Cara Belajar Matematika yang Menyenangkan

Jika kita mempunyai satu apel, lalu kita membeli lagi dua apel di pasar, artinya berapakah apel yang kita punya saat ini? Ya, perhitungan sehari-hari tersebut sebenarnya adalah bagian kecil dari pelajaran matematika yang sudah dipelajari sejak awal kita sekolah.

Matematika tidak pernah jauh dari kehidupan. Dimanapun dan kapanpun, secara sadar maupun tidak sadar, kita pasti akan memakai ilmu matematika.

Seringkali pelajaran matematika malah dianggap momok untuk banyak siswa di sekolah.

Sebenarnya matematika tidaklah sukar untuk dipelajari asalkan dengan metode yang pas. Selain dari usaha diri sendiri, lingkungan sekitar seperti orang tua, guru, teman-teman pun juga dapat membantu mempermudah pemahaman terhadap pelajaran matematika.

Nah untuk itu, berikut akan ditampilkan beberapa tips cara mengatasi berbagai permasalahan yang dialami saat ini mengenai pembelajaran matematika yang ada di sekolah. Yuk, mari kita baca siapa tahu cocok dan bisa kita terapkan.

Baca Juga: OZOBOT: Robot Kecil Edukatif untuk Pembelajaran STEM

1. Mengaitkan Matematika dengan Kehidupan Nyata

Citra matematika sebagai pelajaran yang sulit sebenarnya dipicu oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah karena banyak sekolah yang tidak menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata. Hal tersebut juga diperparah oleh orang tua yang tidak menganggap matematika sebagai bagian dari keseharian dan sebenarnya sebagai suatu hal yang menyenangkan.

Kebanyakan menganggap matematika hanyalah soal angka dan rumus yang harus dihafalkan dari bertumpuk-tumpuk buku. Padahal jika dilihat lebih dalam lagi seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, matematika sebenarnya sangat dekat dengan kegiatan sehari-hari.

Misalnya saja, memahami konsep berhitung (tambah, kurang, kali, dan bagi) dapat dipraktikkan saat berbelanja, menata makan malam, naik kendaraan umum, membersihkan rumah, atau olahraga.

Begini penerapannya, saat ke swalayan atau super market kita bisa menghitung berapa total harga dari barang-barang yang telah dibeli. Contoh lain, jika suatu produk ada diskon (potongan), kita juga bisa menghitung secara manual berapa harga yang didapatkan setelah dikurangi diskon.

Meskipun kadang sudah tercantum, tapi hal tersebut juga bisa membuat kita berlatih mengenai persoalan matematika. Kemudian jika di meja makan, kita juga bisa belajar matematika untuk menghitung jumlah sendok garpu sesuai jumlah anggota keluarga, atau membagi kue agar semua anggota keluarga bisa mendapatkan bagian.

Konsep matematika yang dipraktikkan dengan cara seperti ini kemungkinan besar akan lebih mudah untuk dipahami.

2. Menggunakan Alat Peraga / Medium Pembelajaran

Salah satu cabang dalam ilmu matematika ialah tentang geometri dimana dalam sistem matematika geometri didefenisikan ilmu yang mempelajari garis, ruang, dan volume yang bersifat abstrak.

Garis dan titik tersebut pada akhirnya akan menjadi sebuah simbol dengan berbagai bentuk. Seorang ahli matematika yang bekerja di bidang geometri disebut ahli ilmu ukur.

Jenis-jenis dalam ilmu geometri salah satunya adalah soal bangun ruang dan bangun datar. Pelajaran mengenai bangun ruang dan bangun datar adalah materi yang bisa diajarkan sambil bermain. Jika kita berperan sebagai orang tua maupun tenaga pengajar, ketika mengajarkan anak/siswa mengenai bangun datar bisa dengan mengenalkannya lewat beberapa benda di sekitar.

Misalnya, papan tulis merupakan salah satu contoh bangun datar yang bentuknya persegi panjang. Contoh lainnya bisa diambil dari piring, ban kendaraan, uang koin yang menjadi salah satu dari bentuk lingkaran.

