14 Alat Musik Tradisional Asli Papua

Papua Aadalah salah satu wilayah terbesar di Indonesia Timur. Papua menyimpan beragam keindahan alam, termasuk flora dan fauna yang tinggal di dalamnya.

Keindahan dan kekayaan alam Papua ini cukup mempengaruhi budaya dan tradisi masyarakat di wilayah tersebut. Termasuk mempengaruhi perkembangan seni di Papua.

Papua ditinggali sekitar 3,3 juta penduduk. Dengan luas wilayah mencapai 316 ribu km2, kepadatan penduduk di Provinsi Papua hanya sekitar 10 jiwa/km2 saja.

Masyarakat Papua memiliki peninggalam budaya dan seni yang tinggi. Potensi alamnya yang besar serta banyaknya suku yang mendiami pulau ini menjadikan masyarakat Papua memiliki kekhasannya sendiri.

Baca Juga: 9 Seniman Indonesia yang Karyanya Mendunia

Masyarakat papua sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan dan kesenian yang ada di daerahnya. Kesadaran masyarakat Papua untuk melestarikan tradisi nenek moyang bisa dibilang masih cukup tinggi.

Khusus dibidang seni, Papua memiliki ragam seni yang unik dan menarik. Terutama jika membahas seni musik.  Masyarakat Papua tergolong ekspresif dalam menunjukkan jiwa seninya. Masyarakat Papua memiliki banyak jenis alat musik yang mereka ciptakan untuk menghasilkan suara dan nada-nada tertentu. Baik berupa alat musik tiup, pukul, petik, dan sebagainya.

Alat-alat  musik tersebut dibuat dengan memanfaatkan  bahan alam yang tersedia di wilayah mereka. Kekayaan alam yang dimiliki Papua membuat masyarakat banyak pilihan untuk memnfaatkannya.

Walau demikian, macam-macam alat musik khas Papua ini tidak banyak terekspose, sehingga banyak orang di luar Papua yang kurang mengenali kekayaan seni masyarakat Papua tersebut. Kondisi ini tentu cukup disayangkan.

Bagaimanapun juga alat musik khas Papua juga termasuk kekayaan seni yang Indonesia miliki dan patut untuk terus dilestarikan keberadaannya. Lalu apa saja alat musik khas yang berasal dari Papua? Berikut “Alat Musik Tradisional Asli Papua“:

Tifa

Alat Musik Tradisional Asli Papua yang pertama adalah tifa, Tifa mungkin alat musik tradisional khas Papua yang paling populer. Cara memainkan tifa adalah dipukul, sekilas cara memainkan tifa ini tidak jauh berbeda dengan cara memainkan alat musik gendang. Walau demikian, tifa memiliki suara yang lebih halus atau ringan jika dibandingkan dengan gendang.

Tifa sering dimainkan masyarakat Papua ketika ada perayaan atau kegiatan-kegiatan suku, upacara adat. Tifa dimainkan sebagai pengiring tari-tarian. Tifa juga dimainkan untuk penyemangat di situasi perang. Melodi tifa memiliki kesakralan tersendiri  untuk suku-suku di Papua.

Alat musik tifa berbentuk tabung yang terbuat dari bahan dasar kayu. Di bagian luarnya, terdapat hiasan ukir-ukiran khas Papua yang membuat tifa  nampak indah dan berseni tinggi. Tifa sendiri memiliki beberapa jenis, antara lain tifa jekir, tifa dasar, tifa potong, tifa jekir potong, dan  tifa bas.

Alat musik ini sangat identik dengan masyarakat Papua, terutama Suku Asmat. Tifa seakan-akan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas masyarakat Papua. Tifa juga dikenal dengan beberapa nama lain di luar Suku Asmat, misalnya kandara (daerah Malim), sirep (Biak), wachu (Sentani), serta eme.

Cara pembuatan tifa bisa dibilang cukup sederhana. Bahan dasar pembuatan alat musik tifa yaitu  kayu lenggua dan kulit hewan. Tambahan ukiran-ukiran khas menambah  tinggi nilai seni dari alat musik kebanggaan Papua ini.

Pikon

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya adalah Pikon. Pikon adalah salah satu alat musik yang berasal dari tanah papua. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup. Pikon terbuat dari tanaman bambu. Istilah pikon sendiri berasal dari bahasa baliem, yaitu “pikonane”, yang bermakna alat musik bunyi.

