7 Atlet Inspiratif yang Mengharumkan Nama Indonesia

Cerita inspiratif bisa datang datang dari mana saja dan siapa saja. Tak peduli profesi, baik pekerja kantoran, pejabat pemerintahan, termasuk juga atlet. Setiap atlet pasti memiliki kisahnya sendiri-sendiri, baik yang manis maupun pahit.

Seringkali untuk mendapatkan atau mencapai prestasi, seorang atlet membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Hingga akhirnya semua kemudian terbayar lunas dengan capaian prestasi di akhir cerita.

Kisah perjuangan para atlet ini seringkali dapat menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Misalnya cerita tentang seberat apa mereka meniti karier, kerasnya latihan yang mereka lakukan, persaingan yang ketat, hingga cedera berkepanjangan yang meraka alami.

Berikut ini beberapa atlet Indonesia yang perjuangan kerasnya patut untuk kita apresiasi dan dapat menjadi inspirasi bagi kehidupan kita.

1. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon

Bulutangkis merupakan salah satu olahraga paling populer di Indonesia. Bagaimana tidak, olahraga tepok bulu ini secara konsisten selalu memberikan prestasi yang membawa nama harum Indonesia di kancah dunia. Sektor ganda adalah sektor yang paling diandalkan Indonesia saat ini. Dan duet Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon adalah duet ganda putera Indonesia terbaik saat ini. Bahkan tidak hanya terbaik di Indonesia, melainkan juga terbaik di dunia.

Ya, saat ini Kevin/Marcus adalah pasangan peringkat satu dunia versi BWF. Pencapaian tersebut tentu sangat membanggakan untuk Indonesia. Secara prestasi memang jelas tidak ada ganda putera lain yang menandingi prestasi Kevin/Marcus saat ini, terutama dalam 2-3 tahun terakhir. Mereka secara konsisten meraih gelar juara di berbagai turnamen prestisius yang diselenggarakan oleh BWF.

Pasangan yang memiliki julukan The Minions ini telah menjuarai All England, Indonesia Open, China Open, Japan Open, Denmark Open, French Open, Asian Games, dan gelar-gelar bergengsi lainnya. Maka tidak heran dengan prestasinya tersebut, The Minions dinobatkan sebagai pemain putera terbaik oleh BWF di tahun 2017 dan 2018. Saat ini Kevin/Marcus juga tengah memegang rekor sebagai ganda putera terlama yang menduduki peringkat satu dunia.

Hasil yang mereka capai sekarang bukanlah suatu kebetulan. Dibalik kesuksesan tersebut pasti ada perjuangan yang tak kenal lelah. Sebagai seorang atlet bulutangkis, mereka berdua telah berlatih bulu tangkis sejak kecil. Masa-masa di mana anak seumuran mereka sedang senang-senangnya bermain, Kevin dan Marcus justru banyak menghabiskan waktunya untuk berlatih bulutangkis.

Baca Juga: 25 Tips Sederhana Cara Hidup Bahagia & Bermakna

Kevin Sanjaya Sukamuljo lahir pada tanggal 2 Agustus 1995. Kevin merupakan atlet binaan Klub Djarum Kudus, Jawa Tengah. Awalnya, Kevin bermain di nomor tunggal putera. Namun melihat karakter dan potensi yang Kevin miliki, pelatihnya kemudian memindahkannya ke sektor ganda, baik ganda putera maupun ganda campuran. Belakangan, Kevin lebih difokuskan untuk bermain di sektor ganda putera. Kevin adalah tipe pemain yang agresif, memiliki gerakan tangan yang sangat cepat dan arah bola yang sulit ditebak.

Di awal-awal kariernya, Kevin sempat dianggap remeh. Saat mengikuti audisi bersama PB Djarum, hampir tidak ada pelatih yang tertarik dengan kemampuannya. Namun berkat usaha kerasnya, Kevin akhirnya mampu meyakinkan para pelatih dan masuk ke PB Djarum. Andai ketika itu Kevin menyerah, tentu dirinya tidak akan menjadi pemain dunia seperti sekarang ini. Selain memiliki teknik bermain luar biasa, Kevin memang dikenal memiliki sifat tak mau kalah dan selalu bekerja keras.