Masuk ke materi dan konsep cara menghitung bangun ruang, kita tentu juga bisa menggunakan benda yang ada di sekitar kita. Jika diamati lebih rinci, sebenarnya kita tidak pernah lepas dari bangun ruang berbentuk kubus maupun balok. Setiap ruangan di rumah kita adalah salah satu contoh dari bentuk bangun ruang tersebut. Bentuk bangun ruang lain ialah bola, yang tentu saja mudah sekali kita temui di kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Tari Tortor, Pusaka Suku Batak

Setelah contoh-contoh tersebut kita pahami, selanjutnya adalah menerapkannya sesuai dengan rumus yang telah diajarkan. Memasukkan rumus dengan membayangkan bentuk visual biasanya akan lebih mudah untuk dikerjakan.

Karena itulah anak / siswa harus diberi alat peraga yang bisa dimanipulasi untuk semua bidang matematika agar semua lebih terasa dekat dan masuk akal.

3. Memanfaatkan Trik Matematika

Sebelum masuk ke pembahasan rumus-rumus matematika yang bisa dikerjakan dengan menggunakan trik tertentu, alangkah lebih baik kalo kita memahami terlebih dahulu sifat-sifat dasar matematika yaitu kali, tambah, bagi, kurang, yang bisa juga disingkat menjadi KaTaBaKu. lalu menghitungnya dengan salah anggota tubuh kita yaitu jari.

Ya, menghitung menggunakan jari sering disebut juga dengan metode jarimatika. Apakah yang dimaksud dengan jarimatika ini? Jarimatika diambil dari kata Jari dan Aritmatika. Metode jaritmatika adalah sebuah cara yang dikembangkan oleh salah satu anak bangsa bernama Septi Peni Wulandari sekitar tahun 2004.

Logika penghitungan jarimatika bisa dibilang mirip dengan logika penggunaan sempoa khas negara China. Jarimatika merupakan metoda yang sangat sederhana namun mengasyikkan tentang berhitung dasar menurut kaidah. Sampai sekarang metode jaritmatika masih menjadi metoda yang dipakai bahkan dikembangkan dan banyak dipakai oleh lembaga-lembaga kursus. Dalam jarimatika, tangan kiri digunakan untuk melambangkan puluhan dan tangan kanan berfungsi sebagai lambang satuan.

Masuk ke materi selanjutnya yaitu mengenal rumus dalam matematika. Rumus matematika adalah salah satu penyebab utama kenapa pelajaran yang satu ini dianggap sulit dan menyebalkan. Rumus matematika selalu ada pada setiap jenjang pelajaran matematika, dan semakin tinggi jenjang pendidikannya pastinya rumus-rumus tersebut juga akan semakin rumit untuk dipahami maupun dihafalkan.

Bagi banyak orang, hal yang membuat jengkel belajar MTK yaitu menghafal rumus. Mereka yang memiliki daya ingat kuat, tentu saja menghafal rumus tersebut tidak akan menjadi masalah. Namun bagi mereka yang susah dalam menghafal, hal itu bisa menjadi masalah yang cukup fatal. Walaupun memang ilmu ini membutuhkan pemahaman konsep yang kuat, bukan hanya sekedar menghafal.

Untuk mengatasi hal ini, beberapa trik matematika akhirnya diciptakan. Trik dalam matematika bisa berupa bagaimana caranya menghitung dengan cepat, mencari nilai tertentu tanpa rumus yang rumit, hingga menggunakan jembatan keledai untuk menghafalkan rumus-rumus yang cukup panjang dan membingungkan.

Misalnya dalam soal perkalian, jika ada pertanyaan “berapakah 37 x 33?” maka kira-kira begini cara menjawabnya,

Sebelumnya kita pastikan dulu bahwa digit awal kedua bilangan tersebut sama, yaitu angka 3. Lalu cara semacam ini hanya berlaku bila jumlah angka terakhir di kedua bilangan itu adalah 10 (dalam soal diatas berarti 7+3 = 10). Bila kedua hal tersebut sudah terpenuhi, cara belajar menghitung cepat dengan trik setelah ini akan bisa diterapkan. Namun jika kedua syarat itu tidak terpenuhi, maka cara ini tidak dapat digunakan. Kemudian untuk cara menghitungnya seperti ini,

Tambahakan 1 pada 3 (angka yang sama), sehingga menjadi 4.

