7 Anak Muda Indonesia yang Berprestasi dan Menginspirasi

Prestasi tidak mengenal usia. Ya, setiap orang pasti memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda-beda. Beberapa orang bahkan telah nampak bakat yang dimilikinya sejak usia yang masih sangat muda.

Anak-anak muda ini bahkan sanggup berprestasi atau menghasilkan suatu karya yang luar biasa di bidangnya. Hal tersebut juga dapat kita temukan di Indonesia.

Terdapat beberapa anak muda asli Indonesia yang telah menunjukkan prestasi gemilang di tingkat dunia dan menginspirasi. Lalu siapa saja mereka?

Baca Juga: 9 Seniman Indonesia yang Karyanya Mendunia

1. Yuma Soerianto – Programmer

Kita mulai daftar anak muda berbakat dari Indonesia dengan nama Yuma Soerianto. Yuma adalah anak muda yang memiliki bakat besar di bidang teknologi. Walaupun usianya yang masih sangat belia, tapi ketertarikannya pada dunia teknologi membuatnya menjadi seorang programmer muda. Tidak main-main, kemampuannya sebagai programmer pun telah diakui dunia.

Pada tahun 2017 lalu, saat usianya baru menginjak 10 tahun, Yuma berhasil membanggakan Indonesia dengan menjadi pemenang beasiswa Apple Worldwide Developer Conference (WWDC). Hal yang lebih spesial lagi yaitu saat itu Yuma merupakan peraih beasiswa termuda dibandingkan dengan pemenang-pemenang yang lain.

Pada ajang yang cukup bergengsi tersebut, Yuma mampu menarik perhatian CEO Apple, Tim Cook dengan aplikasi buatannya bernama “tip calculator”. Salah satu alasan mengapa Tim Cook begitu terkesan dengan Yuma karena aplikasi tersebut mampu Yuma buat hanya dalam sekali penerbangan dari Melbourne menuju acara WWDC di Amerika Serikat. Aplikasi tip calculator ini bermanfaat untuk digunakan para turis untuk berbelanja di negara lain. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur konversi mata uang lengkap dengan besar pajak yang perlu dibayarkan.

Prestasi Yuma tidak hanya berhenti di situ saja. Yuma secara kontinyu terus mengembangkan berbagai macam aplikasi. Yuma juga lagi-lagi berhasil menjadi peraih beasiswa Apple Worldwide Developer Conference pada tahun 2018 dan 2019. Kondisi tersebut semakin memicu Yuma untuk mengembangkan bakatnya sebagai programmer.

Baca Juga: 7 Atlet Inspiratif yang Mengharumkan Nama Indonesia

Alasan lain yang turut memotivasi Yuma yaitu keinginan besarnya untuk banyak membantu kehidupan orang-orang disekitarnya lewat aplikasi yang ia ciptakan. Dapat dibilang saat ini Yuma merupakan salah satu ikon untuk anak-anak Indonesia dalam memanfaatkan teknologi. Tidak hanya menginspirasi orang-orang di Indonesia, Yuma juga berbagi motivasi ke negara-negara lain.

Yuma beberapa kali diundang untuk menjadi pembicara di konferensi internasional di Singapura, Australia, Mesir, hingga China. Salah satu momen istimewa didapat Yuma di Mesir, yaitu ketika dirinya dianugerahi piala oleh Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi di event World Youth Forum.

Kemampuan istimewa Yuma tidak muncul begitu saja. Yuma sudah mulai belajar coding sejak umurnya baru enam tahun. Di usia yang sangat belia tersebut, Yuma mulai belajar cara untuk membuat website. Yuma belajar coding secara mandiri lewat kursus online yang diselenggarakan oleh Stanford University. Hal tersebut harus ia lakukan karena saat itu belum ada sekolah khusus coding.

Menginjak usia sembilan tahun, Yuma sukses membuat aplikasi pertamanya yang ia beri nama “Kid Calculator”. Setelah itu, aplikasi-aplikasi berikutnya terus Yuma ciptakan. Hal tersebut tentunya berkat dari kedua orang tuanya yang sangat mendukung Yuma untuk mengembangkan bakat yang ia miliki.

