15 Kumpulan Permainan Tradisional Sunda (Jawa Barat)

Masa anak-anak adalah masa yang menyenangkan. Ya, pada masa tersebut waktu-waktu kita banyak diisi dengan kegiatan bermain. Kegiatan bermain sangat baik untuk perkembangan anak. Bermain dapat melatih kecerdasan, ketangkasan, dan kemampuan sosial sang anak.

Teknologi yang makin maju turut memengaruhi cara anak-anak dalam bermain. Kini, makin banyak anak-anak yang sibuk dengan gadgetnya. Sekarang makin jarang kita lihat anak-anak bermain bersama-sama di luar rumah/ruang terbuka. Kini makin banyak anak-anak yang kecanduan bermain game online.

Sebenarnya game-game semacam tersebut bisa berdampak baik, hanya saja jika mengakibatkan kecanduan akan berdampak buruk bagi kesehatan dan perkembangan anak. Maka dari itu, kegiatan tersebut harus pula dibarengi dengan kegiatan-kegiatan di luar ruangan yang menyehatkan.

Baca Juga: 21 Makanan Tradisional Khas Betawi Tempo Dulu

Jika kita mengingat-ingat lagi masa-masa kecil dulu, masa di mana game dengan gadget belum sepopuler sekarang, banyak sekali jenis-jenis permainan tradisional yang sering dimainkan.

Selain menyehatkan, permainan-permainan tradisional tersebut membuat anak terlatih kemampuan komunikasi dan sosialisasinya. Tidak sekedar permainan, tapi di balik permainan tersebut terdapat manfaat bagi anak yang memainkannya

Di Indonesia sendiri terdapat banyak sekali permainan tradisional. Berdasarkan Pada Jurnal Sosbud Vol 9 Tahun 2012 yang ditulis oleh Tuti Andriani, Overback mencantukan data ada lebih dari 690 permainan anak-anak dan nyanyian di Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kemdikbud dalam statistik kebudayaan 2016, setidaknya ada 424 permainan tradisional yang diidentifikasi di seluruh Indonesia. Artinya permainan trasidional sebagai warisan budaya jumlahnya sangat banyak sekali.

Permainan tradisoonal ini, termasuk salah satunya di daerah Sunda atau Provinsi Jawa Barat dan sekitarnya. Apa saja permainan tradisional yang dapat dijumpai di daerah Sunda? Berikut ini beberapa diantaranya.

Oray-Orayan

Salah satu permainan tradisional Sunda yang cukup populer yaitu oray-orayan. Oray-orayan adalah permainan tradisional Sunda yang masih banyak dimainkan hingga sekarang. Anak-anak menyukai permainan ini karena mudah dilakukan dan bisa menciptakan suasana yang menyenangkan.

Oray berasal dari bahasa Sunda yang berarti ular. Pada oray-orayan, anak-anak membentuk barisan seperti ular. Bagian depan barisan bertindak sebagai kepala, sedangkan barisan bagian belakang bertindak sebagai ekor. Para pemain membentuk barisan satu kolom dengan saling menumpu kedua tangan pada pundak teman di depannya.

Dengan posisi tersebut, sambil berjalan mereka menyanyikan syair sebagai berikut:

Oray orayan
Luar leor mapay sawah
Tong ka sawah
Parena keur sedeng beukah
Oray-orayan
Laur leor mapay leuwi
Tang ka leuwi
Di leuwi loba nu mandi
Oray-orayan
Oray naon, orya bungka, bungka naon, bungka laut
Laut naon, laut dipa, dipa naon, dipandeuriii…

Saat syair selesai dinyanyikan, lalu pemain yang bertindak sebagai kepala (barisan terdepan) lalu berusaha untuk menyergap bagian ekor. Sang ekor kemudian berusaha untuk menyergap bagian ekor. Untuk pemain lain yang berada di bagian tubuh (bagian tengah barisan) harus tetap berpegangan dan tidan boleh terputus. Pergerakan aktif kepala, tubuh, dan ekor membuat barisan nampak meliuk-liuk seperti ular. Permainan ini dapat melatih ketangkasan dan konsentrasi anak.

