11 Keraton atau Istana Kerajaan yang Ada di Indonesia

Pernahkah kamu berkunjung ke salah satu keraton yang ada di Indonesia? Keraton berasal dari bahasa Jawa, yaitu karaton atau kraton. Karaton dalam bahasa Jawa berarti penguasa.

Keraton memiliki beberapa pengertian. Salah satunya yaitu tempat dari penguasa, baik raja maupun ratu, untuk bertempat tinggal serta menjalankan pemerintahan.  Keraton juga bisa dianggap sebagai istana untuk penguasa/raja.

Tidak sembarang orang dapat masuk apalagi bertempat tinggal di dalam lingkungan keraton. Biasanya, orang yang tinggal di kawasan keraton mempunyai gelar bangsawan.

Baca Juga: Musyawarah Mufakat di Masa Kerajaan, Kemerdekaan, Saat Ini

Di wilayah nusantara ini terdapat cukup banyak kerajaan atau kesultanan yang tersebar di berbagai tempat. Kesultanan tersebut memiliki daerah kekuasaannya masing-masing dan memiliki keratonnya sendiri-sendiri.

Kini, keraton sebagai kekayaan budaya nusantara terus dijaga keaslian dan kelestariannya. Hal tersebut karena keraton dianggap sebagai salah satu tempat bersejarah dan pusat kebudayaan.   Berikut ini adalah beberapa keraton asli Nusantara yang masih terjaga dan banyak dikunjungi sampai sekarang.

Keraton Kaibon (Kesultanan Banten)

Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang berada di daerah Banten. Diperkirakan kesultanan Banten berdiri sekitar tahun 1522-1526, dengan pendirinya yaitu Maulana Hasanuddin. Sekitar tahun 1525, Syarif Hidayatullah yang diperintahkan oleh Sultan Trenggono menaklukkan kawasan Banten tersebut sebagai salah satu cara untuk menyebarkan agama Islam.

Wilayah Banten kemudian menjadi wilayah kekuasaan Demak. Setelah Demak mengalami kejatuhan akibat kekalahan dari Kerajaan Pajang, maka kemudian lambat laun  Banten berkembang menjadi sebuah kesultanan. Kesultanan Banten memiliki keraton yang disebut Keraton Kaibon.

Kaibon dalam bahasa setempat berarti keibuan. Hal tersebut berhubungan dengan sejarah didirikannya keraton ini, di mana keraton ini didirikan untuk Ratu Aisyah yang merupakan ibunda dari Sultan Syaifudin.

Pada tahun 1832, keraton ini bersama dengan Keraton Surowosan sempat dihancurkan oleh penjajah Belanda. Penghancuran tersebut disebabkan karena kemarahan Daendels terhadap Sultan Syaifudin yang dianggap membangkang.

Daendels sebelumnya mengutus Du Puy untuk menyampaikan pesan dari Daendels yang kala itu menjabat sebagai gubernur agar Sultan Syaifudin mau melanjutkan proyek pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Akan tetapi Sultan Syaifuddin menolak mentah-mentah permintaan tersebut. Bahkan dirinya lalu menghukum penggal Du Puy dan mengirimkan kembali pada Daendels.  Hal tersebut memicu kemarahan Daendels hingga akhirnya ia mengirim pasukannya untuk menghancurkan keraton Kaibon.

Baca Juga: Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia dalam Menjaga Alam

Kendati mengalami penghancuran, sebagian bangunan dari Keraton Kaibon masih ada yang tersisa. Gerbang masuk serta pintu-pintu yang ada di kompleks istana beberapa masih tersisa. Hal yang berbeda dialami oleh Keraton Surowosan yang benar-benar hancur tanpa tersisa apapun. Hingg sekarang, para pengunjung Keraton Kaibon masih dapat melihat struktur bangunan yang tersisa, seperti Pintu Paduraksa, Candi Bentar khas Banten, ruangan-ruangan, dsb.

Kekhasan dari bentuk dan struktur Keraton Kaibon ini nampak dari segi arsitekturnya. Keraton ini dikelilingi oleh saluran air, yang membuatnya seakan-akan didirikan di atas air. Setiap jalur masuk baik di depan maupun belakang juga harus melewati saluran air ini. Corak Islam dapat terlihat pada bagian dalam dari keraton ini. Terdapat masjid yang berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi yang menambah kemegahan dari keraton ini.