Hingga saat ini, anak kelahiran Singapura ini telah menelurkan sembilan aplikasi, yaitu Kid Calculator, Fireworks Builder AR, Weather Duck,Weather Duck for Apple Watch, Pocket Pokè for Pokèmon, Hunger Button, Let’s Stack, Let’s Stack AR (Augmented Reality), dan Swipy Trash.

Yuma yang saat ini tinggal di Australia ini terus belajar dan belajar untuk mengembangkan bakatnya. Menurutnya, saat ini banyak cara yang dapat ia dan anak-anak lain lakukan untuk belajar coding. Yuma belajar dengan cukup detail.

Semua coding hingga desain sketsa dari aplikasi-aplikasi ia buat sendiri. Sedangkan untuk pembuatan user interface dan grafus, Yuma dibantu oleh bapaknya yang merupakan seorang desainer grafis.

Yuma juga secara khusus membuat sebuah channel youtube yang ia buat untuk membantu orang lain yang ingin mulai belajar coding. Pada youtube yang ia namai “Anyone can Code” tersebut, Yuma memberikan berbagai tutorial seputar pembuatan aplikasi mobile. Saat ini channel buatannya tersebut telah disubscribe oleh sekitar sepulu ribu orang.

Yuma percaya bahwa teknologi dapat memberikan manfaat yang banyak untuk kehidupan manusia. Oleh karena itu, Yuma tidak segan berbagi ilmu kepada orang lain seputar dunia programmer yang kini ia tekuni. Ia percaya bahwa siapapun bisa belajar dan menguasai coding. Yuma memiliki niat yang mulia, yaitu menjadikan dunia jadi lebih baik dengan teknologi.

2. Salman Trisnadi – Juara Robotic

Satu lagi anak berbakat asal Indonesia di bidang teknologi adalah Salman Trisnadi. Salman merupakan siswa sekolah dasar di SD Prestasi Global. Salman mulai meraih prestasi sejak di Taman Kanak-Kanak dengan meraih penghargaan kategori Creative Design.

Salman ketika itu mewakili TK Prestasi Global sukses meraih prestasi tingkat dunia dengan menjadi peringkat pertama kejuaraan robotik internasional tersebut. Tentu ini menjadi prestasi yang membanggakan bagi Indonesia. Salman mengalahkan peserta-peserta lain yangberasal dari berbagai negara.

Kemampuan Salman di bidang robotik terasah berkat kegiatan ekstrakurikuler yang ia ikuti di sekolah. Setelah menjuarai kejuaraan tersebut, Salman mulai rutin mengikuti kejuaraan-kejuaraan serupa, seperti kejuaraan robotik di Malaysia, Korea Selatan, dan sebagainya. Salman juga sering mengikuti perlombaan-perlombaan dalam negeri, baik yang berhubungan dengan robotik maupun bidang kreatif lainnya. Pihak keluarga dan sekolah sangat mendukung Salman.

Baca Juga: Penyebab Kenakalan Remaja, Contoh, Dampak dan Solusinya

Minat Salman terhadap robotik antara lain muncul karena pengaruh dari lingkungan, khususnya keluarga. Bapak dari Salman merupakan pelatih atau trainer dalam pelatihan-pelatihan robotik di sekolah. Maka tidak heran jika kemudian sang bapak juga menularkan ilmu robotiknya pada Salman.

Begitu juga di sekolahnya, di SD Prestasi Global. Sekolah tersebut memang cukup aktif mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi, sehingga para siswanya cukup terbiasa dengan penggunaan teknologi dalam setiap kegiatannya di sekolah. Lingkungan keluarga dan sekolah yang seperti itu berperan besar dalam membantu perkembangan Salman khususnya di bidang robotik.

Menginjak usia sekolah dasar, Salman terus menunjukkan prestasinya dengan menjuarai berbagai macam lomba. Pada lomba bertema “Kreatif bersama Susu Zee” misalnya, Salman berhasil menjadi juara pada lomba kreativitas dalam memanfaatkan barang bekas.