Pasangan Kevin, Marcus Feraldi Gideon juga memiliki kisah perjuangan yang tak kalah beratnya. Marcus, yang memiliki usia lebih tua dibanding Kevin, masuk ke Pelatnas lebih dulu ketimbang Kevin. Namun sayang, karena dianggap kurang menunjukkan perkembangan yang signifikan, Marcus yang kala itu masih berpasangan dengan Agrinia Prima Rahmanto tercoret dari skuad yang dikirimkan ke All England. Pencoretan tersebut membuat Marcus sangat kecewa hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari Pelatnas. Keluar dari Pelatnas Cipayung bukan berarti karier bulutangkis Marcus ikut berhenti. Bermain dengan status pemain non-pelatnas, Marcus kemudian berpasangan dengan Markis Kido. Bersama dengan Markis, Marcus kembali menemukan sentuhan-sentuhan magisnya.

Beberapa gelar juara berhasil ia raih. Pasangan Marcus/Kido juga berhasil menembus peringkat 10 besar dunia. Berkat raihan tersebut, kemudian tim pelatih Indonesia tertarik untuk memanggil kembali Marcus masuk ke pelatnas. Marcus kemudian dipasangkan dengan Kevin. Dan hasilnya duet ini menjadi duet yang paling menakutkan di sektor ganda putera dunia saat ini. Keinginan untuk tidak mau kalah dan kepercayaan diri yang tinggi jadi salah satu kunci keberhasilan dari pasangan Kevin/Marcus. Sikap mental tersebut membuatnya tidak cepat merasa puas dan selalu memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Maka tidak heran jika kini mereka menjadi ganda putera paling disegani di dunia.

2. Eko Yuli Irawan

Angkat besi adalah salah satu cabang olahraga yang dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi andalan Indonesia di berbagai event internasional. Mulai dari SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade, angkat besi selalu menjadi salah satu cabang yang diharapkan untuk meraih medali. Dan jika kita berbicara mengenai angkat besi Indonesia, maka salah satu nama yang paling dikenal dan diandalkan saat ini yaitu Eko Yuli Irawan.

Eko Yuli Iriawan merupakan lifter angkat besi Indonesia yang punya catatan prestasi terbaik. Di tahun 2019 misalnya, Eko sukses meraih banyak prestasi di berbagai ajang internasional, seperti SEA Games, Kejuaraan Asia, Kejuaraan Dunia, dan Piala Dunia angkat besi. Eko Yuli berhasil mendapatkan medali emas di SEA Games dan Piala Dunia. Hasil tersebut membuat posisi Eko di klasemen raihan poin kualifikasi di kelas 61 kg Olimpiade 2020 semakin mantap. Kini, dia menduduki peringkat kedua dengan raihan 4,162.7503 poin dan dipastikan lolos untuk berlaga di Olimpiade 2020.

Eko lahir di tanggal 24 Juli 1989 di Kota Metro, Lampung. Saat ini, pria berusia 30 tahun ini merupakan salah satu atlet utama Indonesia dicabang angkat besi. Namanya mulai melambung setelah berhasil lolos ke Olimpiade 2008 yang diselenggarakan di Kota Beijing, Tiongkok. Di event multicabang paling bergengsi di dunia tersebut, Eko Yuli berhasil membuat kejutan dengan berhasil naik ke podium juara.

Saat itu, catatan angkatan Eko Yuli jadi terbaik ketiga dan sukses menggondol medali perunggu. Sebuah hasil yang cukup membanggakan khususnya untuk dunia angkat besi tanah air, mengingat sebelumnya prestasi angkat besi Indonesia sedikit dipandang sebelah mata, kalah dengan cabang populer lain seperti bulutangkis dan sepakbola. Prestasi yang ditorehkan Eko Yuli jadi salah satu pemicu juga bagi lifter-lifter lain untuk berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Berikut ini beberapa prestasi Eko Yuli Irawan di kejuaraan-kejuaraan level internasional:
– Peringkat 8 kejuaraan dunia tahun di Santo Domingo, Republik Dominika (2006).
– Medali perunggu kejuaraan dunia di Chiang Mai, Thailand (2007).
– Medali emas kejuaraan dunia yunior di Praha, Republik Ceko (2007).
– Medali emas Sea Games di Thailand (2007).
– Medali perunggu Olimpiade Beijing (2008).
– Medali perunggu Olimpiade London (2012).
– Medali perak Olimpiade Musim Panas (2016).
– Medali Emas Asian Games (2018).