Keraton Surakarta (Kasunanan Surakarta Hadiningrat)

Keraton Surakarta berlokasi di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Keraton ini merupakan bangunan yang didirikan oleh Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tujuan awal dari didirikannya Keraton Surakarta adalah untuk menggantikan Keraton Kartasura yang hancur karena geger pecinan pada tahun 1974.

Keraton ini menjadi salah satu lokasi terjadinya berbagai peristiwa bersejarah. Salah satunya adalah penyerah kedaulatan Kerajaan Mataram pada masa Sunan Pakubuwana II kepada pemerintah VOC pada  tahun 1749.

Berdasarkan sejarahnya, Kesultanan Mataram memang sempat mengalami beberapakali kekacauan. Hal tersebut tepatnya terjadi pada tahun 1677, di mana saat itu terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Trunajaya. Pemberontakan tersebut berakibat pada pemindahan ibukota di Kartasura oleh Susuhunan Amangkurat II.

Kemudian pada tahun 1742, Kerajaan Mataram kembali mengalami pemberontakan, kali ini oleh masyarakat Tionghoa yang juga didukung oleh masyarakat Jawa yang anti terhadap VOC.  Pemberontakan ini mengakibatkan runtuhnya Keraton Kartasura, sehingga Susuhunan Pakubuwana memutuskan untuk mendirikan keraton baru di Surakarta.

Baca Juga: Danau Toba: Wisata Alam dan Budaya

Meskipun secara resmi Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah bergabung menjadi bagian dari negara Indonesia sejak 1945, namun sampai saat ini Keraton Surakarta masih memiliki fungsi. Hingga sekarang, Keraton Surakarta masih menjalankan tradisi kerajaan dan menjadi kediaman Sri Sunan beserta keluarganya.

Keraton ini juga menjadi salah satu lokasi bersejarah yang sering dikunjungi oleh para wisatawan yang datang ke Kota Solo.   Dilihat dari sisi arsitektur, dapat dibilang Keraton Surakarta ini termasuk salah satu bangunan istana Jawa tradisional terbaik. Saat ini sebagian bangunan yang berada di dalam kompleks keraton berfungsi sebagai museum yang menyimpan banyak benda-benda koleksi Kasunanan Surakarta. Benda-benda tersebut misalnya senjata atau barang-barang pusaka, gamelan, serta barang-barang pemberian dari kerajaan-kerajaan lain.

Keraton Yogyakarta (Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat)

Keraton yang satu ini bisa dibilang merupakan salah satu keraton asli Nusantara yang paling populer dan paling sering dikunjungi wisatawan hingga sekarang. Keraton Yogyakarta berada di wilayah Kota Yogyakarta, yang merupakan kompleks istana miliki Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Kesultanan Yogyakarta sendiri awalnya adalah bagian dari Kerajaan Mataram Islam yang kemudian terpecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Pada tahun 1950, Kesultanan Yogyakarta secara resmi telah bergabung menjadi bagian dari Indonesia. Walau demikian, Keraton Yogyakarta sampai saat ini masih menjalankan fungsinya sebagai kediaman sultan. Tradisi-tradisi kesultanan juga tetap dilestarikan hingga saat ini. Sama seperti pada Kasunanan Surakarta, sebagian bangunan pada kompleks Keraton Yogyakarta sekarang berfungsi sebagai museum.

Keraton Yogyakarta kini menjadi salah satu obyek wisata favorit ketika berkunjung ke Yogyakarta. Sepertinya kurang komplit rasanya jika berkunjung ke Kota Yogyakarta tapi belum pernah berkunjung ke tempat bersejarah yang satu ini.

Keraton Yogyakarta tergolong sebagai istana yang berarsitektur mewah. Kompleks keraton ini terdiri dari balairung-balairung megah nan indah serta dikelilingi oleh paviliun-paviliun dan lapangan yang luas. Keraton ini awalnya didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I setelah adanya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755.

Terdapat berbagai versi cerita mengenai asal-usul lokasi tempat mendirikan Keraton Yogyakarta. Versi pertama menyebut bahwa lokasi keraton ini awalnya merupakan bekas pesanggrahan yang dipakai beristirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram yang akan dimakamkan di kompleks pemakaman Imogiri. Versi yang kedua menyebutkan bahwa sebenarnya lokasi didirikannya keraton tersebut dulunya adalah lokasi sebuah mata air, yang dikenal dengan nama Umbul Pacethokan.

