Gotong Royong Budaya Sejati Bangsa Indonesia!

Tradisi Gotong Royong di Sulawesi
Keunikam Tradisi Gotong Royong Angkat Rumah Suku Bugis / Yt. Fathur Rahman

Hai, bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu sehat dan bahagia ya. Oh, iya kali ini Kita akan sama-sama belajar tentang karakter Bangsa Kita tercinta Bangsa Indonesia.

Ya, Indonesia memiliki budaya gotong royong yang sudah mengakar. Karakter ini sudah ada sejak masa nenek moyang Kita.

Nah, sebelum Kita bahas lebih jauh mengenai gotong royong, ada baiknya sejenak Kita menggali dahulu pengertian gotong royong itu sendiri. Tujuannya untuk sekedar menyamakan persepsi tentang arti dari sebuah kata gotong royong.

Tradisi Gotong Royong di Sulawesi
Keunikan Tradisi Gotong Royong Angkat Rumah Suku Bugis / Yt. Fathur Rahman

Apa Itu Gotong Royong ?

Sila ketiga Pancasila berbunyi Persatuan Indonesia. Lewat sila ketiga Pancasila, dapat diketahui jika gotong royong merupakan sebuah pupuk yang menyuburkan persatuan. Ibarat tumbuhan, persatuan harus selalu diberi pupuk agar tetap terjaga dan selalu bertumbuh. Tanpa adanya pupuk, tumbuhan akan mati.

Perlu disadari, Indonesia ada karena adanya persatuan dari ribuan suku bangsa yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Mereka mengikis ego pribadi dan golongan dan memutuskan untuk ikut andil dalam NKRI. Inilah bukti jika para pendahulu Bangsa Indonesia sejatinya sudah memiliki jiwa gotong royong.

Apabila melihat dari bahasa asalnya, gotong royong berasal dari Bahasa Jawa. Ada dua kata, “gotong” yang berarti mengangkat dan “royong” yang berarti bersama. Tentu sudah sangat jelas makna gotong royong yaitu mengangkat bersama-sama di mana satu sama lain saling membantu dalam meringankan beban.

Setiap permasalahan yang dipikul bersama akan terasa jauh lebih ringan dan bisa diselesaikan jauh lebih mudah. Tidak hanya masalahnya saja yang selesai, tapi hasilnya tali silaturahmi juga terjaga antar warga sebagai satu masyarakat yang rukun.

Gotong royong adalah wadah masyarakat Indonesia untuk saling mengenal satu sama lain demi tercapainya butir ketiga Pancasila tersebut. Tanpa adanya pengenalan dan penerimaan, maka tidak ada yang namanya Bangsa Indonesia sekarang ini.

Kabar gembiranya gotong royong sudah membudaya dalam diri Bangsa Indonesia. Lalu apa yang diperlukan? Hal yang harus dilakukan adalah menjaga agar budaya ini jangan sampai luntur termakan waktu.

15 Teladan Budaya Gotong Royong dari Nenek Moyang yang Patut dicontoh

Budaya pasti akan diwariskan secara turun temurun kepada generasi penerus. Kata tersebut kerapkali terdengar ketika Kita belajar ilmu budaya diwaktu duduk mengenyam bangku pendidikan entah sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Gotong royong juga merupakan budaya yang sudah diterapkan nenek moyang bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Ini bisa dilihat dari tradisi dan adat istiadat yang ada di dalam masyarakat Indonesia.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut yuk Kita simak uraian mengenai teladan budaya gotong royong dari nenek moyang Bangsa Indonesia berikut ini. Semoga para Pembaca bisa terinspirasi.

1. Adat Serayo Suku Kerinci di Jambi

Budaya gotong royong masyarakat yang tinggal di Kerinci, Jambi ini bisa Kita teladani sebagai generasi penerus. Serayo merupakan bentuk budaya gotong royong ketika ada salah seorang anggota masyarakat sedang dalam kesulitan atau memerlukan bantuan.

Pada jaman dahulu, suku Kerinci melakukan serayo untuk meminta bantuan menggarap sawah, membangun rumah, bahkan saat mempunyai hajat. Jadi konsep serayo sendiri cukup unik karena orang-orang yang ikut terlibat tidak dibayar dengan uang hanya berupa makanan yang bisa dibilang sederhana.

