Budaya Ngaos Yang Sudah Menjadi Tradisi

Cianjur memang sangat erat hubungannya dengan budaya sunda leluhur yang tergolong sangat agung.

Kita mengenal istilah kacapi dan suling yang selalu mengiringi disaat acara-acara pernikahan yang menerapkan budaya sunda.

Tak jarang apabila kita mendengar petikan kacapi dan bunyi suling selalu dikait-kaitkan dengan acara sakral tersebut.

Selain budaya Mamaos yang pernah dibahas sebelumnya. Cianjur pun terkenal dengan kegiatan lainnya yakni Ngaos. Dalam bahasa sunda artinya adalah mengaji, mencari ilmu agama.

Ngaos juga masuk dalam salah satu pilar budaya Cianjur yang sudah ditetapkan pemimpin Cianjur sebelumnya. Tetapi di masa Bupati Irvan Rivano, tiga pilar budaya Cianjur tersebut di tambah menjadi tujuh pilar yang pada waktu itu mendapat tentangan dari salah satu organisasi di Kabupaten Cianjur.

Tak salah apabila kota Cianjur khususnya atau kabupaten Cianjur secara umum selalu dijuluki sebagai kota santri.

Budaya Ngaos inilah yang menjadi patokan penilaian masyarakat bahwa dimulai dari anak-anak sudah dibiasakan dengan tradisi Ngaos ini.

Mungkin tradisi Ngaos ini ada juga di daerah lain dengan nama yang berbeda. Tetapi karena bahasa Ngaos adalah bahasa sunda pastinya di beberapa daerah di tatar sunda mengenal kata tersebut.

Ngaos dijadikan pilar budaya Cianjur karena citra budaya Cianjur dengan keberagamannya. Suasana religius dan saling menghargai antar sesama selalu menjadi dasar kuat terbentuknya suasana harmonis antar sesama masyarakat Cianjur.

Meskipun terkenal akan nuansa islam yang cukup kental di Kabupaten Cianjur. Tetapi bagi masyarakat lainnya tetap saling menghormati dan menjadikan perbedaan sebagai sesuatu yang harus di hormati.

Bukti lainnya adalah Di buatkannya tugu Al-quran yang berada di alun-alun kota Cianjur. Tugu ini sebagai tanda bahwa Cianjur serius ingin menjadikan Ngaos sebagai dasar tradisi di masyarakat.

Budaya Ngaos Yang diterapkan pemerintah Kabupaten menjadikan citra Cianjur sebagai kota agamis seperti kota-kota lainnya yang memang sama juga kental akan sisi religiusnya sebut saja Tasikmalaya, Garut, Banten atau juga Cirebon.

Budaya Ngaos tersebut sebetulnya adalah budaya akan kebiasaan masyarakat dalam mencari ilmu agama. Kebiasaan mengaji memang sudah tertanam sejak kecil.

Istilah mengaji yang biasanya dilaksanakan setelah magrib lebih familiar dikenal dengan istilah Ngaos, yang tentunya membiasakan diri sedari kecil untuk mencari ilmu agama dan lebih mendekatkan dengan sang pencipta.

Budaya Ngaos yang sudah menjadi tradisi ini diharapkan menjadi rutinitas di kalangan masyarakat sebagai dasar keimanan. Di jaman seperti sekarang ini perlu sekali pondasi yang kuat dari segi keimanan dan ketaatan kepada Tuhan.

Semoga dengan pondasi yang kokoh terutama dari segi keimanan menjadi benteng dalam menghadapi kehidupan yang semakin kesini banyak sekali cobaan dan tantangan, apalagi yang menjadi tujuan utama adalah di kalangan anak-anak.

Semoga dengan budaya Ngaos yang di canangkan dan dijadikan sebagai pilar budaya di Kabupaten Cianjur ini bukan hanya slogan semata tetapi akan dapat diamalkan sebagai bagian dari rasa keimanan.

Dan tentunya pemerintahan Kabupaten Cianjur mempunyai tujuan yang menginginkan masyarakatnya makmur dan sejahtera bukan hanya didunia tetapi sebagai bekal di akhirat kelak.

oleh: Ali Suwarno

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*