Ditinjau dari kondisi istananya, para Sultan Yogyakarta mempunyai  tujuh kompleks inti,  yaitu Balairung Utara, Balairung Selatan, Kamandhungan Utara, Kamandhungan Selatan, Sri Manganti, Kedhaton, dan Kamagangan.Keraton Yogyakarta juga memiliki filosofi dan mitologi yang sarat makna.

Pura Paku Alaman (Kadipaten Paku Alaman)

Keraton Paku Alaman atau Pura Paku Alaman merupakan kediaman resmi pada Pangeran Paku Alaman pada rentang waktu tahun 1813 hingga 1950, yaitu saat pemerintah Negara Bagian Republik Indonesia menetapkan Kadipaten Paku Alaman bersama-sama dengan Kesultanan Yogyakarta menjadi daerah otonomi khusus setingkat provinsi, yang kemudian bernama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Awal mula didirikannya Pura Paku Alaman yaitu ketika Sultan Hamengkubuwono II mengadakan pertemuan dengan Raffles yang waktu itu menjabat sebagai Letnan Gubernur. Pada pertemuan tersebut, Raffles meminta aneksasi Kedu serta sepertiga wilayah timur Yogyakarta sebagai komepensasi atas biaya operasi militer Inggris.

Apabila dibandingkan dengan Keraton Yogyakarta, Pura Paku Alaman memiliki bangunan yang relatif lebih kecil. Kondisi tersebut menjadi salah satu penanda bahwa meskipun Kadipaten ini adalah negara berdaulat di luar Kesultanan Yogyakarta, tetapi kedudukannya tetap berada satu tingkat di bawahnya. Keraton ini memiliki corak arsitektur yang cukup unik.

Baca Juga: Asal Usul dan Fakta Tari Dolalak

Keraton atau pura ini menghadap ke arah selatan, di mana di depan pura tersebut terdapat lapangan yang ukurannya relatif kecil yang disebut Alun-Alun Sewandanan.  Di sebelah barat dari keraton, terdapat bangunan masjid yang dinamai Masjid Besar Pakualaman. Masjid tersebut memiliki arsitektur yang cukup mirip dengan Masjid Raya Kesultanan Yogyakarta, tetapi dengan luas dan ukuran yang lebih kecil.

Kemudian di sisi selatan dan utara keraton terdapat gerbang Pura Paku Alaman. Namun kini gerbang yang berada di sisi utara telah ditutup. Menurut cerita, di masa lalu Pura Paku Alaman ini juga dikelilingi oleh bangunan benteng baluwerti.

Sekarang Pura Paku Alaman masih digunakan sebagai tempat tinggal resmi Sri Paduka Paku Alam IX, yang kini bertindak sebagai wakil gubernur Provinsi DIY. Tidak semua bagian pada Pura Paku Alaman dapat dimasuki masyarakat umum. Bagian yang dibuka untuk umum terbatas hanya pada bangunan museum Pura Paku Alaman.

Keraton Surosowan

Selain Keraton Kaibon, pada wilayah Banten terdapat satu lagi keraton peninggalan Kesultanan Banten. Keraton tersebut bernama Keraton Surowosan. Keraton Surowosan didirikan oleh Maulana Hasanuddin sekitar tahun 1522-1526 masehi. Maulana Hasanuddin sendiri merupakan pendiri dari Kesultanan Banten.

Keraton ini sempat mengalami beberapa kali upaya penghancuran. Kehancuran pertama terjadi pada tahun 1680. Kemudian keraton mengalami kehancuran kedua pada tahun 1813, yang disebabkan oleh serangan Daendels yang waktu itu bertindak sebagai Gubernur Jendral Belanda.

Kehancuran tersebut membuat para penghuninya terpaksa meninggalkan Keraton Surowosan. Sekarang kondisi dari Keraton Surowosan sudah tidak utuh lagi, sebagai akibat dari penghancuran total tersebut. Bangunan yang tersisa yaitu sebatas reruntuhan dinding serta pondasi puluhan kamar yang benrbentuk segi empat.

Pada awalnya di Keraton Surosowan terdapat tiga gerbang masuk, yang dapat ditemui di sisi utara, selatan, dan timur. Tetapi kini pintu selatan telah ditutup dengan tembok. Belum diketahui dengan jelas apa tujuan dari penutupan tersebut. Menuju ke bagian tengah Keraton Surowosan, dapat ditemui adanya kolam yang berisi air berwarna hijau.