Setiap anggota masyarakat yang memiliki masalah, bisa melakukan serayo dengan catatan yang bersangkutan juga aktif dalam kegiatan ini sewaktu ada anggota masyarakat lain membutuhkan bantuan. Biasanya serayo akan dilakukan dari pagi sampai sore hari tergantung dari apakah pekerjaan sudah bisa diselesaikan.

Uniknya lagi, tidak ada pembagian tugas sesuai dengan bidang keahlian saat melakukan serayo ini. Jadi setiap warga melakukan pekerjaan sesuai dengan porsi yang telah menjadi kesepakatan antar anggota masyarakat.

2. Adat Sambatan Suku Jawa

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sambatan berarti mengeluh atau keluhan. Eits, tapi tenang, sambatan di sini punya makna berbeda dengan arti katanya. Sambatan di sini dilakukan masyarakat suku Jawa saat akan membangun suatu rumah dan saat masa panen sawah tiba.

Tidak seperti sekarang, di mana anak muda mulai pusing membangun sebuah rumah. Dahulu Suku Jawa punya budaya gotong royong yang dinamakan sambatan. Tradisi ini memungkinkan setiap orang bisa membangun rumah dengan biaya yang minim.

Selain biaya yang minim, kedekatan masyarakat satu dengan yang lain juga semakin lekat. Ada pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan saat melakukan sambatan. Laki-laki membantu membangun rumah, sedangkan perempuan menyiapkan makanan untuk laki-laki yang sedang bergotong royong membangun rumah.

Mungkin bentuk rumah akan terlihat sederhana karena sebagian besar bahan yang digunakan berasal dari kayu seperti bambu atau biasa disebut Gedek dalam bahasa Jawa. Namun, harmonisasi dan rasa persaudaraan yang muncul jauh lebih berharga bagi masyarakat Jawa.

Nilai filosofis yang tertanam dari adat sambatan ini seperti hukum tabur tuai. Siapa saja yang menabur kebaikan pasti akan menuai kebaikan pula dan sebaliknya.

Jadi, setiap anggota masyarakat yang selalu aktif saat kegiatan sambatan pasti akan dibantu ketika membutuhkan bantuan saat membangun rumah. Sayangnya, adat gotong royong dari suku Jawa ini kian lama kian terkikis karena kemajuan jaman.

3. Adat Marsiadapari Suku Batak Toba

Tentu pada sudah tahu dong ya, jika rumah tradisional orang Batak itu begitu kokoh. Ternyata rumah-rumah tersebut dibangun secara bergotong royong antar anggota masyarakat. Hebatnya lagi tidak ada penggunaan paku dalam pembangunan rumah orang Batak.

Suku yang mendiami pulau Sumatera bagian utara ini memiliki budaya gotong royong yang kental. Marsiadapari merupakan sebuah budaya gotong royong antar masyarakat saat mengurus lahan pertanian, upacara keagamaan, pembangunan rumah, dan hajat orang Batak Toba lainnya.

Warga akan berbondong-bondong membantu di sawah, ada yang mencangkul, membajak, sampai masa panen tiba. Kegiatan ini dilakukan secara bergantian dari satu sawah ke sawah lainnya sehingga biaya yang dikeluarkan jadi lebih sedikit.

Uniknya suku Batak Toba juga mempunyai nilai filosofis hukum tabur tuai yang hampir sama dengan kedua adat dari suku Jawa dan Kerinci. Mereka percaya jika seseorang ikut menabur kebaikan maka akan menerima kebaikan pula dan juga sebaliknya. Ini berlaku untuk pemberian materi maupun waktu dan tenaga.

Baca juga: Wisata Danau Toba: Panorama dan Budaya

4. Adat Alak Tau Suku Dayak Kenyah

Budaya yang masih dipegang erat oleh suku Dayak ini mencerminkan semangat gotong royong yang besar. Alak tau adalah sebuah upacara adat untuk menentukan hari yang tepat untuk memulai masa tanam padi.

Nantinya, hasil panen akan dikumpulkan dalam satu lumbung untuk kepentingan bersama. Semua hasil panen akan digunakan untuk berbagai keperluan adat masyarakat suku Dayak dan berbagai keperluan lainnya yang bersifat kolektif.