Salman yang merupakan perwakilan dari SD Prestasi Global berhasil keluar sebagai juara pertama pada kategori lomba kreativitas barang bekas. Salman menjadi juara setelah mengalahkan peserta lain dari sekolah-sekolah lain di Jawa Barat.

Setelah mengikuti lomba ini, Salman kemudian diberangkatkan oleh pihak sekolah untuk mengikuti kejuaraan dunia robotik yang diadakan di Korea Selatan. Semoga dengan dukungan penuh dari keluarga dan juga pihak sekolah membuat potensi yang dimiliki Salman dapat terus diasah.

3. Joey Alexander – Musisi

Josiah Alexander Sila atau biasa dikenal dengan Joey Alexander merupakan musisi muda berbakat yang dimiliki oleh Indonesia. Joey merupakan pianis muda yang telah mencatatkan segudang prestasi. Joey yang lahir pada tanggal 25 Juni 2003 ini menekuni musik aliran jazz semenjak usia tujuh tahun. Di usia yang sangat belia tersebut, Joey telah mampu menguasai beragam teknik dan improvisasi dalam memainkan piano.

Pada tahun 2015 lalu, pemuda kelahiran Denpasar ini telah mengeluarkan album pertamanya yang berjudul “My Favorite Things”. Album tersebut diproduksi di Amerika Serikat (New York) di bawah Motema Record.

Album ini terbilang sukses dan berhasil mempopulerkan Joey sebagai seorang musisi jazz berbakat. Album ini cukup diakui dunia, dengan masuk ke beberapa kategori penghargaan musik. Termasuk Grammy Award, yang merupakan salah satu ajang musik paling bergengsi di dunia. Pada Grammy edisi 2016, album milik Joey tersebut berhasil masuk ke dua kategori nominasi pemenang, yaitu Best Instrumental Jazz Album (“My Favorite Things”) dan Best Jazz Solo Improvisation (Giant Steps dari album tersebut).

Di ajang tersebut pula Joey mendapat kesempatan tampil sepanggung dengan musisi-musisi kelas atas dunia. Penampilannya saat itu juga mendapat apresiasi yang meriah dan mendapat standing applause dari beberapa penonton yang hadir. Yang makin membuat Indonesia bangga adalah Joey mencatatkan sejarah sebagai musisi asal Asia Tenggara pertama yang mendapat kesempatan tampil di Grammy Award. Joey juga jadi musisi pertama asal Indonesia yang albumnya masuk nominasi penghargaan pada ajang prestisius tersebut.

Putera dari pasangan Denny Sila dan Farah Leonora Urbach ini belajar memainkan alat musik secara otodidak. Joey sejak kecil sering mendengarkan musik klasik yang diputar ayahnya. Joey mulai belajar setelah ayahnya membelikannya sebuah keyboard. Setelah itu, minatnya yang besar dan ketekunannya dalam berlatih perlahan membuahkan hasil.

Baca Juga: 7 Tips Sederhana Menghadapi Pengidap Gangguan Kesehatan Mental

Joey merasa belajar alat musik terasa alamiah untuk dirinya, sehingga dirinya tidak menemukan kesulitan berarti pada saat proses pembelajaran. Kemampuannya makin terasah setelah mulai bermain jam session bersama dengan para musisi berpengalaman di Jakarta dan Bali. Para musisi senior tersebut banyak yang terkejut dan mengakui bakat besar yang dimiliki Joey.

Kemampuannya dalam memainkan piano bahkan mengalahkan para pianis lain yang usianya lebih senior darinya. Joey mulai rajin mengikuti festival-festival musik, seperti Master-Jam Fest 2013, Montreal International Jazz Festival, dan Newport Jazz Festival 2015. Joey juga menjadi salah satu musisi yang tampil di opening ceremony Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Indonesia.