Warna hijau tersebut muncul karena banyaknya lumut dan ganggang  yang tumbuh di kolam. Keraton ini memiliki cukup banyak ruang yang berhubungan dengan air atau petirtaan. Salah satunya yang cukup terkenal yaitu Bale Kambang Rara Denok. Kolam ini memiliki panjang dan lebar sekitar 30 x 13 meter. Kedalaman kolam cukup dalam, yaitu sekitar 4,5 meter.

Keraton Sumenep (Kadipaten Sumenep)

Keraton Sumenep adalah sebuah keraton yang didirikan oleh kerajaan atau Kadipaten Sumenep. Keraton ini dibangun sekitar tahun 1781, dan sempat berfungsi sebagai tempat tinggal resmi para raja atau adipati. Selain itu, keraton ini juga berfungsi sebagai tempat untuk mengatur jalannya pemerintahan.

Keraton Sumenep

Kerajaan Sumenep  waktu itu dapat dikelompokkan sebagai sebuah kerajaan kecil, atau dapat dibilang setara dengan kadipaten. Hal tersebut antara lain disebabkan karena waktu itu daerah Sumenep telah dikuasai oleh penjajah Belanda. Di masa lalu, Kerajaan Sumenep ini disebutkan juga memiliki kewajiban untuk membayar upeti pada kerajaan-kerajaan lain yang lebih besar seperti Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Mataram.

Penggunaan istilah keraton sendiri sering jadi bahan perdebatan. Istilah keraton lebih sering dikaitkan dengan sistem pemerintahan yang ada di Jawa ketika itu, misalnya Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Keraton Sumenep dianggap tidak tepat disebut keraton karena dianggap memiliki luas bangunan yang lebih kecil dibandingkan dengan dua keraton yang disebutkan di atas.

Walau demikian, penggunaan istilah tersebut masih dapat dimaklumi. Penggunaan istilah keraton ini telah terjadi sejak lama oleh masyarakat setempat, di mana situasi geografis wilayah Sumenep sendiri berada di wilayah pesisir wetan yang cukup jauh jaraknya dengan Kerajaan Mataram.

Sekarang, bangunan Keraton Sumenep sudah tidak utuh lagi. Salah satu bangunan yang masih utuh yaitu bangunan keraton yang didirikan oleh Gusti Raden Ayu Tirtonegoro R. Rasmana dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro.

Sedangkan bangunan-bangunan keraton milik adipati-adipati lainnya semisal Karaton Tumenggung Kanduruan, Karaton Pangeran Lor dan Pangeran Wetan di Karangduak, dan Karaton Pangeran Siding Puri di Parsanga kini hanya tersisa puing-puingnya saja, baik puing-puing  pintu gerbang maupun umpak pondasi bangunan.

Keraton Kasepuhan (Kasultanan Kesepuhan Cirebon)

Keraton Kasepuhan merupakan sebuah keraton yang terdapat di wilayah Cirebon, atau tepatnya terletak di Kelurahan Kesepuhan, Lemahwunguk, Cirebon. Keraton ini adalah sebuah keraton milik Kasultanan Kasepuhan Cirebon.

Baca Juga: Gotong Royong Adalah Budaya Sejati Bangsa Indonesia!

Keraton Kasepuhan dibangun sekitar tahun 1529 oleh seorang keturunan Sunan Gunung Jati bernama Pangeran Mas Mochammad Arifin II. Pada awalnya, Keraton ini memiliki nama Keraton Pakungwati, sebelum kemudian diubah menjadi Keraton Kasepuhan. Nama Pakungwati sendiri diambil dari nama Ratu  Dewi Pakungwati yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati.

Keraton Kasepuhan Cirebon

Arsitektur keraton ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Bangunan bernilai sejarah tinggi ini dikelilingi oleh tembok berwarna merah di bagian halaman depannya, sedangkan di bagian dalamnya terdapat bangunan berbentuk pendopo. Bangunan utama memiliki warna putih, dengan bagian dalamnya terbagi lagi menjadi beberapa ruang, seperti singgasana raja, ruang tamu, dan kamar tidur.

Keraton Kasepuhan berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon yang merupakan salah satu kerajaan Islam yang ada di Pulau Jawa. Koleksi atau benda-benda peninggalan dari kasultanan saat ini tersimpan rapi pada museum yang terdapat di kompleks keraton.

Salah satu peninggalan benda bersejarah yang ada di museum tersebut adalah kereta Singa Barong. Kereta tersebut adalah kereta yang dipakai oleh Sunan Gunung Jati semasa bertahta. Kini, kereta tersebut tak lagi dipakai dan hanya dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu saja untuk dibersihkan.