Pada dasarnya Alak Tau merupakan sebuah doa dan harapan masyarakat suku Dayak agar aktivitas pertanian yang Mereka lakukan bisa berjalan dengan lancar. Masyarakat suku Dayak sendiri biasanya mengundang perwakilan dari luar sukunya untuk mengikuti upacara ini.

5. Adat Mappalette Bola Suku Bugis

Suku Bugis juga memiliki budaya gotong royong yang bisa dibilang unik. Pasalnya Mappalette Bola yang dilakukan suku Bugis ini merupakan cara unik untuk berpindah tempat tinggal ala suku Bugis.

Umumnya pindah rumah identik dengan memindahkan isi perabotan yang ada di dalam rumah. Namun, ini tidak berlaku bagi suku Bugis yang memindahkan rumah dalam arti yang sebenarnya. Jadi rumah benar-benar dipindahkan ke tempat lain yang diinginkan pemilik rumah

Tradisi gotong royong ini dilakukan oleh laki-laki dewasa yang ada di perkampungan suku Bugis. Selama para laki-laki melakukan proses pemindahan rumah, perempuan suku Bugis menyiapkan masakan untuk semua yang terlibat Mappalette Bola.

Masyarakat dari suku Bugis memiliki dua teknik untuk memindahkan rumahnya. Teknik yang pertama bisa dilakukan apabila lokasi rumah yang baru tidak terlalu jauh dengan lokasi sebelumnya. Mereka akan mendorong rumah secara bersama-sama.

Hal ini tidak akan dilakukan apabila lokasi rumah yang dituju memiliki jarak yang cukup jauh. Mereka akan mengangkat rumah secara bersama-sama setelah measang bambu atau kayu lainnya yang berfungsi untuk memudahkan proses pengangkatan rumah.

Pemindahan rumah bisa dilakukan karena bahan rumah tradisional suku Bugis dibuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Rumah yang akan dipindah akan dipasangi bambu dan diangkat oleh puluhan sampai ratusan warga. Pelaksanaan Mappalette Bola harus dipimpin oleh seorang tetua setempat.

Masyarakat Bugis punya sebuah alasan kenapa Mereka melakukan budaya pindah rumah ini. Itu dikarenakan Mereka menganggap rumah adalah suatu hal yang berharga dalam artian rumah inilah tempat Mereka lahir, menikah, dan melangsungkan kehidupan hingga akhir hayat.

6. Adat Gugur Gunung Suku Tengger

Suku Tengger yang notabenenya termasuk suku Jawa juga memiliki tradisi gotong royong yang masih sangat dijaga. Gugur gunung adalah kegiatan kerja bakti yang dilakukan masyarakat suku Tengger.

Hebatnya tradisi gotong royong ini dilakukan di area yang sangat luas bahkan sampai lebih dari satu kilometer. Tradisi gugur gunung pernah dilakukan saat terjadi erupsi Gunung Bromo yang menyebabkan jalan tertutup material vulkanik.

Tidak menunggu lama, masyarakat suku yang mayoritas memeluk Agama Hindu ini segera melakukan gugur gunung. Luar biasa ya, yang seperti ini patut dicontoh. Seperti masyarakat suku Jawa lainnya, suku Tengger juga mempunyai adat sambatan terutama saat membangun rumah.

7. Adat Batobo Suku Minangkabau

Batobo adalah peninggalan warisan budaya gotong royong masyarakat Minangkabau yang sangat berharga. Sampai sekarang budaya ini masih terus dilakukan terutama di desa-desa suku Minang. Mereka benar-benar memegang betul tradisi ini.

Budaya ini bisa dibilang wadah musyawarah masyarakat adat suku Minang yang punya struktur organisasi sosial yang tertata. Jadi dalam keanggotaan Batabo ini terdapat struktur organisasi seperti ketua, penasihat, bendahara, pembuat jadwal, dan nini mamak, tuo tobo, juru tulih, dan anggota. Hebatnya pemilihan posisi ini ditentukan oleh bidang keahlian anggota masyarakat.

Konsep dari Batobo ini sendiri yaitu menyelesaikan masalah secara bersama lewat musyawarah dan pada akhirnya menikmati hasil yang diperoleh secara bersama-sama juga. Masalah yang diselesaikan biasanya tentang pengurusan lahan pertanian.