Di beberapa daerah lain, alat musik ini juga dikenal dengan nama karinding. Pikon dimainkan dengan cara yang cukup sederhana. Pikon ditiup sambil ditarik tali yang ada di ujungnya. Cara tersebut dapat membuat pikon mengeluarkan nada-nada dasar.  Alat musik ini biasanya dimainkan oleh pria, khususnya di daerah pedalaman Suku Dani.

Pikon sering dimainkan untuk mengisi waktu luang. Kemudahannya untuk dimainkan menjadikannya alternatif sebagai sarana hiburan.  Pikon umumnya dimainkan oleh para pria sepulang dari aktivitas bekerja atau berburu.

Baca Juga: Motif Batik Indonesia Beserta Daerah Asalnya, Lengkap!

Pria-pria ini biasanya berkumpul di rumah honai lalu memainkan secara bersama-sama pikon yang mereka bawa untuk menghilangkan kepenatan mereka. Aktivitas tersebut mereka lalkukan hingga menjelang sore sebelum kembali pulang ke rumah masing-masing.

Momen lain di mana pikon sering dimainkan yaitu ketika dilangsungkan pesta. Pikon menjadi salah satu alat musik yang digunakan untuk memeriahkan suasana. Pikon terbuat dari bambu berukuran kecil.

Di tengah-tengah bambu tersebut diberi lubang, kemudian diselipkan lidi dan diikat dengan tali atau benang. Ketika ditiup, tali atau benang tersebut bermanfaat untuk menggerakkan lidi. Gerakan lidi tersebutlah yang kemudian akan menghasilkan bunyi-bunyian.

Trompet Papua

Alat Musik Tradisional Asli Papua yang ketiga adalah terompet. Trompet adalah salah satu alat musik tiup khas dari Papua. Trompet ini berbeda dengan terompet yang umumnya kita jumpai di acara-acara pesta ataupun perayaan tahun baru.

Trompet Papua terbuat dari bahan dasar kerang. Tidak seperti terompet modern yang biasanya terbuat dari bahan kertas, plastik, ataupun logam. Kerang yang dipakai biasanya adalah kerang yang memiliki ukuran yang cukup besar. hal tersebut terutama agar nantinya suara yang dihasilkan juga besar.

Trompet ini khususnya berasal dari Biak, yang merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah Papua. Tapi alat musik ini juga telah dikenal di daerah-daerah sekitarnya, karena memang tergolong sebagai alat yang sederhana dan mudah dijumpai.

Pada awalnya, trompet Papua hampir sama fungsinya seperti triton. Trompet berfungsi utama sebagai alat bantu komunikasi. Bunyi tiupan  trompet memang cukup besar dan dapat didengar hingga jarak yang jauh.

Bunyi yang dihasilkan tersebut dimanfaatkan untuk memanggil atau memberi pertanda pada masyarakat tentang suatu hal atau kejadian. Seiring makin canggihnya teknologi komunikasi, maka penggunaan trompet untuk alat pemanggil semakin berkurang.

Kini trompet lebih difungsikan sebagai alat musik. Trompet dimainkan di berbagai macam acara, misalnya acara kebudayaan, pesta-pesta adat, perayaan, dan sebagainya. Alat musik yang satu ini dapat dimainkan bersamaan dengan alat musik lain.

Triton

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya masih kategori musik tiup. Papua memiliki banyak alat musik tiup. Salah satunya adalah triton. Triton merupakan alat musik yang terbuat dari kulit kerang. Mudahnya mendapatkan kerang di wilayah pesisir Papua dimanfaatkan masyarakat di sana salah satunya sebagai bahan untuk membuat alat musik triton ini.

Papua memang terkenal dengan keragaman ekosistem pantainya, yang didalamnya banyak flora dan fauna yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Triton sendiri cukup populer di daerah-daerah peisisr pantai, seperti di kepulauan Raja Ampat, Nabire, Wondama, Waripen, Yapen, dan Biak. Sebenarnya, triton awal mulanya dibuat bukan untuk dijadikan sebagai alat musik.