Baca Juga: 21 Cara Cerdas Menghindari/ Mengatasi Berita Bohong (HOAX)

Prestasi gemilang yang diraih Eko Yuli tidak muncul begitu saja. Sejak masa kecil, Eko Yuli telah melewati pahit getirnya kehidupan. Eko Yuli lahir dari keluarga yang kurang mampu. Bapaknya bernama Saman, yang dulu sehari-hari berptofesi sebagai tukang becak. Sedangkan ibunya, Wastiah, merupakan seorang penjual sayur. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, sepulang sekolah Eko Yuli biasa mengisi waktunya dengan menggembala kambing di lapangan atau sawah. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang biasa anak-anak dan remaja lakukan di pedesaan tempat ia tinggal.

Angkat besi sebenarnya bukanlah olahraga favorit Eko Yuli kecil. Dirinya lebih menyukai sepakbola dan punya cita-cita menjadi pemain sepakbola. Namun keterbatasan biaya membuatnya urung bergabung ke sekolah sepakbola (SSB) dekat tempat tinggalnya. Awal ketertarikan Eko Yuli terhadap olahraga angkat besi dimulai saat dirinya menyaksikan sekelompok orang berlatih angkat besi di sebuah klub di daerahnya. Ketertarikannya membuat Eko Yuli sering berlatih mengangkat barbel di sela-sela aktivitasnya menggembala kambing. Pelatih klub tersebut memperhatikan apa yang dilakukan Eko Yuli, lalu kemudian akhirnya mengajaknya untuk ikut berlatih.

Walau sempat mendapatkan tentangan dari orangtua, namun Eko Yuli terus berlaih dengan keras dan sungguh-sungguh. Dan Perjuangannya tersebut akhirnya tidak sia-sa. Kini Eko Yuli berhasil menjadi salah satu lifter terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

3. Andik Vermansyah – Sepakbola

Nama Andik Vermansyah sepertinya sudah tidak asing di telinga kita, terutama bagi para pecinta sepakbola dalam negeri. Ya, Andik adalah salah satu bintang sepakbola yang dimiliki Indonesia saat ini. Pemain kelahiran Jember, Jawa Timur tanggal 23 November 1991 ini dikenal memiliki kemampuan olah bola di atas rata-rata pemain lain di Indonesia. Meskipun bertubuh mungil, Andik memiliki kecepatan yang luar biasa ketika berlari. Kengototannya dalam bermain juga menjadikannya pemain yang pergerakannya sulit untuk dihentikan lawan.

Andik mengawali karier profesionalnya di sepakbola dengan memperkuat salah satu klub bersejarah di Indonesia, yaitu Persebaya Surabaya. Bermain di posisi sayap, Andik tidak butuh waktu lama untuk menarik perhatian. Kualitasnya yang menonjol membuat namanya sering dielu-elukan suporter. Setelah musim debut yang cukup manis bersama Persebaya, nama Andik Vermansyah semakin dikenal khalayak ramai. Setelah itu, Andik beberapa kali pindah klub, antara lain Selangor FA (Malaysia), Madura United, dan Bhayangkara FC yang kini merupakan klubnya di Liga 1 musim 2020.

Penampilannya yang menawan membuatnya beberapa kali dipanggil masuk Tim Nasional Indonesia. Tercatat Andik Vermansyah telah memperkuat Timnas Indonesia di berbagai kejuaraan, seperti SEA Games, Asian Games, Islamic Solidarity Games, dan AFF Suzuki Cup. Terakhir, Andik juga mendapat panggilan untuk memperkuat Timnas senior Indonesia di ajang Kualifikasi Piala Dunia zona Asia.

Sebagai pemain, Andik cukup berprestasi baik di level klub maupun timnas. Di level klub, Andik sempat mencicipi gelar juara bersama dengan Selangor FA di Malaysia. Sedangkan di timnas, meskipun belum pernah mengantarkan tim Garuda menjadi juara, namun Andik menjadi bagian tim saat Timnas merebut medali perak di SEA Games bersama Timnas U-23 serta runner-up Piala AFF senior. Dengan kualitas dan prestasi yang didapatkannya, tidak heran jika Andik kini menjadi salah satu pemain sepakbola Indonesia yang memiliki banyak penggemar.