Anggota harus melakukan seluruh proses penanaman hingga masa panen tiba di setiap lahan milik setiap anggota Batobo. Mereka akan melakukan proses tersebut secara bergiliran. Jadwal ladang dan orang yang dibuat berdasarkan kesepakatan antara anggota Batobo itu sendiri.

Tradisi dari suku Minang ini benar-benar aktualisasi dari peribahasa berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Ini baru yang namanya keren, ketika setiap warga mempunyai rasa kebersamaan yang terus selalu dijaga.

Baca Juga: Mitigasi Bencana Tanah Longsor

8. Adat Hanta Uma Masyarakat Dompu

Budaya gotong royong juga masih bisa dilihat dari tradisi Hanta Uma yang dilakukan oleh masyarakat Dompu, Nusa Tenggara Barat. Dalam bahasa Dompu Hanta artinya memindahkan, sedangkan Uma berarti rumah. Menurut arti katanya Hanta Uma berarti memindahkan rumah.

Tradisi ini memang sudah ada sejak lama. Biasanya akan ada pengumuman yang disiarkan melalui alat pengeras suara yang ada di Masjid. Tujuannya untuk memberitahukan lokasi akan dilaksanakannya Hanta Uma ini. Lalu warga dalam waktu singkat akan segera berkumpul. Setelah itu Mereka dengan sigap mengangkat rumah bersama-sama.

Tradisi ini dipimpin oleh orang yang memang sudah ahli dalam teknik pemindahan rumah. Tidak heran juga karena bukan perkara mudah memindahkan rumah dengan ukuran besar dan pastinya memerlukan teknik khusus.

Tidak ada upah berupa uang, sang pemilik rumah hanya akan menyediakan makanan. Namun, di sinilah momen yang berharga antara warga Dompu. Sebab pada saat inilah tali silaturahmi terjalin dengan kuat.

9. Tradisi Nyirib Suku Sunda

Nyirib bisa diartikan sebagai tradisi menangkap ikan di sungai secara gotong royong dalam rangka menyambut tahun yang baru. Dahulu tradisi ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat suku Sunda. Pasalnya Nyirib bukan hanya sekedar menangkap ikan bersama-sama tapi ada nilai sosial yang terkandung di dalamnya.

Pelaksanaan Nyirib setelah mayoritas orang Sunda memeluk Agama Islam kerapkali dilakukan menjelang bulan Puasa. Tradisi ini dimulai dengan ritual berupa doa-doa, lalu laki-laki akan membuat bendungan di bagian sungai terdalam. Bagian ini dinamakan leuwi dan di sinilah terdapat banyak jenis ikan.

Setelah bendungan terbangun sempurna, warga secara bergotong-royong akan menguras air yang ada di dalamnya. Setelah air tidak terlalu tinggi, semua orang baik laki-laki, perempuan, anak-anak boleh masuk ke dalam bendungan dan mengambil ikan sebanyak-banyaknya.

Ikan yang berhasil ditangkap akan dibagi-bagikan kepada seluruh warga secara merata. Tujuannya agar warga lanjut usia yang tidak bisa menjalankan kegiatan ini juga kebagian jatah ikan. Suasana riuh, senang sangat tergambar dari wajah masyarakat.

Mereka juga menggunakan momen Nyirib ini sebagai wadah untuk bertukar pikiran dan berbagi kisah hidup antara warga desa. Sungguh momen yang istimewa, andai saja tradisi ini terus dilestarikan.

10. Tradisi Jak Ngajak dari Madura

Tradisi Jak Ngajak ini dapat dilakukan ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan tetangga-tetangga beserta kerabat saat akan melakukan suatu hajat. Masyarakat Madura yang membutuhkan bantuan akan datang dari rumah ke rumah untuk meminta bantuan ke rumah-rumah tetangga untuk memohon bantuan.

Kunjungan dari rumah ke rumah dilakukan dari pintu ke pintu secara bergantian. Biasanya pemilik acara akan melakukan kunjungan ini seminggu sampai satu hari sebelum acara dilaksanakan.

Pemberian bantuan kepada sang pemilik acara akan dilakukan secara sukarela. Upahnya berupa makanan, rokok maupun kopi. Jika dilihat dari upah yang diperoleh memang tidak seberapa. Namun, ada nilai sosial yang tinggi karena melakukan tradisi ini.