Triron pada awalnya dipakai untuk alat bantu untuk memanggil atau memberi tanda akan terjadinya sesuatu. Namun seiring waktu berjalan, fungsi triton ini sedikit bergeser dari yang awalnya sebagai alat komunikasi menjadi alat musik.

Baca Juga: Macam-macam Bahasa Daerah di Indonesia (10 Suku)

Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah semakin berkembangnya teknologi komunikasi jaman sekarang, sehingga penggunaan triton untuk hal tersebut menjadi semakin jarang ditemukan.

Walaupun sama-sama alat musik tiup, triton memiliki beberapa perbedaan dengan pikon. Suara yang dihasilkan triton berbeda dengan pikon. Triton mampu menghasilkan suara dengan volume yang lebih besar ketimbang pikon.

Hal tersebut juga jadi salah satu alasan mengapa triton dulunya digunakan sebagai alat komunikasi, yaitu karena suara yang dihasilkan besar dan dapat terdengar dari jarak yang cukup jauh.

Guoto

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya adalah alat musik dawai. Selain memiliki banyak jenis alat musik tiup, Papua juga memiliki alat musik dawai. Nama alat musik tersebut yaitu Guoto. Guoto adalah alat musik yang dapat ditemukan di provinsi Papua Barat.  Guoto dimainkan dengan cara dipetik. Guoto memiliki senar yang dapat menghasilkan suara ketika dipetik. Petikan guoto dapat menghasilkan beberapa nada dasar.

Alat musik ini terbuat dari kayu serta kulit lembu. Guoto berbentuk lonjong dengan beberapa senar terpasang di bagian tengahnya. Sepintas alat musik ini terlihat sederhana, karena tidak banyak gambar atau ornamen yang terukir di bagian luarnya.

Alat musik guoto biasa dipakai pada acara-acara adat serta bermanfaat sebagai penghibur. Guoto juga sering dimainkan di pentas-pentas seni dan budaya, terutama seni dan budaya Papua.

Krombi

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya adalah krombi. DI beberapa daerah, krombi juga dikenal dengan nama kerombi. Krombi adalah alat musik tradisional dari Suku Tehit yang berada di Kabupaten Sorong Selatan.

Bahkan alat musik ini juga tersebar hingga ke Papua Nugini. Krombi hingga sekarang masih dapat ditemukan, khususnya di daerah Kampung Seremuk yang berada di wilayah Sorong Selatan.

Krombi dimainkan dengan cara diketuk. Untuk menghasilkan bunyi, bagian tengah krombi diketuk menggunakan kayu berukuran kecil. Ketukan-ketukan tersebut akan menghasilkan suara yang khas. Semakin keras dan cepat ketukan dilakukan, maka akan menghasilkan bunyi yang keras dan bersemangat.

Bahan utama krombi adalah sebatang bambu. Bambu yang digunakan tidak terlalu panjang, sehingga mudah untuk dibawa. Sedangkan sebagai alat untuk mengetuk atau memukul, digunakan alat berbahan kayu.

Kayu pengetuk tersebut berukuran lebih kecil dibandingkan bambu, namun memiliki struktur yang kuat, sehingga tidak rusak atau hancur ketika diketuk.

Bahan dasar yang dipakai untuk membuat alat musik ini yaitu bambu dan kayu. Krombi biasa dimainkan pada acara-acara adat, pesta adat, ataupun festival budaya. Krombi juga sering digunakan sebagai musik pengiring tari-tarian.

Krombi dapat dimainkan bersama-sama dengan jenis alat musik lain, seperti karapra, nailavos, dan piko.

Perpaduan dari beberapa jenis alat musik tersebut akan menciptakan harmonisasi suara yang enak didengar dan menambah kekhidmatan acara yang dilangsungkan.

Amyen

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya bernama amyen, Apakah kamu tahu alat musik amyen? Amyen merupakan salah satu kekayaan budaya dan seni dari Papua. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup. Amyen adalah sebuah alat musik yang dibuat dari kayu putih.

Alat musik amyen berasal dari Suku Web di wilayah Kabupaten Keerom, Papua. Hingga kini amyen masih dapat ditemui di daerah tersebut.

Amyen biasanya digunakan pada acara-acara seni dan budaya daerah. Pada masa lalu, amyen bukanlah sekedar alat musik, tapi juga sering dimanfaatkan sebagai alat komunikasi pada situasi berperang.

