Candi Cetho, Peninggalan Majapahit di Kaki Gunung Lawu

Gunung Lawu yang berada di tiga wilayah kabupaten, yaitu Karanganyar, Ngawi dan Magetan diyakini menjadi salah satu saksi sejarah masa kekuasaan kerajaan Majapahit di Nusantara.

  Gunung Lawu menurut sejarah mempunyai keterkaitan kuat terutama dengan Prabu brawijaya, sang raja terakhir dari Majapahit sebelum akhirnya runtuh pada abad ke 15.

  Keterkaitan Kerajaan Majapahit dengan Gunung Lawu diperkuat dengan bukti-bukti sejarah yang tersebar di kaki-kaki Gunung Lawu mulai dari prasasti hingga bangunan candi yang hingga kini masih berdiri kokoh dan terawat. Salah satu bangunan Candi tersebut adalah Candi Cetho.

Sejarah Candi Cetho

  Candi Cetho adalah candi Hindu yang diperkirakan dibangun pada sekitar abad ke 14 oleh Kerajaan Majapahit pada masa kekuasaan Prabu Brawijaya V. Candi ini pertama kali ditemukan oleh arkeolog Belanda pada tahun 1842, dan baru pada tahun 1970 dipugar pada masa pemerintahan Presiden Soeharto sehingga berbentuk seperti sekarang ini.

  Candi yang berada di ketinggian 1500 mdpl ini secara administratif berlokasi di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

  Adapun pemberian Nama Cetho diambil dari bahasa jawa yang artinya jelas. Ini bermakna jika berada di Candi Cetho akan bisa jelas melihat ke segala arah karena letaknya yang berada di ketinggian.

Daya Tarik Di Candi Cetho

  Letaknya yang berada ketinggian, menjadikan Kawasan wisata Candi Cetho mempunyai udara yang sangat sejuk. Selain itu tempat ini juga sering dijuluki sebagai Candi di atas awan, karena letaknya yang berada di ketinggian 1500 mdpl.

  Jika sedang beruntung pengunjung akan dapat menikmati keindahan Candi Cetho sekaligus hamparan lautan awan yang mempesona. Untuk mendapatkan pemandangan tersebut adalah ketika pagi hari dan kondisi cuaca sedang cerah.

   Selain digunakan sebagai tempat wisata, Candi Cetho juga digunakan sebagai tempat ibadah para pemeluk agama Hindu, maka tak heran jika banyak sesaji dan dupa yang bertebaran di kawasan candi.  Selain itu Candi ini juga dipakai untuk melaksanakan upacara hari besar agama Hindu yaitu Galungan.

Eksotisme Panorama Candi Cetho

  Banyak masyarakat sekitar percaya Bahwa Candi Cetho adalah pintu depan untuk menuju ke Gunung Lawu. Jika berada di Candi Cetho, Gunung Lawu akan terlihat sangat dekat dan begitu gagah.

  Selain itu dari Candi Cetho Pengunjung akan disuguhkan pemandangan hamparan hijau kebun teh kemuning yang begitu menyejukkan mata.

  Candi Cetho memiliki gaya bangunan yang bertingkat-tingkat dan memiliki sembilan teras. Semakin tinggi teras, semakin indah pula pemandangan yang bisa dilihat. Setiap teras dihubungkan oleh tangga. Sebenarnya pada saat ditemukan Candi Cetho memiliki 14 dataran bertingkat, namun saat ini hanya sembilan saja yang dipugar.

 Berada di ketinggian, sudah barang tentu membuat kawasan Candi Cetho bisa digunakan sebagai spot melihat sunrise ataupun sunset. Banyak yang bilang momen Matahari terbit atau tenggelam di Candi Cetho penuh dengan romantisme dan tidak akan bisa dilupakan oleh siapa saja yang sudah melihatnya.

  Rute dan Harga tiket

  Selain Pemandangan di Candinya yang begitu luar biasa, rute menuju kawasan wisata ini pun tak kalah mempesona.

  Sepanjang perjalanan menuju Candi Cetho akan disuguhkan hamparan perkebunan teh di kanan kiri berpadu dengan pemandangan perbukitan yang hijau menjulang.

 Satu hal yang penting, jika ingin menuju ke Candi Cetho harus memastikan kendaraan dalam kondisi prima. Letaknya yang berada di ketinggian menjadikan jalan menutu kawasan candi cukup menanjak, sehingga dibutuhkan mesin kendaraan yang baik.

  Untuk masuk ke Candi Cetho setiap pengunjung dikenai biaya sebesar Rp. 10.000 untuk wisatawan lokal dan Rp. 30.000 untuk wisatawan mancanegara.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*