Tradisi Jak Ngajak hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang juga selalu aktif memberikan bantuan. Jika tidak maka orang tersebut tidak bisa melakukan tradisi ini karena tetangga-tetangganya tidak mau membantu. Nilai ini juga mengandung hukum tabur tuai.

Ada latar belakang kenapa tradisi ini masih bertahan sampai sekarang. Hal itu dikarenakan, masyarakat Madura sadar bahwa gotong royong membuat segala pekerjaan jadi lebih ringan. Bahkan ada nilai kekeluargaan yang bertumbuh di dalam gotong royong.

Biasanya pekerjaan yang dilakukan dalam tradisi jak ngajak ini meliputi membangun rumah, acara lahiran, nikahan, dan juga kematian. Kekompakan masyarakat Madura ini bisa Kita tiru untuk mengembangkan budaya gotong royong sebagai bangsa.

11. Tradisi Ngaliweut Suku Sunda

Sebuah tradisi sederhana yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial antar masyarakat Sunda, ya inilah Ngaliweut. Suku Sunda punya tradisi makan bersama yang bisa mempererat tali persaudaraan. Nasi liweut menjadi hidangan khas acara Ngaliweut ini.

Penyelenggara Ngaliweut akan berbagi tugas untuk menyajikan hidangan. Laki-laki ditugasi untuk mencari bumbu-bumbu dan ikan yang dibutuhkan, sedangkan perempuan bertugas memasak hasil bahan-bahan yang telah diperoleh.

Tradisi makan bersama khas masyarakat Sunda ini biasanya dilakukan di luar rumah. Selain memperoleh masakan yang nikmat, semua yang ikut terlibat juga akan merasakan tiupan angin yang segar mungkin juga disertai pemandangan persawahan yang hijau.

Kebersamaannya semakin terasa karena nasi ini dimakan dengan beralaskan daun pisang yang diletakan begitu saja memanjang di tanah. Jadi semua yang ikut acara ini bisa makan bersamaan tanpa menggunakan piring dan sendok lagi.

12. Tradisi Ngayah Masyarakat Bali

Kebiasaan gotong royong sudah melekat dalam diri masyarakat Bali selama berabad-abad silam. Pulau yang memiliki sejuta keindahan alam ini juga memiliki budaya saling tolong menolong untuk kepentingan bersama.

Ngayah berarti menyumbang, namun bukan hanya dalam bentung uang saja, tapi juga tenaga, dan waktu atau sekedar mendengarkan cerita maupun keluhan. Tradisi ini masih sangat dijaga sampai sekarang.

Tradisi Ngayah ini masuk dalam ajaran agama di Bali sehingga merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Berbeda dengan tradisi-tradisi dari daerah lain yang mempunyai tanggal khusus untuk melakukan perayaan. Ngayah bisa dilakukan setiap saat.

Sekarang ini Ngayah bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, misalnya dengan mengobrol dengan tetangga sebelum memulai aktivitas. Selain itu ikut terlibat dalam mempersiapkan suatu kegiatan sosial juga termasuk kegiatan Ngayah.

13. Tradisi Liliuran Suku Baduy

Suku yang berasal dari Provinsi Jawa Barat ini memang terkenal akan konsistensinya mempertahankan adat istiadat nenek moyang. Hal itu bisa dilihat dari tradisi Liliuran yang dijalankan. Liliuran adalah pembentukan kelompok masyarakat yang sudah sepakat untuk saling membantu dalam menghadapi suatu masalah yang tidak bisa dilakukan seorang diri.

Kelompok Liliuran biasanya dibedakan berdasarkan jenis kelamin dan juga usia. Ada kelompok Liliuran laki-laki dan ada kelompok Liliuran perempuan mulai dari anak-anak sampai dewasa. Terbentuknya Liliuran ini didasari rasa persaudaraan yang kental antara masing-masing anggota.

Awal mula terbentuknya kelompok Liliuran ini berawal dari pertemanan yang akhirnya sepakat untuk membentuk kelompok Liliuran. Sejak kecil anggota Liliuran akan mengerjakan tugas-tugas sederhana seperti mencari kayu bakar di hutan. Sebagai upah Mereka akan mendapatkan makanan ringan dari orang tua.

Pekerjaan mencari kayu bakar ini akan berlanjut hingga usia Mereka dewasa. Namun, bedanya hanya pada jumlah kayu bakar yang harus dicari. Jumlah anggota Liliuran bisa saja tidak tetap dikarenakan berbagai sebab.