Ditiupnya amyen bisa jadi salah satu pertanda bahwa situasi sedang dalam keadaan yang berbahaya, sehingga suara dari amyen dapat berperan sebagai tanda bahaya.

Amyen memiliki bentuk yang sekilas mirip dengan suling atau seruling, yang merupakan alat musik tradisional dari daerah Jawa Barat. Namun, pada amyen tidak terdapat lubang-lubang untuk menghasilkan berbagai nada seperti yang kita temui pada seruling.

Amyen berwarna cokelat muda atau keputih-putihan, yang merupakan warna khas yang dapat kita lihat dari kayu putih.

Amyen berbentu panjang seperti seruling, di mana terdapat perbedaan lingkar diameter antara ujung satu dengan ujung yang lain. Di bagian tengah, terdapat lubang yang berfungsi sebagai jalur keluarnya udara. Pemain alat  ini meniup dari ujung yang kecil. Semakin kencang tiupan, maka semaki  kencang pula suara yang dapat dihasilkan.

Butshake

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya adalah butshake. Salah satu alat musik tradisional Papua yang memiliki bentuk unik adalah buthsake. Butshake adalah sebuah alat musik yang berasal dari Papua, atau khususnya berasal dari Suku Muyu yang mendiami daerah Merauke.

Butshake pada umumnya dimainkan pada upacara-upacara adat, acara-acara pesta atau perayaan, serta acara-acara kesenian. Butshake menjadi salah satu alat musik pengiring pada tarian khas Papua.

Butshake terbuat dari bahan dasar bambu serta buah kenari. Buah kenari merupakan salah satu tumbuhan khas yang dapat ditemui di daerah Merauke. Cara memainkan alat musik yang satu ini cukup sederhana, yaitu dengan cara menggoyang-goyangkannya dengan tangan sehingga menghasilkan suara gemericik.

Suara gemericik tersebut berasal dari buah–buah kenari yang saling berbenturan saat alat ini digoyang. Cara memainkan alat ini memiliki kemiripan dengan alat musik marakas.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, butshake terbuat dari bambu dan buah kenari. Bambu yang dipakai berukuran ramping namun kuat. Kekuatan ini penting agar ketika digoyang-goyangkan, bambu tidak mudah patah atau rusak.

Pada bagian dasar dari bambu dapat diberi penguat agar tidak mudah rusak dan lebih nyaman digenggam.

Buah-buah kenari disusun sevara melingkar membentuk lingkaran di ujung buthsake. Bentuk ini mempercantik tampilan butshake. Selain itu, bentuk tersebut juga mempermudah terjadinya tumbuhkan atau benturan antar buah kenari, sehingga suara yang dihasilkan dapat lebih optimal.

Fuu

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya bernama fuu. Fuu dikenal juga dengan beberapa nama sebutan lain, misalnya korno dan tahuri. Walau demikian, nama fuu lebih dikenal luas oleh masyarakat Papua. Fuu merupakan salah satu alat musik tradisional yang dapat kita temukan di Papua, terutama di daerah Merauke.

Alat musik fuu dimainkan dengan cara ditiup. Hampir sama seperti sebagian besar alat musik tradisional Papua yang lain, fuu juga terbuat dari bahan dasar bambu dan kayu. Sejak jaman dahulu, fuu digunakan untuk alat komunikasi antar masyarakat. Bunyi yang dihasilkan fuu ini merupakan pertanda terjadinya sesuatu.

Bisa juga sebagai salah satu cara untuk memanggil orang. Fuu juga dapat berfungsi sebagai alat musik. Fuu biasanya dimainkan untuk mengiringi tari-tarian. Penggunaan fuu untuk mengiringi tari-tarian misalnya dapat kita lihat pada Suku Asmat yang berada di daerah Kabupaten Merauke.

Fuu memiliki bentuk yang cukup menarik. Sebagian bentuk fuu berbentuk seperti suling, sedangkan di bagian lain nampak seperti sebuah tabung. Jika dilihat sekilas, bentuk fuu ini menyerupai seperti sebuah teleskop.

Seperti pada alat musik tiup pada umumnya, fuu memiliki lubang di bagian ujung yang berfungsi untuk jalur keluarnya udara. Fuu biasanya dimainkan  bersama dengan alat musik lain, misalnya tifa dan butshake. Fuu akan mengeluarkan bunyi yang kuat jika ditiup. Bunyinya cukup nyaring untuk mendapatkan perhatian dari yang mendengarnya.

