De Tjolomadu, Simbol Kejayaan Raja Jawa

De Tjolomadu

De Tjolomadoe bukan hanya sekadar tempat wisata di kota Solo.

Museum yang berdiri di lahan seluas 6,4 Ha itu merupakan bekas Pabrik Gula (PG) Colomadu yang sudah ada sejak 1861.

Tak hanya menjadi destinasi wisata penghilang penat, De Tjolomadoe juga menyuguhkan edukasi sejarah, khususnya tentang kisah raja Jawa di era kolonial.

De Tjolomadu

Dengan harga tiket sebesar Rp25.000 saja, pengunjung sudah bisa menyaksikan sejarah kejayaan raja Jawa diera Mangkungaran ke IV.

Kesan megah sudah terlihat nyata saat pengunjung mulai memasuki area utama.

Mesin-mesin pengolahan tebu dan cerobong asap yang menjulang tinggi khas zaman kerajaan masih terawat apik di museum tersebut.

Destinasi wisata ini juga dilengkapi dengan layar interaktif, display, dan diorama yang berisi tentang sejarah kejayaan PG Colomadu.

Area wisata ini di bagi dalam beberapa ruangan yang masing-masing menggambarkan proses pengolahan tebu hingga menjadi gula.

Terdapat ruangan penggilingan, penguapan, karbonatasi, dan ketelan. Di salah satu sudut, juga terdapat instalasi seni bernama Taman Magis Wara yang berarti taman para raja.

Di dalam taman tersebut terdapat berbagai ukuiran bunga, gunung dan batik yang bisa menyala dalam gelap.

Konon, ruangan tersebut merupakan simbol gotong royong dan kemandirian yang merepresentasikan PG Colomadu. Di area wisata ini juga terdapat kafetaria dan pusat penjualan kerajinan tangan.

Sejarah De Tjolomadu

PG Colomadu yang kini disulap menjadi area wisata ini dibangunoleh Raja Mangkunegara ke IV, yang hidup pada tahun 1853 hingga 1881.

Mangkunegara IV merupakan pribumi terkaya di era penjajahan Belanda sekaligus pelopor ekonomi modern di dalam kerajaan tradisional.

Ia melakukan reformasi ekonomi di mana pendapatan kerajaan tak lagi bergantung pada pajak tradisional tetapi juga mengembangkan perusahaan berkebunan dan pengelolaanya.

Tahun 1861 Mangkunegara IV mendirikan pabrik gula dengan meminta persetujuan dari Residen Belanda di Solo.

Setelah usulan disetujui, pabrik gula pun didirkan dengan bantuan ahli dari Jerman bernama R.Kampf. Pabrik gula tersebut diberi nama Colomadu yang bermakna gunungan madu.

Secara resmi, pabrik tersebut berdiri pada tahun 1862 dan berhasil memproduksi 3.700 kwintal gula pada tahun pertama panen.

Bahkan, gula yang dihasilkan pun berhasil diekspor hingga ke Singapura.

Seiring berjalannya waktu, PG Colomadu semakin berkembang.

Melihat kesuksesan tersebut, Mangkunegara IV berencana memperkuat bisnisnya dengan mendirikan pabrik gula kedua.

Tahun 1871 rencara tersebut terealisasi dengan berdirinya Pabrik Gula Tasik Madu, yang lokasinya tak jauh dari pabrik pertama.

Sayangnya, sejak meninggalnya Mangkunegara IV membuat ekonomi kerajaan mengalami gonjang-ganjing, yang turut memengaruhi kondisi pabrik.

Tak hanya itu, era kependudukan Jepang – tepatnya tahun 1942-  popularitas tebu sebagai bahan baku gula meredup, begitupula dengan kejayaan PG Colomadu.

Krisis ekonomi di tahun 1997 hingga 1998 membuat PG Colomadu berhenti beroperasi total.

Proses produksi pun dialihkan ke PG Tasikmadu. Akibatnya, bangunan PG Colomadu terlantar hingga bertahun-tahun.

Tepat di tahun 2017 bangunan PG Colomadu direvitalisasi dengan mempertahankan nilai sejarah.

Sejak sat itu, bangunan yang terlantar hingga bertahun-tahun itu pun menjadi area wisata komersil tanpa kehilangan sisi historisnya.

Oleh: Ariskaanggra

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*