Ada juga tugas utama yang biasanya dikerjakan seperti mengurus lahan pertanian yang dilakukan secara bergilir. Jadwal pengerjaan tugas akan ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama antar anggota.

Setiap anggota mempunyai kewajiban untuk mengurus lahan sesuai jadwal yang disepakati. Hanya ada satu alasan yang akan diterima ketika tidak bisa melakukan pekerjaan ini yaitu jika ada sanak saudara yang mengalami sakit keras.

Salah satu anggota Liliuran akan menjadi tetua yang dipilih atas dasar usia dan keahlian mengerjakan suatu hal. Tugas dari tetua adalah memimpin musyawarah antar anggota Liliuran hingga tercapai suatu kesepakatan.

14. Tradisi Gemoning Masyarakat Nusa Tenggara Timur

Gemoning merupakan sebuah kegiatan gotong royong tapi juga dibalut dengan seni berbalas pantun dan syair. Tujuannya agar pekerjaan yang dilakukan menjadi lebih ringan dan cepat selesai.

Anak berusia di atas 15 tahunlah yang boleh mengikuti kegiatan ini. Uniknya selama melakukan pekerjaan Mereka bisa menghibur diri dengan berbalas pantun. Ini harus dilakukan oleh semua yang terlibat pekerjaan.

Jenis pantun dan syair yang dilantunkan dibedakan berdasarkan beda usia. Anak-anak muda lebih memilih pantun dan syair tentang cinta. Uniknya Gemoning juga dimanfaatkan para pemuda untuk mencari jodoh. Pantun dan syair yang dipilih orang-orang tua termasuk pantun lama yang dipercaya mempunyai kekuatan spiritual.

Setiap keluarga minimal mengirim satu perwakilan untuk mengikuti tradisi Gemoning. Kegiatan Gemoning ini dilakukan seharian dari pagi hingga sore. Namun, karena aktivitas berpantun ria antara warga membuat pekerjaan tidak terasa berat.

15. Tradisi Bakar Batu Suku Dani, Papua

Suku Dani punya tradisi makan besar unik. Bakar Batu merupakan sebuah tradisi membakar ubi-ubian di dalam sebuah media bakar dari kumpulan batu yang dilapisi dengan rerumputan.

Perempuan suku Dani akan menyiapkan semua bahan yang akan digunakan untuk Bakar Batu yang meliputi batu, kayu bakar, rumput, ubi dan dedaunan. Lalu akan ada laki-laki yang membuat api. Uniknya api dibuat dari gesekan dua kayu sampai menghasilkan percikan api yang membakar rumput kering.

Setelah itu, semua media bakar akan disusun di atas api meliputi batu, dan rumput. Ada lapisan-lapisan antara batu dan rumput yang akan menutupi umbi.

Selain nikmat, tentu hasil ubi bakar batu ini dijamin kesehatannya. Masyarakat dari suku Dani juga terus mempertahankan tradisi gotong royong ini sampai saat ini. Bagi Mereka tradisi ini merupakan warisan dari para pendahulu yang berharga.

Suku Dani melakukan tradisi Bakar Batu dalam rangka bentuk ucapan syukur, perayaan setelah perang, pesta menyambut kelahiran dan pernikahan. Kini, tradisi ini juga dilakukan untuk menarik minat para wisatawan yang tertarik dengan wisata budaya di Bumi Papua.

Bentuk Budaya Gotong Royong di Indonesia Saat Ini

Budaya gotong royong di Indonesia sampai saat ini masih bisa bertahan digempur oleh karakter individualistis yang semakin kuat akibat kemajuan peradaban. Karakter tolong menolong sudah seharusnya dipertahankan.

Kita bisa melihat bagaimana tradisi nenek moyang Kita yang sangat menghargai kerja sama dan gotong royong. Tentu saja hal positif yang diwariskan para pendahulu harus dilestarikan sampai saat ini. Nah, inilah bentuk gotong royong yang bisa ditemukan di Indonesia saat ini.

1. Kerja Bakti

Sebenarnya, gotong royong juga dapat dilihat dari kegiatan sederhana yang biasa dilakukan masyarakat diakhir pekan. Salah satunya kerja bakti, dan jika dilihat lebih dalam lagi ada suatu nilai yang tertanam saat kegiatan ini dilakukan. Nilai kebersamaan yang tidak bisa ditukar dengan uang.