Eme

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya bernama eme. Alat musik ini khususnya sering digunakan antara lain oleh Suku Kamoro. Alat musik yang satu ini hampir selalu dimainkan pada acara-acara adat Suku Kamoro. Eme dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh.

Eme dimainkan sebagai pengiring ketika bernyanyi. Nyanyian biasanya berupa pantun, nasehat, petuah leluhur, ataupun cerita-cerita legenda. Saat acara berlangsung, para peserta acara adat akan bersama-sama menari sambil mengikuti irama tabuhan dari eme.

Pembuatan eme ini dapat dikatakan cukup menarik. Eme dibuat dengan mencampurkan beberapa bahan, yaitu kapur dari bia dan darah manusia dioleskan ke sekeliling ujung eme. Hal tersebut bertujuan agar kulit dapat merekat kuat.

Kulit hewan yang digunakan biasanya adalah kulit biawak. Biawak merupakan salah satu jenis hewan yang dapat ditemui di wilayah Papua, khususnya di daera pesisir. Kulit biawak tergolong kuat dan keras, sehingga cocok dipakai untuk bahan pembuatan eme.

Selain itu, masyarakat  Suku Kamoro berkeyakinan bahwa dengan memberi perekat berupa darah manusia dan campuran bia pada kulit, dapat menghasilkan bunyi yang lebih mantap. Meskipun demikian, saat ini penggunaan darah manusia mulai ditinggalkan dan diganti dengan getah pohon ote yang memiliki warna merah seperti darah.

Guna mendapatkan bunyi yang lebih beragam dan bervariasi, kulit eme dapat ditempeli oleh getah damar. getah damar yang ditempelkan tersebut biasanya berbentuk bulatan-bulatan kecil.  yang dibentuk menjadi bulatan kecil.

Paar dan Kee

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya  bernama paat dan kee. Sebenarnya, paar dan kee memiki fungsi utama sebagai penutup kemaluan laki-laki. Hal tersebut antara lain dapat kita lihat dalam tradisi Suku Waris di Kabupaten Keerom. Walau demikian, paar dan kee juga dapat difungsikan sebagai alat musik.

Paar dan kee adalah dua bagian yang berbeda namun memiliki kegunaan yang sama. Bahan pembuatan keduanya juga berbeda. Paar dibuat dengan menggunakan labu kering, sedangkan kee terbuat dari tulang kasuari.

Paar dan kee juga biasanya dimainkan pada acara atau pesta adat. Pada  pesta tersebut, para penari akan mengenakan paar dan kee, lalu melakukan tarian dan lompatan secara serempak hingga paar dan kee akan bertumbuk kemudian menghasilkan suara.

Apabila diperhatikan secara seksama,  alat musik yang satu ini memiliki bentuk yang tidak biasa. Paar dan kee bisa disebut lebih mirip kalung ketimbang sebagai alat musik. Namun disitulah letak keunikannya. Alat ini digunakan di sekitar panggul laki-laki dan akan menghasilkan suara yang khas ketika bertubrukan.

Yi

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya bernama Yi. Yi adalah alat musik tradisional Papua Barat. Yi dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik ini terbuat dari bambu dan kayu, dengan warna cokelat gelap atau kehitam-hitaman dan bentuk yang sedikit besar atau gempal. Yi kini agak sulit ditemui keberadaannya.

Catatan atau informasi mengenai alat musik ini juga tergolong minim. Walau demikian Yi masih coba dilestarikan dan dipertahankan dengan cara menampilkannya di festival-festival seni.

Yi sebenarnya memiliki fungsi utama sebagai alat untuk mengumpulkan orang, memberi pertanda serta peringatan untuk penduduk. Keterbatasan alat komunikasi terutama di masa lampau membuat peran yi sebagai alat komunikasi waktu itu menjadi sangat penting. N

amun seiring perjalanan waktu, fungsi yi sebagai alat komunikasi perlahan tergantikan oleh alat-alat lain. Maka dari itu, kini yi lebih identik sebagai alat musik sebagai pengiring tari-tarian pada acara adat atau pesta-pesta yang diadakan oleh penduduk setempat. Yi dapat dimainkan bersamaan dengan alat musik lain untuk mendapatkan irama yang indah.