Hahayaman

Hahayaman berasal dari bahasa sunda hayam yang artinya ayam. Permainan ini juga dikenal dengan istilah ayam-ayaman. Hahayaman adalah permainan tradisional yang dapat dimainkan dengan jumlah pemain yang banyak. Hahayaman dimainkan dengan cara membuat lingkaran besar. Kemudian, terdapat anak yang bertindak sebagai “ayam” dan satu anak lain bertindak sebagai “musang”.

Anak yang bertindak sebagai musang harus mengejar ayam hingga dapat. Namun, terdapat peraturan bahwa musang tidak boleh menangkap ayam jika ayam tersebut memasuki lingkaran. Apabila musang berhasil menangkap ayam, maka permainan dimulai lagi dari awal dengan memilih anak lain  untuk berperan sebagai ayam dan musang yang baru.

Baca Juga: Musyawarah Mufakat di Masa Kerajaan, Kemerdekaan, Saat Ini

Permainan ini selain menyenangkan, juga dapat bermanfaat bagi perkembangan sang anak. Hahayaman dapat melatih ketangkasan anak, karena pada permainan ini anak harus berlari dan menghindar dari kejaran musang. Selain itu, permainan ini juga dapat melatih pengambilan keputusan anak. Dengan jumlah pemain yang cukup banyak, permianan hahayaman juga dapat membantu anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Galah Asin

Galah asin termasuk permaonan yang cukup populer di Jawa Barat. Permainan ini umumnya dimainkan oleh anak laki-laki, walau bisa juga dimainkan oleh anak perempuan. Permainan galah asin juga dikenal di daerah lain dengan nama gobak sodor. Permainan tradisional ini dimainkan dengan pemain berjumlah genap, yang umumnya berkisar 4-10 anak. Para pemain dibagi menjadi dua tim.

Permainan galah asin dimainkan pada lapangan berbentuk persegi panjang. Lalu  antar garis panjang ditarik garis melintang hingga membentuk beberapa persegi panjang. Kemudian, ditarik garis tengah yang tegak lurus dengan garis melintang sehingga terbentuk banyak petak yang sama besar.

Salah satu tim bertugas menjaga petak dengan bergerak pada garis tersebut, sedangkan tim yang lain (tim serang) berusaha untuk menerobosnya. Tim serang keluar sebagai pemenang apabila pemainnya mampu menerobos garis dan kembali ke titik awal tanpa dapat disentuh oleh penjaga.

Permainan ini dapat melatih kemampuan anak dalam bekerja sama. Selain itu, permainan ini juga dapat mengasah anak untuk mampu berpikir cepat dan segera mengambil keputusan. Fisik juga ikut terlatih karena dibutuhkan energi yang besar untuk berlari dengan cepat.

Congklak

Congklak umumnya dimainkan oleh anak perempuan. Walaupun sebenarnya anak-laki-laki pun dapat memainkannya. Congklak dimainkan pada sebuah alat yang terbuat dari kayu atau plastik yang berbentuk seperti perahu dengan panjang 30-50 cm. Pada bagian tengahnya terdapat lubang-lubang sebagai tempat untuk menyimpan biji atau batu.

Jumlah lubang cukup bervariasi, umumnya berkisar 7-14 lubang ditambah satu gunung (tempat penyimpanan) di bagian ujung pada masing-masing pemain. Selain menggunakan alat, pemain dapat menggantinya dengan menggambar bentuk tersebut pada tanah.

Congklak umumnya dimainkan oleh dua orang. Permainan ini dimainkan dengan aturan berikut. Pemain 1 memindahkan batu dengan cara memasukkannya ke tiap lubang dan gunung yang dimilikinya.

Apabila  batu terakhir habis pada lubang yang kosong maka ia dapat “menembak” lubang yang ada diseberangnya, berapapun isi batunya.

Setelah itu Pemain 2 mendapat giliran, jika batu terakhir jatuh pada gunung maka pemain 1 bisa melanjutkan permainan dengan mengambil batu yang ada di lubang mana saja di sisi pemain 1, dan jika batu berakhir pada lubang yang kosong, maka giliran pemain 2 yang bermain.

Permainan ini dapat mendidik anak untuk bersikap jujur, teliti, dan patuh terhadap aturan. Selain itu, permainan ini juga bermanfaat untuk melatih kemampuan berhitung sang anak. Permainan congklak ini masih cukup banyak diminati dan dimainkan oleh anak-anak baik saat waktu istirahat maupun sepulang dari sekolah.