Andik memerlukan perjuangan yang tidak mudah untuk sampai ke titik ini. Andik dilahirkan dalam keluarga yang cukup sederhana. Bapaknya bekerja sebagai tukang bangunan, sedangkan ibunya merupakan seorang penjahit pakaian. Secara ekonomi, Andik ciliki hidup dengan kondisi yang cukup pas-pasan. Hal tersebut agak menjadi kendala untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pesepakbola. Andik membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mendaftar ke SSB. Namun, Andik tak patah arang. Untuk dapat masuk SSB, Andik lalu berusaha untuk mencari uang sendiri.

Baca Juga: 9 Pantai Jogja Terbaik untuk Liburan Bersama Keluarga

Andik kecil melakukan beberapa pekerjaan demi meraih uang, misalnya menjadi penjual koran, pengamen, hingga penjual es. Uang hasilnya bekerja tersebut lalu digunakan untuk baya pendaftaran serta untuk membeli sepatu bola. Bakat besar Andik telah terlihat sejak kecil. Permainannya yang gesit cukup membuat para pelatih di SSB terkesan. Bakatnya semakin terendus ketika dirinya berhasil masuk skuad PON Jatim dan mempersembahkan medali emas. Hingga akhirnya kemudian Andik direkrut menjadi pemain profesional oleh Persebaya Surabaya.

Dengan usahanya, kini Andik berhasil mengubah nasib dan menjadi tulang punggung keluarga. Berkat kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Andik berhasil memberangkatkan orang tuanya pergi umrah. Ia selalu ingat bahwa tanpa motivasi dan bantuan orang tua padanya, ia tidak dapat meraih kesuksesan seperti sekarang. Selain terus menjaga kualitasnya sebagai seorang pemain profesional, kehidupan masa kecilnya yang serba susah juga menjadi motivasi bagi Andik untuk mulai memikirkan masa depan.

Kisah hidup dan perjuangan Andik Vermansyah dari kecil hingga sekarang dapat menjadi inspirasi bagi kehidupan, bahwa kekurangan secara ekonomi tidak akan menghalangi impian kita selama mau terus berusaha dan berjuang untuk meraih mimpi tersebut.

4. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Bulutangkis)

Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan merupakan pasangan ganda putera bulutangkis andalan Indonesia. Meskipun kini usia mereka tidak muda lagi, namun mereka tetap mampu menunjukkan prestasi yang membanggakan. Pasangan yang punya nama julukan The Daddies ini tampil gemilang sepanjang tahun 2019 yang lalu. Penampilannya yang konsisten bahkan menempatkannya sebagai pasangan ganda putera ranking dua dunia versi BWF, di bawah rekan senegaranya, Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Markus fernaldi Gideon.

Salah satu prestasi terbaik mereka di tahun 2019 yaitu meraih medali emas Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019 di Basel, Swiss. Gelar juara dunia ini adalah gelar keduanya pada kejuaran bulutangkis paling bergengsi di dunia tersebut. Selain sukses menjadi juara dunia, The Daddies juga sukses merengkuh beberapa gelar prestisus, seperti All England, New Zealand Open, dan BWF World Tour Final Super Series. Selain itu, Hendra Ahsan juga berhasil mencapai babak final di turnamen Indonesia Master, Singapore Open, Indonesia Open, Japan Open, China Open, Denmark Open, dan Hongkong Open.

Sebenarnya prestasi Hendra/Ahsan yang kembali menanjak ini cukup mengejutkan. Hal tersebut karena dalam beberapa tahun terakhir, prestasi keduanya cenderung stagnan. Bahkan bisa dikatakan mengalami penurunan. Usia yang tak lagi muda serta seringnya mengalami cedera disebut-sebut sebagai faktor utama penurunan performa tersebut. Bahkan, karena dianggap telah menurun, pasangan ini sempat dipisah oleh tim pelatih. Namun belakangan kemudian Hendra dan Ahsan dipasangkan kembali.