Kemudian kalikan 3 dengan 4, hasilnya adalah 12. Jadi artinya 37 x 33 = 12 _ _

Untuk mengisi 2 digit terakhir, kalikan ke-2 angka dibelakang ( 7 dan 3), Hasilnya, 7 x 3 = 21

Jadi total akhirnya adalah, 37 x 33 = 1221

Masih bingung? Baiklah kita ambil contoh kedua dengan cara yang sama. Misalkan ada pertanyaan “berapakah hasil dari 56 x 54?” maka berarti begini cara menjawabnya,

5 + 1 = 6
5 x 6 = 30
Artinya, 56 x 54 = 30 _ _

Selanjutnya kalikan dua angka di belakang (6 x 4 = 24)

Jadi jumlah totalnya adalah, 56 x 54 = 3024

Mudah sekali kan? Sekarang mari kita masuk ke trik matematika untuk menghitung persentase. Jika ingin menghitung persentase dari suatu nilai, kita bisa melakukan pembagian terhadap nilai dan persentasenya dengan angka 10. Setelah itu, kedua angka dari hasil pembagian tersebut dikalikan. Misalnya begini,

30% dari 250 = ?
30 : 10 = 3
250 : 10 = 25
Maka 3 x 25 = 75. Artinya 30% dari 250 adalah 75.

Persoalan matematika yang lain biasanya tentang penghitungan nilai dari satuan suhu tertentu ke satuan suhu yang lain. Dalam hal ini misalnya menghitung nilai suhu Celcius ke Fahrenheit ataupun sebaliknya.

Cara menghitung Celcius ke Fahrenheit adalah cukup dengan nilai temperaturnya dikali 2 dan jumlahkan dengan 30. Untuk hasil yang lebih tepat, kali dengan 1,8 dan jumlahkan dengan 32.

Sementara cara untuk menghitung Fahrenheit ke Celcius adalah dengan mengurangkan dengan 30, dan bagi hasilnya dengan 2. Atau jika ingin hasil yang lebih tepat, kurangkan 32 dan bagi hasilnya dengan 1,8.

Materi lain yang bisa diseleseaikan dengan trik atau rumus cepat matematika adalah dengan deret matematika. Soal semacam ini cukup sering muncul, baik dalam Ujian Nasional, Ujian Sekolah, sampai dengan SBMPTN. dengan mempelajari deret dengan rumus deret matematikaakan sangat membantu ketika sedang menghadapi berbagai macam ujian tersebut.

Baca Juga: 7 Handphone dengan Baterai Super Awet

4. Bisa karena Terbiasa

“Sudah mencoba semua cara tapi tetap tidak bisa mengerjakan matematika, ah mungkin saya memang tidak berbakat”

Kalimat diatas adalah satu contoh kalimat yang mencerminkan fixed mindset, wah apakah itu? Fixed mindset bisa diartikan sebagai pola pikir tetap yang merupakan sebuah penggambaran tentang orang-orang yang percaya bahwa kecerdasan / bakat mereka sudah manjadi satu sifat yang tidak bisa dirubah.

Orang-orang dengan fixed mindset percaya bahwa kecerdasan serta bakat mereka tidak perlu dikembangkan lebih jauh lagi. Tipikal orang seperti ini biasanya lebih gampang menyerah dan condong untuk menyalahkan kelemahan dalam diri.

Sementara disisi lain, ada juga yang dinamakan dengan growth mindset. Sebuah pola pikir yang percaya bahwa kegagalan bukanlah suatu bukti dimana seseorang tidak cerdas atau tidak bisa melakukan suatu hal tertentu, namun merupakan sebuah tantangan untuk berusaha meningkatkan kemampuannya. Jadi dalam hal ini, intelektual dan bakat lebih dirasa sebagai sesuatu yang bisa terus bertumbuh dan berkembang.