4. La Ode Musa – Hafidz Quran

Musa adalah seorang hafizh (penghapal Al-Quran) cilik dari Indonesia. Bocah kelairan Bangka ini memiliki kemampuan daya ingat di atas rata-rata. Selain menghapal Al-Quran, Musa juga banyak mengapal berbagai matan hadist seperti Arbain Nawawi. Nama Salman sendiri mulai muncul ke permukaan dan dikenal banyak orang setelah mengikuti sebuah ajang Hafizh Quran yang diselenggarakan sebuah televisi swatsa.

Pada ajang tersebut, Musa meraih juara pertama. Selain populer di Indonesia, Salman juga cukup populer di Malaysia dan Singapura. Kemampuan yang membuat banyak orang berdecak kagum yaitu bagaimana dirinya mampu untuk menghapal sebanyak 29 juz Al-Quran. Padahal ketika itu dirinya belum genap berusia enam tahun.

Kemampuannya yang istimewa ini membuatnya dikirim untuk mewakili Indonesia di ajang kompetisi hapalan Al-Quran tingkat internasional yang diadakan di Jeddah Arab Saudi. Pada ajang tersebut, Musa menjadi peserta palin muda. Pada akhir lomba, Musa berhasil masuk urutan ke-12 dari 25 peserta yang ikut. Hasil tersebut cukup membanggakan mengingat Musa berkompetisi dengan peserta lain yang memiliki usia lebih tua darinya.

Pada waktu itu Musa bahkan sebenarnya hanya kurang menghapal dua surat saja untuk menggenapi hapalannya menjadi sempurna 30 juz. Namun setelah perlombaan tersebut, Musa kemudian berhasil menuntaskan hapalannya menjadi lengkap 30 juz.

Di bulan Agustus 2014, Musa mendapatkan piagam penghargaan tingkat nasional dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Hafizh Al-Quran 30 Juz termuda di Indonesia. Lalu pada bulan April 2016, Musa juga terpilih untuk dikirim mengikuti perlombaan hapalan Al-Quran tingkat Internasional di Sharm El-Sheikh, Mesir.

Ajang tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai negara, seperti Mesir, ada Sudan, Arab Saudi, Kuwait, Maroko, Chad, Aljazair, Mauritania, Yaman, Bahrain, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, Ukraina, dan negara-negara lainnya. Musa lagi-lagi menjadi peserta termuda pada lomba tersebut dan menempati peringkat ketiga dari 80 peserta yang berkompetisi.

Selain sukses menjadi juara ketiga di ajang internasional tersebut, Musa kemudian juga mendapat undangan kehormatan dari pemerintah Mesir pada peringatan Malam Lailatul Qadar. Hal yang makin membuat istimewa adalah karena penghargaan tersebut secara langsung diberikan oleh Presiden Mesir kepada Musa.

Pemerintah Mesir juga menanggung biaya tiket dan akomodasi selama Musa berada di Mesir. Pemerintah Mesir sangat mengapresiasi Musa yang berusia sangat muda dan belum fasih berbahasa Arab, tapi mampu menghapal Al-Qur’an dengan sempurna.

Musa, yang memiliki nama lengkap La Ode Musa adala anak dari pasangan La Ode Hanifa dan Yulianti. Sang ibu, Yulianti merasa gembira sekaligus terharu dengan prestasi yang dicapai anaknya tersebut. Musa merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Seperti anak kecil pada umumnya, awalnya Musa mengalami kesulitan dalam menghapal Al-Quran. Namun berkat ketekunan Musa dan juga kesabaran orang tuanya dalam mendidiknya, Musa saat ini mampu menjadi penghapal Al-Quran.

Keseimbangan antara belajar dan bermain juga diperhatikan, mengingat usia Musa yang masih kecil. Dalam seminggu, setidaknya ada waktu sehari bag Musa untuk bermain.

Walaupun sudah menghasilkan prestasi yang membanggakan dan juga mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional, orang tuanya berharap Musa dapat terus belajar, baik ilmu Al-Quran maupun ilmu-ilmu umum yang lain. Ya semoga prestasi dan kedisiplinan Musa dalam belajar ini bisa memberi inspirasi untuk anak-anak yang lain.