Hendra dan Ahsan memang bukan pemain bulutangkis sembarangan. Catatan prestasi tidak hanya diraihnya pada tahun 2019 ini saja. Hendra dan Ahsan, baik ketika dipasangkan bersama maupun dipasangkan dengan pemain yang lain, telah mendapatkan banyak gelar juara sepanjang kariernya. Hendra yang sebelumnya dipasangkan dengan Markis Kido adalah duet yang begitu disegani di masanya. Sempat menjadi pasangan ganda putera nomor satu dunia dan meraih berbagai gelar bergengsi, seperti kejuaraan dunia, All England, Indonesia Open, China Open, dan Olimpiade. Prestasi terbaru Hendra dan Ahsan di awal tahun 2020 ini yaitu turut membawa skuad Indonesia meraih emas di Kejuaraan Asia yang digelar di Filipina.

Setelah berpisah dari Markis Kido, Hendra Setiawan yang dijuluki “Dewa Hendra” oleh sebagian fans bulutangkis, kemudian berpasangan dengan Mohamad Ahsan. Pasangan Hendra/Ahsan lalu menjadi andalan baru Indonesia. Hendra/Ahsan berhasil meraih emas kejuaraan dunia pertamanya di tahun 2013. Ketika itu, Hendra/Ahsan berhasil mengalahkan pesaing terberatnya asal Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen. Hal yang kemudian mereka ulangi di tahun 2019. Kali ini mengalahkan pasangan muda asal Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi dengan rubber game 25-23, 9-21, dan 21-15.

Kebangkitan kembali duet Hendra/Ahsan ini patut menjadi contoh, bahwa usia bukanlah halangan untuk terus berprestasi. Hendra yang kini berusia 35 tahun dan Ahsan yang berusia 32 tahun sanggup membuktikan bahwa mereka masih sanggup bersaing di level tertinggi. Usia yang menua memang memberi pengaruh ke ketahanan stamina dan kecepatan pergerakan. Namun hal tersebut dapat Hendra dan Ahsan tutupi dengan efektivitas permainan. berbekal pengalaman bertanding yang mereka miliki, kini Hendra/Ahsan lebih bermain cerdik ketimbang mengandalkan kekuatan fisik. Hal tersebut membuat fisik mereka tidak cepat terkuras di atas lapangan.

Selain itu, peningkatan prestasi keduanya di tahun 2019 juga membuktikan bahwa mereka sanggup keluar dari keterpurukan. Terutama sejak kegagalan di Olimpiade tahun 2016 lalu. Ketika itu Hendra/Ahsan gagal mencapai target meraih emas, dan bahkan secara mengejutkan harus tersingkir di babak penyisihan. Semenjak itu, permainan The Daddies terus menurun hingga kemudian diputuskan untuk berpisah dan keluar dari Pelatnas.
Kebangkitan keduanya menjadi bukti bahwa ketangguhan mental jadi salah satu poin penting untuk meraih keberhasilan. Kini, Hendra dan Ahsan menjadi salah satu andalan Indonesia untuk meraih medali di Olimpiade Tokyo 2020 dan memimpin skuad Indonesia untuk merebut kembali Piala Thomas.

5. Lalu Muhammad Zohri

Lalu Muhammad Zohri adalah sprinter masa depan Indonesia. Di tengah prestasi Indonesia yang agak lesu di cabang atletik, Zohri muncul dan menjadi harapan baru. Kesuksesan Zohri meraih emas di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 menjadikannya perbincangan publik Indonesia.

Pada kejuaraan yang diselenggarakan di Finlandia tersebut, Zohri secara mengejutkan mampu menjadi yang tercepat di nomor lari 100 meter putera. Dia mengalahkan sprinter-sprinter lain yang lebih diunggulkan. Emas yang dipersembahkan Zohri juga merupakan emas pertama sepanjang sejarah yang diperoleh Indonesia di ajang ini. Capaian yang tentu sangat membanggakan, karena Zohri mengalahkan sprinter dari Afrika dan Amerika yang biasanya mendominasi kejuaraan dunia.

Zohri, yang dijuluki bocah ajaib, secara konsisten terus menorehkan prestasi di ajang internasional. Tercatat, Zohri meraih medali emas 1st Malaysia Open Grand Prix, perak Kejuaraan Atletik Asia, dan perunggu di Seiko Golden Grand Prix Osaka.