Seorang psikolog bernama Carol Dweck pernah melakukan sebuah penelitian mengenai pengaruh pujian yang diberikan ke seorang anak. Ternyata hasilnya, pujian dapat mengarahkan seseorang ke suatu pola pikir tertentu. Percobaan dilakukan terhadap anak dengan hasil tes yang sama. Ketika satu anak dipuji dengan,

“Kamu hebat sekali, bisa mendapatkan nilai 90. Pasti kamu sangat cerdas dan berbakat dalam hal ini”

Sementara anak yang lain dipuji dengan,

“Kamu hebat sekali, bisa mendapatkan nilai 90. Pasti kamu bekerja dengan sangat keras”

Hasilnya cukup mengejutkan, anak yang dipuji dengan pujian pertama lebih banyak yang menolak mengerjakan soal yang lebih sulit. Kebanyakan tidak mau menampakkan kelemahan/ketidakmampuan. Sebaliknya, anak yang dipuji dengan pujian kedua, hampir semuanya setuju untuk mengerjakan soal yang lebih sulit.

Studi ini menyimpulkan bahwa dengan pujian pertama, sukses artinya pintar, sementara gagal berarti kurang pintar. Sedangkan pujian kedua mengidikasikan bahwa kegagalan bukan berarti bodoh, namun harus bekerja lebih keras lagi.

Pola pikir yang kedua sangat diperlukan ketika kita mempelajari matematika. Pelajaran ini tidak membutuhkan bakat tertentu untuk bisa dikuasai, tetapi yang jelas perlu banyak latihan mengerjakan soal sampai di tahap benar-benar paham. Matematika adalah ilmu yang seiring dengan berjalannya waktu akan terus menjadi luas dan berkembang. Kita tidak bisa hanya mempelajari ilmu ini dari satu titik saja, lalu berhenti pada titik itu. Kita harus terus menerus menyelesaikan persoalan dari masalah satu ke masalah yang lain.

“Practice makes perfect” bukan hanya kalimat mutiara yang seringkali menjadi sebuah judul. Kalimat tersebut mempunyai makna yang cukup mendalam agar kita tidak mudah menyerah ketika mempelajari sesuatu, termasuk pelajaran matematika. Semakin kita giat berlatih mengerjakan berbagai macam soal, seiring dengan itu pula kita mulai terbiasa untuk menyelesaikan persoalan dengan caranya masing-masing. Konsisten dan disipilin sangat penting dalam hal ini. Tanpa kedua hal tersebut, poin-poin sebelumnya tidak akan berguna.

Ada banyak media yang bisa memfasilitasi kita untuk berlatih soal matematika apalagi di era teknologi digital saat ini. Mulai dari buku-buku latihan soal, aplikasi tertentu, games, bimbingan belajar baik konvensional maupun online, dsb. Hal ini pun bisa dilakukan secara berkelompok bersama teman-teman maupun secara individu. Selama kita mempunyai kemauan yang kuat, pasti akan ada banyak jalan yang kita temukan.

Demikianlah hal-hal yang mungkin bisa menjadi tips cara belajar matematika dengan menyenangkan. Semoga bisa banyak membantu. Selamat belajar!

Oleh: Riskadevam

REFERENSI:

  • Bahtiar, Muhlas. 2016. Pendidikan SD : Metode Jarimatika.
  • Ruang Guru. 2016. Ingin Pintar Matematika? Cek 5 Rumus Ajaib Berikut Ini.
  • Nithy, Theva. Belajar Matematika – Cara Mengalikan Bilangan dengan Cepat. (id.theasianparent)
  • Kurniawan. 2019. Jika Anda adalah Tutor atau Guru Matematika, Menggunakan Strategi Matematika dapat Membantu Memotivasi Siswa Anda! (superprof.co.id)
  • Febrida, Melly. 2018. Cara Menyenangkan Belajar Matematika bareng Anak. (haibunda.com)
  • Apa Perbedaan. 2016. Fixed and Growth Mindset. (apaperbedaan.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*