Secara otomatis akan ada pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bertugas untuk melakukan pekerjaan seperti membersihkan kompleks sedangkan perempuan akan mempersiapkan konsumsinya.

2. Jumat Bersih

Kegiatan Jumat bersih terus dibiasakan pada siswa-siswa di Sekolah Dasar. Ini adalah bentuk pelestarian budaya gotong royong yang positif. Kebiasaan yang positif akan membekas dalam diri para siswa, sehingga diharapkan ketika dewasa Mereka sudah siap untuk terjun ke masyarakat.

Kegiatan Jumat bersih akan dilakukan setiap hari Jumat pagi. Aktivitas yang dilakukan adalah membersihkan lingkungan sekolah dari rumput-rumput liar, dan sampah serta membersihkan kelas secara gotong royong. Siswa juga diajari untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

3. Pembangunan Fasilitas Umum

Kegiatan yang bersifat gotong royong saat ini juga bisa dilihat dari partisipasi masyarakat desa dalam membangun fasilitas umum. Misalnya saja rumah ibadah, jembatan dan sebagainya. Mereka melakukan dengan sukarela, bahkan Mereka rela patungan agar tujuan ini tercapai.

4. Pernikahan

Masyarakat saat ini khususnya di desa juga masih memegang tradisi membantu tetangga yang sedang mengadakan hajatan. Mereka dengan sukarela membantu tanpa ada imbalan berupa uang. Pihak penyelenggara hajat akan memberikan makanan sebagai tanda terimakasih.

Laki-laki membantu untuk hal-hal yang berhubungan dengan keamanan dan parkir. Sedangkan, perempuan biasanya mengambil bagian untuk urusan dapur seperti menyiapkan hidangan, dan makanan ringan.

5. Siskamling

Siskamling merupakan salah satu budaya gotong royong yang saat ini masih dilakukan oleh masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga keamanan lingkungan. Tugas jaga dilakukan secara berkelompok dan dijadwalkan setiap malam.

Selain menjaga keamanan, budaya ini bisa membuat tali persaudaraan semakin erat. Siskamling erat dengan bincang-bincang santai sambil mengitari desa.

6. Posyandu

Kegiatan pemeriksaan kesehatan balita dan lansia ini juga bisa dibilang sebagai bentuk gotong royong. Biasanya ibu-ibu setempat akan saling bekerja sama untuk membantu terlaksananya Posyandu ini.

Keberadaan Posyandu sangat dibutuhkan oleh warga. Hal itu dikarenakan adanya Posyandu maka masyarakat bisa mengontrol kesehatan buah hatinya yang ada dalam rentang usia dibawah lima tahun begitu juga dengan lansia.

7. Desa Wisata

Terbentuknya suatu desa wisata juga merupakan bentuk dari gotong royong masyarakat yang tinggi. Desa wisata terbentuk karena kesadaran masyarakatnya bahwa ada sebuah potensi yang bisa diangkat untuk tujuan pariwisata.

Masyarakat yang tinggal di desa wisata akan melakukan pembagian tugas untuk menyukseskan program desa wisata ini. Para pemuda bertugas sebagai pemandu tour, orang-orang tua bertugas untuk mengelola objek-objek wisata.

Selain membuat interaksi antar masyarakat lebih erat, desa wisata juga mendatangkan rejeki kepada setiap warganya yang terlibat. Keterlibatan bisa sebagai pengelola objek wisata, pedagang, pemandu wisata, penyedia jasa penginapan, dan sebagainya.

Fungsi Gotong Royong dalam Hidup Bermasyarakat

Seperti yang telah Kita ketahui bahwa setiap kebiasaan yang Kita lakukan akan memberikan dampak terhadap diri sendiri maupun orang lain. Tradisi positif yang dilakukan secara berulang-ulang dan dilestarikan akan memberikan dampak positif pula bagi masyarakat yang mau menjalankannya.

Budaya gotong royong bisa memberikan rasa tenang kepada anggota masyarakatnya. Coba Kita andaikan jika sampai hari ini budaya sambatan masih benar-benar dilaksanakan, maka tidak akan ada kekhawatiran seseorang yang mau membangun rumah.