Sensasi Zohri tidak berhenti di situ saja. Selain sukses meraih medali di beberapa kejuaraan dunia, Zohri juga berhasil memecahkan beberapa rekor di nomor lari 100 meter putra. Misalnya ketika berhasil finish di urutan kedua pada Kejuaraan Ateltik Asia 2019, catatan waktu Zohri sukses melewati rekor nasional yang telah bertahan lebih dari 10 tahun. Pada kejuaraan tersebut, Zohri mencatatkan waktu 10,13 detik. Catatan tersebut lebih cepat 0,04 detik dari rekor seniornya, Suryo Agung Wibowo. Suryo Agug Wibowo mencatatkan waktu 10,17 detik ketika berlaga di SEA Games 2009 yang diselenggarakan di Laos. Catatan waktu yang diraih Zohri ini juga menjadikannya sebagai manusia tercepat di Asia Tenggara.

Zohri terus mempertajam catatan waktunya. Pada kejuaraan Seiko Golden Grand Prix 2019 di Osaka, Zohri kembali membuat rekor dengan catatan 10,03 detik. Atas capaiannya tersebut, Zohri berhak untuk mendapatkan lolos otomatis ke Olimpiade 2020 yang diselenggarakan di Kota Tokyo, Jepang. Hal tersebut bisa dipastikan karena catatan waktu milikinya tersebut telah melewati limit Olimpiade di nomor lari 100 meter putra, yaiti 10,05 detik.

Prestasi yang Zohri dapatkan tersebut adalah buah dari kerja kerasnya selama ini. Zohri sejak kecil hidup dalam keterbatasan. Zohri lahir dan di Dusun Karang Pasor, Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara. Zohri tinggal di rumah yang cukup sederhana. Fadilah, kakak Zohri, rela bekerja keras agar Zohri tidak putus sekolah. Zohri waktu itu agak bermalas-malasan untuk berangkat sekolah. Namun secara sabar, sang kakak terus memotivasi Zohri untuk bersemangat sekolah. Perubahan mulai terjadi pada tahun 2015, yaitu saat Ibunda Zohri meninggal dunia akibat sakit tifus. Anak bungsu dari empat bersaudara tersebut merasa sangat sedih.

Persitiwa tersebut cukup mengubah Zohri dan membuat motivasinya untuk sekolah jadi lebih kuat. Hingga pada usatu ketika guru olahraga Zohri datang ke rumahnya. Maksud kedatangan sang guru yaitu untuk meminta izin pada ayah Zohri untuk mendorong Zohri mengikuti olahraga atletik. Semenjak itu, Zohri giat berlatih dan semakin serius menekuni atletik. Hampir setiap hari, sebelum dan sepulangnya dari sekolah, Zohri berlatih lari secara mandiri. Zohri bahkan berlari tanpa menggunakan sepatu.

Bakat besar Zohri semakin terasah setelah masuk ke PPLP NTB. Sempat mendapat penolakan dari sang ayah, namun Zohri akhirnya membuat bangga ayah dan keluarganya karena berhasil meraih medali di kejuaraan nasional atletik antar PPLP. Meninggalnya sang ayah pada tahun 2016 sempat membuat Zohri terpukul. Namun, hal tersebut tidak lantas mengendurkan semangatnya untuk menekuni bidang atletik. Justru motivasi Zohri semakin kuat lagi.

Semenjak momen menyedihkan tersebut, kemampuan Zohri berkembang dengan pesat. Prestasi tak henti-hentinya diraih. Sebagai perwakilan dari NTB, Zohri makin sering meraih medali emas di tiap kejuaraan nasional (kejurnas) yang ia ikutinya. Zohri kemudian juga sukses menyumbangkan emas di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2017 yang diselenggarakan di Jawa tengah. . Di popnas, Zohri mencatatkan waktu 10,29 detik. Dia mengalahkan pesaing terberatnya di nomor lari 100 meter Izrak asal Gorontalo Izrak Hajulu yang mencatatkan waktu 10,32 detik. Kemenangan inilah yang kemudian membawanya ke Pemusatan Latihan Nasional Persatuan Ateltik Seluruh Indonesia (PB PASI).

Kini Zohri menjadi harapan besar untuk dunia atletik Indonesia. Perjuangan beratnya dari nol hingga sekarang tentunya bisa menjadi teladan bagi para atlet baik di cabang atletik maupun cabang-cabang yang lain. Terbaru, Zohri tengah dipersiapkan untuk berlaga di Olimpiade Tokyo yang akan diselenggarakan tahun ini. Semoga berhasil, Zohri!

Oleh: Riyyan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*