Pada bagian depan keraton terdapat sebuah alun-alun yang di masa lalu disebut alun-alun Sangkala Buana. Alun-alun ini digunakan sebagai tempat latihan prajurit yang biasa digelar pada hari sabtu. Ditinjau dari tata letaknya, alun-alun ini berada di titik tengah atau pusat dari kompleks Keraton Kasepuhan.

Selain berfungsi sebagai tempat latihan prajurit, alun-alun ini dapat dipakai untuk menggelar perayaan kesultanan maupun tempat mengumpulkan penduduk untuk mendengarkan pengumuman dari sultan. Beralih ke bagian barat, terdapat sebuah masjid yang cukup besar yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Masjid ini merupakan masjid yang didirikan oleh para wali.  Lalu di sebelah timur terdapat pasar kasepuhan, tempat penduduk melakukan aktivitas perdagangan.

Keraton Kanoman (Kasultanan Kanoman Cirebon)

Keraton lain yang berada di wilayah Cirebon adalah Keraton Kanoman. Keraton Kanoman juga didirikan oleh Kasultanan Kanoman Cirebon sekitar tahun 1678. Keraton ini masih memegang teguh tradisi serta adat istiadat setempat, seperti melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati yang merupakan leluhur dari Kasultanan Cirebon.

Keraton Kanoman

Pada Keraton Kanoman banyak tersimpan benda-benda bernilai sejarah, yang memiliki hubungan erat dengan penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau juga dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah memiliki jasa yang sangat besar dalam menyebarkan  agama Islam terutama di daerah Jawa Barat.

Barang-barang tersebut antara lain dua buah kereta yang disebut Jempana dan Paksi Naga. Kedua kereta bersejarah ini masih tersimpan dengan baik di museum yang ada di kompleks keraton. Selain kereta, terdapat pula jinem atau pendopo yang dipakai untuk menerima para tamu atau pemberian restu kegiatan-kegiatan tertentu.

Luas Kompleks Keraton Kanoman kurang lebih enam hektar, yang tepatnya berada di belakang Pasar Kanoman. Keraton ini terdiri dari bangunan-bangunan kuno namun masih cukup terawat. Keraton Kanoman berfungsi sebagai kediaman Raja Muhammad Emiruddin ya g merupakan sultan ke-12 dari Kesultanan Cirebon. Selain itu di keraton dapat pula ditemukan piring-piring yang berasal dari negeri Tiongkok. Piring-piring yang terbuat dari porselin tersebut dijadikan sebagai hiasan dinding keraton.

Sama seperti Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman juga menghadap ke arah utara. Di bagian halaman terdapat patung macan yang merupakan simbolisasi Prabu Siliwangi. Di bagian depan keraton terdapat alun-alun sebagai tempat penduduk berkumpul, kemudian di bagian timur terdapat pasar sebagai pusat aktivitas jual beli. Dan tentu saja juga terdapat bangunan masjid sebagai tempat untuk beribadah.

Keraton Kacirebonan (Kasultanan Kacirebonan Cirebon)

Keraton Kacirebonan berada di Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, Cirebon. Lokasi Keraton Kacirebonan berada tidak jauh dari Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yaitu kurang lebih berjarak sekitar 1 km dari Keraton Kasepuhan dan sekitar 500 m dari Keraton Kanoman. Diperkirakan Keraton Kacirebonan didirikan sekitar abad ke-18 atau 19. Keraton ini tetap mempertahankan tradisi-tradisinya, seperti upacara-upacara adat dan ritual-ritual lain.

Keraton Kacirebonan

Bangunan pada Keraton Kacirebonan memiliki pengaruh dari luar, mengingat bangunan ini dibangun di era kolonial. Model bangunan adalah perpaduan dari arsitektur Eropa, Tiongkok, dan Sunda. Keraton ini menyimpan banyak barang-barang bersejarah dari Kasultanan Kacirebonan, antara lain gamelan, wayang, keris, hingga senjata perang.

Bangunan utama keraton berfungsi sebagai tempat kediaman sultan besera dengan keluarganya. Bangunan utama tersebut terbagi menjadi beberapa ruang, antara lain yaitu ruang kerja, ruang tidur, dapur, teras, dan sebagainya.

Terdapat dua buah bangunan Paseban di bagian barat dan timur dari kompleks keraton Kacirebonan. Paseban tersebut berbentuk persegi panjang. Paseban barat menghadap ke arah timur, yang ditopang delapan tiang dan empat tiang utama. Paseban tersebut tergolong sebagai bangunan semi terbuka.