Tidak hanya sambatan, mungkin juga jika budaya Marsiadapari masih bertahan hingga kini mungkin petani akan lebih sejahtera. Bukan tidak mungkin jika petani akan menjadi pekerjaan idaman para generasi muda karena kesejahteraan petani.

Harus diakui jika tradisi gotong royong memang mulai luntur. Namun, perlu diingatkan lagi jika tradisi ini harus dilestarikan karena makna yang tersirat di dalamnya sangatlah dalam dan tentu saja memberikan manfaat nyata untuk kehidupan masyarakat Indonesia.

Kebermanfaatan Gotong Royong Untuk Kita Para Generasi Muda

Budaya gotong royong memberikan banyak manfaat yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Ya adanya semangat gotong royong bisa membuat semua pekerjaan berat menjadi lebih ringan dan cepat selesai.

Misalnya saja Kamu mendapat PR dari Bapak/Ibu Guru, saat kesulitan Kamu meminta bantuan teman untuk mengajari Kamu. Ini bentuk kebermanfaatan gotong royong dalam kehidupan sehari hari para generasi muda yang bisa menjadi embrio positif di masa depan.

Saling bekerja sama juga akan membuat Kamu semakin kenal karakter dari teman-teman Kamu. Contohnya si A yang ternyata punya suara yang bagus, dan si B yang suka sepak bola. Kamu jadi bisa lebih mengerti dan melatih diri untuk menerima.

Gotong royong juga akan melatih seseorang menjadi lebih bertanggung jawab. Setiap kerja sama yang dilakukan pasti akan ada pembagian tugas. Nah, cara ini akan melatih Kamu untuk mengerjakan bagian yang harus dikerjakan. Ini adalah budaya yang sekaligus bisa membentuk karakter.

Kamu akan menjadi pribadi yang semakin positif dan siap untuk terjun di masyarakat. Hal ini sangat penting agar Kamu tidak mengalami kekakuan saat hidup bermasyarakat.

Upaya Mempertahankan Budaya Gotong Royong di Masyarakat Modern

Masyarakat modern penuh dengan tuntutan. Hal inilah yang membuat nilai gotong royong semakin pudar di era modern ini. Padahal adanya teknologi ini seharusnya bisa digunakan untuk mempererat semangat gotong royong yang telah dibangun sejak lama oleh nenek moyang Bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana cara yang tepat untuk mempertahankan budaya gotong royong di masyarakat modern zaman sekarang ini? Berikut jawabannya.

1. Mengadakan Kegiatan Sukarela

Langkah nyata ini termasuk bisa dicoba untuk mempertahankan budaya gotong royong. Terkadang banyak orang ingin terlibat dalam suatu kegiatan positif, namun tidak tahu bagaimana harus menyalurkannya.

Kegiatan sukarela ini bisa menjadi solusi untuk orang-orang yang merasa terpanggil dalam suatu bidang kegiatan. Bentuk kegiatannya bisa berupa penanaman satu juta pohon, out bond, komunitas lari, gerakan bersih-bersih pantai dan masih banyak yang lainnya.

2. Mengkampanyekan Pentingnya Gotong Royong

Dewasa ini penggunaan media sosial sangat mempengaruhi masyarakat. Kita bisa menggunakan media  sosial sebagai wadah untuk mengkampanyekan pentingnya semangat gotong royong. Paling tidak, Kita bisa memberikan pengertian kepada para pembaca pesan di media sosial Kita.

3. Aktif dalam Kegiatan Kemasyarakatan

Jika Kamu mempunyai tanggung jawab di suatu organisasi masyarakat, manfaatkan kesempatan tersebut untuk bisa membentuk budaya gotong royong. Buat kegiatan yang minimal bisa melibatkan banyak orang sehingga jiwa gotong royong itu bisa tumbuh lagi.

Akhirnya semua usaha harus dikembalikan kepada yang sang Mahakuasa. Setiap usaha yang dilakukan dengan maksud positif pasti akan memberikan hasil yang terbaik. Sekarang saatnya kembali melakukan aksi-aksi nyata dalam rangka melestarikan budaya gotong royong sesuai kemampuan dan bagian Kita masing-masing.

Oleh: Y. Anugrahanto

1 Trackback / Pingback

  1. 11 Candi Megah yang Ada di Pulau Jawa - INSFIRA

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*