Bebentengan

Satu lagi permainan tradisional yang seru dan asyik untuk dimainkan yaitu bebentengan. Bebentengan juga dikenal dengan beberapa nama lain di Jawa Barat, misalnya rerebonan. Permainan ini juga memiliki sebutan lain di luar Jawa Barat, antara lain benteng-bentengan, jek-jekan, pris-prisan, pal-palan, dan omer. Bebentengan berasal dari kata benteng atau pertahanan. Permainan ini lebih sering dimainkan oleh anak laki-laki.

Permainan ini memiliki keterkaitan sejarah dengan jaman kolonial Belanda pada masa lalu, di mana para pejuang Indonesia bertahan dari serangan penjajah Belanda dengan membangun benteng.

Benteng inilah yang kemudian dianalogikan pada permainan anak-anak. Bebentengan dimainkan dengan membagi 4-8 orang ke dalam dua tim. Setiap tim memiliki markas yang harus dijaga, yang umumnya berupa tiang atau pohon. Markas tersebut disebut dengan istilah benteng.

Permainan ini dimainkan di lapangan atau tanah kosong dengan ukuran yang variatif. Yang terpenting jarak antar kedua bentang tidak terlalu dekat. Permainan ini memiliki aturan yang cukup simpel. Setiap anggota tim harus berusaha menyentuh benteng.

Apabila terdapat anggota yang bergerak menjauh/tidak menyentuh benteng, maka anggota tersebut disebut lamo. Seorang yang berstatus lamo dapat dikejar, diburu, dan ditawan oleh anggota dari benteng lawan yang berstatus baru.

Seseorang dapat bebas dari status tawanan jika ada anggota lain yang membebaskannya. Permainan akan dimenangkan oleh tim yang mampu mempertahankan bentengnya serta mamppu menyentuh benteng lawan tanpa tersentuh oleh lawan. Bebentengan dapat menumbuhkan sikap saling bekerja sama, peduli, dan berani. Dari sisi kesehatan, bebentengan dapat melatih alat gerak anak .

Ucing-Ucingan

Ucing-ucingan berasal dari kata ucing yang dalam bahasa sunda, yang memiliki arti kucing. Permainan ini dimainkan seolah-olah seperti anjing yang sedang mengejar-ngejar kucing. Pengejaran tersebut dilakukan pada sebuah pagar lingkaran yang dibuat oleh para pemain dengan cara saling berpegangan tangan.

Ucing-ucingan dapat dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan. Jumlah pemainnya dapat bervariasi, tergantung dari seberapa banyak anak yang ingin bermain. Peran dalam permainan sendiri terbagi menjadi tiga peran, yaitu kelompok kucing, kelompok anjing, dan wasit.

Permainan ini bisa dilakukan di halaman rumah, lapangan, ataupun tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk berlari. Anak yang terpilih sebagai kucing akan ditempatkan di dalam lingkaran, sedangkan anak yang berperan sebagai anjing akan berada di luar lingkaran.

Anjing akan mencoba untuk menerobos lingkaran dan berusaha menangkap kucing. Permainan berkahir saat anjing berhasil menangkap kucing, dan setelah itu permainan dimulai kembali dari awal.

Permainan ini bagus untuk melatih ketangkasan anak dalam merespon situasi. Kecermatan anak juga dibutuhkan untuk menemukan peluang ataupun melindungi diri dari sergapan musuh.

Ucing Sumput

Ucing sumput juga populer dengan sembutan petak umpet. Ucing sumput merupakan bahasa sunda yang berarti “kucing sembunyi”. Permainan ini dimainkan minimal oleh dua orang. Semakin banyak jumlah peserta, maka permainan akan semakin menarik.

Untuk memulai permainan, para pemain terlebih dahulu melakukan “gambreng” atau “hompimpa” dalam bahasa Indonesia. Gambreng dilakukan untuk menentukan sapa yang menjadi kucing. Kucing bertugas untuk mencari pemain-pemain lain yang bersembunyi.

Di awal permainan, kucing akan menghadap tembok sambil memejamkan mata dan menghitung mundur (biasanya sepuluh detik). Setelah itu kucing akan bergerak mencari pemain yang bersembunyi.