Yi memiliki bentuk yang mirip seperti suling atau seruling yang ada di Sunda. Perbedaan terletak dari ukuran serta kepadatannya. Yi berbentuk sedikit lebih besar serta memiliki kepadatan yang lebih padat dan keras.

Kayu pada alat musik ini memiliki rongga di bagian tengahnya. Yi dapat menghasilkan suara yang cukup nyaring dan dapat terdengar dari jarak yang cukup jauh. Itulah sebabnya Yi sempat digunakan sebagai alat komunikasi penduduk di papua Barat.

Kecapi Mulut

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya adalah kecapi mulut. Kecapi mulut adalah alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara ditiup. Pikon khususnya berasal dari Suku Dani yang berada di lembah Baliem, Jayawijaya. Kecapi mulut merupakan alat musik khas Papua yang hampir mirip cara memainkannya dengan pikon.

Sama seperti pikon, alat musik ini dapat mengeluarkan nada ketika ditiup. Kecapi mulut dijepitkan ke bagian bibir sembari ditiup dan ditarik talinya.

Perbedaan antra kecapi mulut dan pikon antara lain terletak pada bahan dasar pembuatannya. Kecapi mulut terbuat dari bambu wuluh kecil yang diberi tali untuk dapat menghasilkan bunyi. Sama seperti alat musik lainnya, kecapi mulut berfungsi untuk hiburan, menghilangkan kepenatan setelah lelah beraktivitas seharian.

Alat musik ini biasanya dimainkan secara tunggal. Hal tersebut disebabkan karena bunyi yang dihasilkan oleh kecapi mulut relatif kecil, sehingga jika dimainkan bersama dengan alat musik yang lain, suaranya tidak  akan terlalu terdengar.

Dari segi ukuran, kecapi mulut tergolong sebagai alat musik berukuran kecil.  Kurang lebih sedikit lebih panjang dari ukuran bibir manusia. Bentuk ini kemungkinan untuk memudahkan dalam memainkannya.

Kecapi mulut juga terbilang sederhana, mudah untuk dibuat dan dimainkan. Kecapi mulut kini tidak begitu mudah dijumpai. Alat musik khas Papua ini jadi salah satu koleksi seni yang dipamerkan di Museum Loka Budaya yang terdapat di Universitas Cendrawasih Papua.

Atowo

Alat Musik Tradisional Asli Papua selanjutnya adalah atowo. Selain tifa, salah satu alat musik tradisional Papua yang cukup populer adalah atowo. Atowo merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul. Namun sayang, saat ini alat musik atowo makin jarang ditemui keberadaannya.

Sebagai salah satu warisan seni dan budaya Papua, sudah selayaknya alat musik ini bisa lebih dilestarikan dan diperkenalkan lagi pada generasi muda.

Atowo memiliki bentuk bulat memanjang, dengan ukuran sedang dan memiliki berat yang relatif ringan. Bentuk dari atawa secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian bawah yang memiliki bentuk sedikit lebih ramping, dan bagian atas yang berbentuk lebih lebar. Pada bagian luarnya terbuat dari kayu yang diukir.

Ukiran-ukiran tersebut menambah nilai seni yang ada di alat musik yang satu ini. Di bagian atas, biasanya berasal dari bahan kulit hewan, yang apabila dipukul akan mengahasilkan bunyi yang nyaring. Lalu di bagian pinggirnya diberi semacam tali untuk memudahkan untuk membawa/mengangkatnya.

Apabila dilihat secara sepintas, alat musik khas Papua ini memiliki kemiripan dengan gendang. Baik atowo maupun gendang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan kedua tangan. Bunyi yang dihasilkan dari atowo tergantung dari seberapa keras alat tersebut dipukul. Atowo biasanya digunakan untuk sarana hiburan.

Suara tabuhan atowo dapat menghidupkan suasana menjadi lebih bersemangat. Atowo juga dapat dimainkan bersamaan dengan alat musik lain untuk menghasilkan harmonisasi nada.

Demikian ulasan mengenai Alat Musik Tradisional Asli Papua semoga kita semakin mengenal khasanah dan kekayaan papua sebagai bentuk kebanggan bangsa indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*