Kuntau Bangkui: Beladiri Tradisional Kalimantan

source : w2h film

Suku Dayak adalah suku asli dari Kalimantan yang terkenal dengan beberapa mitos kebudayaannya. Selain terkenal dengan kekuatan magisnya, suku Dayak juga memiliki berbagai bentuk kebudayaan yang masih dipertahankan sampai sekarang.

Orang Dayak memang masih memegang adat istiadat dari nenek moyangnya. Diantara beberapa kebudayaan dari Kalimantan yaitu tarian adat seperti tari Gantar, tari Kancet Lasan, tari Kancet Papatai, penggunaan senjata Sumpit dan Mandau untuk berburu.

Bahkan tradisi Telingaan Aruu yang memasangkan banyak anting besar dan berat untuk membuat lubang telinga perempuan menjadi besar. Semakin panjang lubang telinga perempuan akibat Telingaan Aruu, maka dia akan dianggap semakin cantik.

Terdapat satu kesenian yang cukup menarik namun tidak begitu terkenal dari suku Dayak yaitu Kuntau Bangkui. Kuntau Bangkui sejatinya merupakan kesenian beladiri yang lebih banyak mencakup teknik “mundur dan menyerang”.

Gerakan-gerakan dalam Kuntau Bangkui konon memiliki kesamaan dengan beladiri dari daratan China. Seni beladiri ini diperuntukan bagi laki-laki Dayak dan merupakan sebuah keharusan untuk menguasainya pada zaman dahulu.

source : w2h film

Hal itu dikarenakan kebutuhan untuk perlindungan diri atau self-defense mengingat pertarungan antar suku pada masa itu masih banyak terjadi. Belum lagi penggunaan senjata-senjata berbahaya seperti Sumpit dan Mandau, karena itu para laki-laki Dayak wajib menguasai pertarungan tangan kosong disamping juga mahir dalam menggunakan senjata.

Kuntau mulai berakulturasi dengan seni beladiri lainnya, terutama silat yang memiliki dasar gerakan yang mirip dan melahirkan sebuah seni beladiri baru yang disebut dengan silat-Kuntau. Seni beladiri gabungan ini lebih terkenal di luar daerah Kalimantan dan Sumatera.

Beladiri ini diberi nama Kuntau Bangkui, diambil dari nama monyet yang ada di pedalaman hutan Kalimantan yaitu monyet Bangkui. Kata “Kuntau” sendiri berasal dari beladiri silat tradisional “Kuntao” yang diciptakan oleh kelompok keturunan China di kawasan Asia Tenggara, atau tepatnya di Kepulauan Melayu yang menjadi dasar dari beladiri ini.

Menurut legenda, monyet Bangkui dikisahkan dapat menghindari lemparan tombak pemburu dengan gerakan yang didominasi dengan gerak mundur dan menghindar.

Setelah berhasil meloloskan diri dari serangan tombak pemburu, monyet-monyet Bangkui ini justru melancarkan serangan balik yang membuat para pemburu melarikan diri.

Melihat kelihaian monyet Bangkui dalam mengantisipasi serangan, para pemburu ini pun terinspirasi untuk menciptakan sebuah seni bela diri yang menggabungkan kelincahan gerak dan ketangkasan.

Selain di Kalimantan, seni beladiri ini juga ditemukan di daerah lain yaitu Sumatera Selatan dengan nama Kuntau Sebalik, dan Kuntao di Filipina.

Sayangnya, seni beladiri ini mulai ditinggalkan, sama seperti budaya tradisional lain yang semakin tergerus zaman seperti Telingaan Aruu.

Terutama dengan masuknya budaya modern dan kehidupan urban, menjadikan kesenian beladiri Kuntau Bakuin ini semakin sedikit peminatnya.

Sekarang Kuntau Bakuin lebih digunakan sebagai pertunjukan kesenian semata pada acara adat maupun pesta perkawinan setempat, bukan lagi sebagai keterampilan yang wajib dimiliki untuk bertarung.

oleh: caterina

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*