5. Perdana Putra Minang – Pebalap Gokart

Perdana Putra Minang merupakan pebalab gokart berbakat asal Indonesia. Perdana lahir di Jakarta, tanggal 23 Maret 2001. Perdana Putra Minang adalah anak dari Bonny Z. Minang dan Wiwik B. Minang. Ayahnya merupakan seorang pengusaha dan penggiat otomotif di Indonesia. Kini usinya menginjak umur 18 tahun.

Perdana merupakan salah satu atlet balap gokart Indonesia yang mulai bersinar saat ini. Kecintaannya pada dunia gokart mulai muncul pada saat usinya delapan tahun. Ketika itu, sang ayah mengajaknya untuk menonton balapan. Semenjak saat itu, Perdana mulai berlatih dan mengikuti berbagai kejuaraan gokart di Indonesia.

Ternyata, Perdana meraih hasil cukup bagus. Beberapa kali dirinya sukses naik podium, baik menjadi juara pertama, kedua, ataupun ketiga. Perdana cukup banyak meraih prestasi yang membanggakan di umurnya yang masih tergolong muda. Maka tidak heran jika dirinya lalu disebut-sebut sebagai salah satu pebalap muda Indonesia paling potensial.

Dimulai sejak tahun 2009, lelaki berdarah Minang ini memulai kariernya di arena balap gokart, baik di kancah regional maupun kancah internasional. beberapa kejuaraan yang pernah diikutinya antara lain kejuaraan di Tiongkok, Malaysia, Thailand, dan negara besar di dunia balap, talia.

Hingga tahun 2012, Perdana berhasil meraih prestasi gemilang dengan menyabet juara kedua pada kejuaraan Copa Trofeo Griffone di Sarno International Karting Circuit, yang diadakan di Kota Napoli, Italia. Kejuaraan yang cukup bergengsi tersebut diikuti oleh pebalap-pebalap muda dari berbagai negara, khususnya dari Benua Eropa dan Amerika yang memiliki sejarah balap yang cukup kuat.

Pada tanggal 18 Maret 2013, Perdana Putera Minang kembali sukses naik podium juara sebagai sebagai peringkat kedua di kejuaraan Rotax Max Challenge Japan Mizunami yang berlangsung di Jepang. Hal yang cukup menarik pada kejuaraan ini yaitu pada sesi kualifikasi, Perdana mampu menjadi yang tercepat dan merebut posisi pertama (pole position). Tetapi sayangnya, Perdana terkena penalti selama 5 detik dan harus menerima start dari urutan paling buncit karena dianggap melakukan pelanggaran dalam kualifikasi.

Selain itu, Perdana juga sukses naik podium dengan menempati posisi pertama pada kelas junior di ajang Asia Max Challenge (AMC) 2014 putaran pertama yang bertempat di Sirkuit Sepang, Malaysia, pada tahun 2014. Kejuaraan tersebut diikuti oleh sekitar 35 pembalap muda yang berasal dari berbagai negara di Asia.

Dengan usianya yang masih muda, bukan tidak mungkin catatan prestasi pebalap yang mengidolai Kimi Raikonen dan Sebastian Vettel ini akan masih terus bertambah. Perdana sendiri memiliki cita-cita atau target yang tinggi. Perdana ingin suatu saat nanti dapat menjadi seorang pebalap profesional dan berkompetisi di ajang balap mobil paling bergensi di dunia, yaitu Formula 1 (F1). Tentu Indonesia akan sangat bangga jika cita-citanya tersebut dapat benar-benar terwujud.

6. Cendikiawan Suryaatmadja – Mahasiswa Termuda

Kemampuan akademis anak-anak Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan anak-anak di negara lain. Mau bukti? Cendikiawan Suryaatmadja adalah salah satunya. Cendikiawan memiliki potensi yang besar di bidang akademik. Mungkin tidak banyak orang yang mengenalnya. Tapi siapa yang menyangka, anak yang biasa dipanggil Diki ini telah duduk di bangku kuliah di usia 14 tahun.

