersendiri. Pada mulanya, bahasa Betawi digunakan oleh masyarakat menengah ke bawah. Komunitas budak dan para pedagang jadi kalangan yang paling sering menggunakan bahasa ini.

Bahasa Banjar

Bahasa Banjar merupakan bahasa yang digunakan Suku Banjar yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Selain di Kalimantan Selatan, bahasa Banjar juga dituturkan di daerah sekitarnya, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Riau. Penutur bahasa ini juga dapat ditemukan di negara lain, seperti Singapura dan Malaysia.

Kosa kata dan dialek dari bahasa Banjar dipengaruhi oleh beberapa bahasa, diantaranya bahasa Melayu, Dayak, dan juga Jawa. Berdasarkan hasil sensus penduduk, diketahui jumlah penutur bahasa Banjar di Indonesia yaitu mencapai 3,5 juta orang, atau terbanyak ketujuh di banding dengan bahasa daerah lain di Indonesia.

Secara umum, bahasa Banjar memiliki dua dialek utama, yaitu dialek Hulu dan dialek Kuala. Dialek Hulu banyak dituturkan oleh masayarakat yang berada di daerah hulu sungai, sedangkan dialek Bnjar banyak dituturkan oleh masyakat di Martapura, Banjarmasin, dan Pelaihari.

Pada perkembangannya, bahasa ini diduga  mengalami percampuran dengan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing. Walau demikian, bahasa Banjar bisa dibilang masih lestari dan aman dari kepunahan karena jumlah penuturnya yang masih cukup banyak, baik oleh masyarakat Suku Banjar sendiri atupun masyarakat pendatang.

Meskipun  penggunaan bahasa Banjar menunjukkan penurunan, tetapi lajunya masih tidak terlalu mengkhawatirkan. Sekolah-sekolah di wilayah tersebut juga mengajarkan bahasa ini kepada para siswa sebagai muatan lokal. Hal tersebut diharapkan dapat menjaga keberadaan dari bahasa Banjar.

Oleh: Riyyan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*