Apabila si kucing berhasil menemukan pemain yang bersembunyi, maka si kucing akan segera kembali menyentuh tembok dan mengucapkan nama pemain yang diteukannya tersebut. Permainan akan selesai ketika semua pemain berhasil ditemukan dari tempat persembunyiannya.

Baca Juga: 5 Tips Memilih dan Memelihara Kucing untuk Pemula

Permainan ucing sumput ini mendidik anak untuk dapat berhati-hati dan cermat. Peran kucing juga bermanfaat untuk melatih kewaspadaan dan respon cepat ketika menemukan pemain yang bersembunyi.

Gugunungan

Permainan tradisional lain yang cukup populer di Jawa Barat yaitu gugunungan. Permainan ini biasa dimainkan baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Permainan ini dilakukan dengan terlebih dahulu membuat gambar (gunungan) di atas tanah. Permainan ini minimal dilakukan oleh dua orang pemain.

Gugunungan memerlukan alat berupa batu, pecahan genting, atau keramik sebagai gacuk. Pemain mendapat giliran bermain secara bergantian. Untuk menentukan urutan giliran, biasanya para pemain akan terlebih dulu melakukan undian/hompimpa.

Gugunangan sendiri terdiri dari beberapa petak. Para pemain diharuskan untuk melewati petak-petak tersebut dengan melompat menggunakan satu kaki. Pemain memulai start dengan melompat dengan ke tiap kotak dengan 1 kaki, kecuali kotak nomor 4 dan 6. 

Ketika sampai di petak nomor 7, pemain tersebut harus mengambil gacuk dengan berbalik arah atau mengambil dengan mata tertutup. Anggita tubuh tidak diperbolehkan untuk menyentuh garis. Pemain yang mampu lolos hingga petak pada nomor 7, lalu  harus melemparkan gacuknya ke luar busur singkaran. Jika pemain tersebut gagal melakukannya/melanggar peraturan, maka permainan berhenti lalu dilanjutkan ke giliran pemain berikutnya.

Gugunungan melatih koordinasi gerakan anak, khususnya gerakan alat gerak bagian bawah. Permainannya yang mengharuskan untuk melompat dengan satu kaki akan melatih keseimbangan dan kekuatan otot kaki.   

Jajangkungan (Egrang)

Jajangkungan merupakan salah satu permainan tradisional Sunda yang masih lestari hingga kini. Jajangkungan juga dikenal dengan istilah egrang di beberapa daerah.Jajangkungan dimainkan dengan sepasang galah atau tongkat yang biasanya terbuat dari bambu setinnggi 2-3 meter.

Jenis bambu yang umum digunakan untuk membuat jajangkungan yaitu babmbu hijau, bambu tali, atau bambu hitam. Jenis-jenis bambu ini memiliki kekuatan dan daya tahan yang baik, sehingga tidak mudah rusak saat dipijak.

Pada bagian bawah bambu tersebut terdapat pijakan kaki untuk tempat naik si pemain. Jajangkungan dapat dipertandingkan dengan beberapa cara, antara lain adu cepat, adu keseimbangan, dan sebagainya. Jajangkungan juga dapat dipadukan dengan permainan lain, misalnya sepakbola atau memecah kendi.

Kunci dari permainan ini yaitu keseimbangan tubuh. Untuk dapat menaiki egrang, kita harus mampu menjaga keseimbangan tubuh. Tanpa keseimbangan tubuh yang baik, maka kemungkinan untuk terjatuh jadi lebih besar.

Selain bermanfaat untuk melatih keseimbangan tubuh, permainan ini juga dapat bermanfaat untuk melatih konsentrasi serta keberanian anak. Hingga kini jajangkungan masih sering diperlombakan ada lomba-lomba permainan tradisional sunda ataupun lomba perayaan kemerdekaan.

Anjang-Anjangan

Permainan anjang-anjangan banyak juga dikenal dengan istilah lain, yaitu imah-imahan dan sesemahan. Permainan ini bisa dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan, walau biasanya permainan ini lebih sering dimainkan oleh anak perempuan. Anjang-anjangan adalah sebuah permainan peran, di mana para pemain berperan seperti orang-orang dewasa yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari.