Diki mendapatkan beasiswa secara penuh dari University of Waterloo di Ontario, Kanada. Diki mendapatkan beasiswa di jurusan Fisika. Pencapaian yang dapat dikatakan luar biasa untuk anak seusianya. Keistimewaan Diki terdeteksi sejak tes kecerdasan IQ yang dia ikuti ketika berumur sepuluh tahun. Waktu itu, Diki diketahui memiliki IQ yang sangat tinggi, yaitu mencapai nilai 189. Nilai tersebut bahkan lebih tinggi dari Einstein (160) yang merupakan ahli fisika terkemuka. Semenjak itu, berbagai media baik media lokal dan media nasional mengangkat cerita tentang perjalanan prestasi Diki.

Memiliki potensi kecerdasan yang begitu tinggi, Diki kemudian diarahkan untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan tingkat intelejensia yang dia miliki. SUN Education, sebuah konsultan pendidikan, lalu membantu Diki untuk mengurus studi ke University of Waterloo.

Si anak jenius yang menyukai makanan sushi dan serial televisi Breaking Bad ini cukup fasih berbicara dalam bahasa Inggris. Diki juga tertarik untuk mempelajari Ekonomi dan mengisi waktu luangnya dengan menambar. Sebenarnya kecerdasan Diki telah nampak sejak dia bayi. Hal tersebut misalnya saat dirinya baru berusia empat hari, ketika dijemur pagi, Diki dapat memutar posisi badannya sendiri.

Diki memiliki tokoh idola atau panutan dalam hidupnya. Selain sang Ibu yang merupakan sosok paling dia hormati dan paling memberi aspirasi untuknya, Ia mengaku banyak belajar dari para tokoh atau ilmuwan terkemuka. Elon Musk, Tesla, perusahaan otomotif ternama. Menurut Diki, selain telah menemukan dan mempatenkan banyak hal, Musk adalah sosok yang humble terhadap para pekerjanya dan dapat membangun sebuah perusahaan yang membawa banyak keuntungan. Selain Musk, Diki juga suka menonton film. Salah satu bintang idolanya adalah Jackie Chan. Jackie Chan adalah sosok yang Diki sukai karena kelucuannya dalam beraksi.

Walaupun dia tinggal di rumah keluarga seorang warga negara Kanada, Mr. Weilian Zhang (menurut peraturan dari Imigrasi Kanada, pelajar internasional berusia di bawah 18 tahun dianggap sebagai minor dan harus memiliki seorang penanggung jawab), Diki telah mempelajari skill memasak dan bersepeda guna memudahkan hidupnya di sana.

Sebagai pelajar yang berdedikasi, Diki juga telah mempersiapkan dirinya dengan belajar dengan rajin, bahkan hingga satu pekan sebelum keberangkatannya. Diki berharap keberangkatannya ke Kanada dapat mempertemukannya dengan teman-teman baru dan sistem pendidikan yang lebih baik untuknya.

7. Egy Maulana Vikri – Atlet

Sudah bukan rahasia lagi jika sepakbola adalah jenis olahraga yang paling digemari di Indonesia. Maka tidak heran jika Indonesia punya banyak talenta hebat pesepakbola. Salah satunya adalah Egy Maulana Vikri. Egy merupakan pemain yang dapat bermain di posisi striker ataupun pemain sayap. Egy memiliki kelebihan dalam hal kecepatan dan kelincahan ketika membawa bola.

Dengan potensi yang ia miliki, Egy masuk sebagai pemain tim nasional Indonesia mulai dari kelompok umur U15, U16, U18, U19, U23, hingga timnas senior. Secara individu, Egy menorehkan prestasi di level internasional dengan menjadi pencetak gol terbanyak di Danone Nations Cup dan Piala AFF U18. EKini Egy mencoba peruntungannya dengan berkarier di Eropa bersama klub Polandia, Lechia Gdansk.

Egy mengalami perkembangan yang cukup signifikan di klubnya tersebut. Egy menjadi salah satu pemain yang diharapkan menjadi tumpuan Indonesia di masa yang akan datang. Terlebih dengan keringnya prestasi timnas saat ini, terutama di level senior.

Oleh: Riyyan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*