Pada dinding sisi timur dan barat terdapat pagar bertembok rendah. Sedangkan atapnya memiliki bentuk joglo yang ditutup menggunakan genteng. Bangunan mushola (tajug) berada di sebelah barat bangunan utama. Terdapat tembok pemisah antara paseban dan tajug.

Pura Mangkunegaran (Kadipaten Mangkunagaran)

Pura Mangkunegaran adalah semacam keraton atau istana dari Kadipaten Mangkunegaran. Kadipaten Mangkunegaran merupakan sebuah kesultanan yang sempat berkuasa di wilayah Surakarta sekitar tahun 1757-1946.

Pura Mangkunegaran

Berdirinya Kadipaten Mangkunegaran diawali oleh Perjanjian Salatiga. Pada perjanjian tersebut Mangkunegara I diberi wewenang untuk memerintah wilayah   Honggobayan, Sembuyan, Kedaung, Matesih, Pajang sebelah utara, Kedu, dan Gunung Kidul.

Baca Juga: Jenis Tari Tortor Suku Batak dan Keunikannya

Pura Mangkunegaran  dibangun di wilayah Surakarta. Istana ini berfungsi sebagai tempat tinggal raja atau sultan. Istana ini memiliki gaya arsitektur yang mirip dengan keraton.  Kompleks Pura tersebut dikelilingi oleh tembok dan sebagiannya  dipagari besi.

Pura Mangkunegaran beberapa kali mengalami renovasi. Renovasi tersebut sedikit mengubah gaya arsitektur bangunan menjadi seperti bangunan Eropa, yang kala itu cukup populer. Di depan gerbang utama terdapat lapangan (pamedan) yang digunakan prajurit untuk berlatih.   Sedangkan tepat di arah timur dari pamedan terdapat markas pasukan Mangkunegaran, di mana pada markas tersebut juag terdapat bangunan seperti benteng.

Di area dalam kompleks, terdapat pendopo yang sempat disebut sebagai pendopo terbesar se-Indonesia. Pendopo tersebut diberi nama Pendopo Ageng, yang mampu menampung 5-10 ribu orang sekaligus.

Hal yang menarik dari Pura Mangkunegaran ini yaitu semua bangunan pada kompleks ini didirikan tanpa menggunakan paku.

Keraton Sumedang Larang (Kadipaten Sumedang Larang)

Keraton Sumedang Larang merupakan keraton yang dibangun oleh sebuah Kerajaan Islam bernama Kerajaan atau Kadipaten Sumedang Larang. Seperti yang terdapat pada namanya, keraton ini berada di wilayah  Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

Kerajaan Sumedang Larang diperkirakan berdiri pada tahun 721, dengan tokoh pendirinya adalah Prabu Tajimela yang merupakan keturunan dari Wretikandayun (Raja Kerajaan Galuh). Kerajaan ini baru menjadi sebuah negara yang berdaulat di sekitar abad ke-16.

Berdaulatnya Kerajaan Sumedang Larang tak lepas dari peristiwa jatuhnya Kerajaan Sunda, terutama akibat peristiwa yang dicatat sejarah sebagai Peristiwa Harisbaya. Prabu Geusan Ulun yang waktu itu menjadi pemimpin Sumedang Larang lalu mengeluarkan pernyataan bahwa Sumedang Larang kini menjadi negara berdaulat.

Namun kekuatan yang lemah membuat kedaulatan tersebut tidak bertahan lama. Apalagi pada waktu itu kondisi Kerajaan Sumedang Larang cukup terhimpit di antara tiga kekuatan utama saat itu, yaitu Kesultanan Mataram, Banten, dan Cirebon. Akhirnya pada tahun 1620 Sumedang Larang memutuskan untuk bergabung dengan Mataram. Statusnya pun berubah dari yang awalnya kerajaan menjadi kadipaten.

Pada awalnya, kerajaan ini bernama Kerajaan Himbar Buana, sebelum akhirnya diubah menjadi Sumedang Larang. Kerajaan ini tidak begitu menonjol dan tidak memiliki pengaruh yang besar. Kerajaan ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan besar lain yang ada pada era tersebut, seperti Kerajaan Banten, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Mataram, dan Kerajaan Demak. Walaupun demikian, kerajaan ini tetap memiliki andil yang cukup besar dalam upayanya untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa bagian Barat.

Oleh: Riyyan

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*