Anjang-anjangan bisa dilakukan di dalam atau di halaman rumah. Permainan ini biasanya membutuhkan beberapa alat atau benda yang merupakan tiruan dari benda-benda yang sebenarnya (misalnya gelas mainan, kompor mainan, daun sebagai pengganti uang, boneka hewan, dll.).

Anjang-anjangan dimainkan dengan jumlah pemain yang variatif. Semakin banyak yang ikut biasanya makin menambah keseruan. Sebelum permainan dimulai, para pemain biasanya mendiskusikan terlebih dahulu tema atau aktivitas apa yang ingin diperankan. Kemudian terjadilah pembagian peran dan persiapan alat/benda. Setiap pemain lalu berakting dan melakukan dalog sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya.

Permainan ini memiliki banyak manfaat positif untuk anak. Anjang-anjangan melatih anak untuk peka terhadap kehidupan di sekitarnya, melatih jiwa sosial, menumbuhkan rasa percaya diri, serta mengajarkan kebersamaan serta kerja sama dengan orang lain. Permainan ini dapat melatih anak untuk berkomunikasi dengan lancar dan merespon perkataan/perilaku orang disekitarnya.

Endog-Endogan

Endog-endogan adalah permainan yang sering dimainakn anak-anak di tanah Sunda atau Jawa Barat. Endog-endogan berasal dari kata endog yang berarti telur. Permainan ini minimal dilakukan oleh dua orang pemain.

Permainan ini dilakukan dengan mengatur posisi tangan sambil menyanyikan sebuah syair. Pertama-tama, tangan dari para pemain dikepalkan lalu ditumpuk-tumpuk menyerupai bentuk telur. Lalu, pemain menyanyikan lagu bersama-sama dengan syair berikut:

Endog–endogan peupeus hiji pre. Endog–endogan peupeus hiji pre.
Endog–endogan peupeus hiji pre. Endog–endogan peupeus hiji pre.

Saat syair sampai di kata “pree”,  tangan yang tadinya mengepal lalu ditembrakan dari yang paling bawah. Setelah semua tangan tidak ada yang mengepal lagi, para pemain kemudian melanjutkan nyanyian lagi dengan syair :

Goleang-goleang mata sapi Bolotot

Umumnya anak-anak menyanyikan lirik terakhir sambil memegang dan memelototkan matanya.

Endog-endogan dmainkan dengan memakai telur-teluran. Telur-teluran tersebut dianalogkan seperti seekor ayam yang sedang mengerami telur. Sang ayam sedang berusaha menjaga telurnya dari pencuri.

Permainan ini dapat melatih kewaspadaan dan konsentrasi dari sang anak. Selain itu, permainan ini cukup sederhana dan menyenangkan secara bersama-sama oleh anak-anak di usia sekolah dasar.

Gatrik

Gatrik atau juga dikenal dengan sebutan tak kadal pernah menjadi permainan yang cukup terkenal di Jawa barat, atau bahkan Indonesia. Permainan gatrik dimainkan secara berkelompok, dengan membagi peserta ke dalam dua kelompk berbeda. Gatrik memakai alat yang dibuat dari dua potongan bambu berukuran sekitar 20-30 cmy ang berbentuk seperti tongkat serta potongan lainny yang berukuran lebih kecil.

Di awal permainan, potongan bambu berukuran kecil diletakkan di antara dua batu, kemudian pemain memukul potongan tersebut dengan tongkat bambu. pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai pukulannya meleset dari potongan bambu tersebut. Setelah itu, pemain dari kelompok lain akan mendapat giliran untuk memukul. Kelompok yang kalah akan mendapatkan hukuman untuk menggendong lawannya.

Gatrik umumnya dimainkan oleh anak laki-laki. Permainan ini membutuhkan kekuatan untuk memukul, sehingga akan melatih kekuatan tangan dari anak. Permainan yang dilakukan secara berkelompok dapat melatih anak untuk bekerja sama dan saling memberi motivasi antar anggota kelompok.

Ucing Beling

Permainan ucing beling memiliki kemiripan dengan permainan ucing sumput. Perbedaan mendasar dari kedua permainan ini yaitu pada ucing sumput yang dicari adalah anak/pemain yang bersembunyi, sedangkan pada ucing beling, yang dicari adalah beling/serpihan kaca yang sengaja disembunyikan. Biasanya permainan tradisional sunda ini dimankan oleh 2-5 anak.

Beling atau serpihan kaca tersebut disembunyikan di area yang telah ditentukan, dengan cara ditutupi dengan benda tertentu, ditimbun di dalam pasir/atanah, rumput, dan sebagainya. Para pemain saling mencari beling. Ketika katakankalah Pemain 1 menemukan belingnya, maka  selanjutnya sang pemain yg kita namakan pemain 1 ini yang akan menyebunyikan beling tersebut untuk kemudian dicari lagioleh pemain lain. Dan begitu seterusnya.

Permainan ini biasa dimainkan oleh anak-anak usia taman kanak-kanak ataupun sekolah dasar. Permainan ini tidak membutuhkan terlalu banyak tenaga, tapi lebih menitikberatkan pada kecermatan anak dalam mencari beling yang disembunyikan. Permainan ini juga dapat melatih kebersamaan serta kesabaran anak.

Boi-Boian

Permainan yang satu ini biasanya dimainkan oleh anak lak-laki. Boi-boian dimainkan dengan membagi pemain ke dalam dua tim. Satu tim harus menyusun pecahan genteng atau batuan pipih sambil menghindari lemparan bola dari pemain tim lain.  Pecahan genteng atau batuan pipih tersebut disusun ke atas membentuk bentuk piramida.

Sedangkan tim yang satunya berusaha untuk melempar bola ke pecahan genteng. Bola yang digunakan memiliki ukuran sebesar bola tenis. Jika tidak tersedia bola, maka dapat diganti dengan kertas yang dibentuk menyerupai bola yang diikat menggunakan karet. Apabila bola mengenai susunan pecahan genteng, maka tim tersebut harus menyusunnya lagi.

Namun hal tersebut harus dilakukan dengan hati-hati. Apabila si pemain terkena lemparan bola dari lawan, maka pemain tersebut dianggap gugur dan harus meninggalkan area permainan. Pemain yang gugur biasanya berada di pinggir arena dan menyemangati teman setimnya yang belum gugur.

Permainan ini memiliki nilai tinggi dalam menjunjung sportivitas. Karakter positif lain yang dapat diambil dari permainan ini yaitu kewaspadaan, kegesitan, serta kehati-hatian dalam mengambil tindakan. Sebagai permainan tim, boi-boian juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama.

Sorodot Gaplok

Permainan sorodot gaplok adalah permainan tradisional sunda yang dimainkan dengan menggunakan batu. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki. Sorodot gaplok berasal dari bahasa sunda, yaitu sorodot yang artinya meluncur dan gaplok yang artinya pukulan atau tamparan. Permainan ini menggunakan istilah gaplok karena pada permainan ini, lemparan batu mengeluarkan suara “plok” yang mirip dengan suara tamparan.

Sorodot gaplok dimainkan oleh dua orang, tetapi juga bisa dimainkan dengan jumlah pemain yang lebih banyak. Apabila jumlah pemain banyak, umumnya pemain akan dibagi terlebih dahulu ke dalam dua tim berbeda. Setelah terbagi menjadi dua tim, dilakukan suit untuk menentukan giliran bermain.

Setelah semuanya siap dan giliran sudah ditentukan, maka tim yang mendapat giliran pertama akan berjajar di garis lempar. Setiap pemain akan mendapatkan giliran untuk melempar batu yang diletakkan di punggung kaki mengincar batu dari pemain lawan.

Untuk melempar batu juga ada aturan tersendiri, yaitu pemain diharuskan mendekati garis lempar dengan lompat menggunakan satu kakiterlebih dahulu sebelum ‘menyorodotkan’ batu tersebut. Tim pelempar keluar sebagai pemenang jika berhasil menjatuhkan semua batu lawannya. Apabila gagal, maka mereka akan mendapat giliran sebagai tim penjaga.

Permainan sorodot gaplok ini dapat melatih ketangkasan, konsentrasi, serta jiwa kepemimpinan dari sang anak. Hingga saat ini permainan ini masih sering dimainkan oleh anak-anak.

Oleh: Riyyan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*