Adat Pernikahan 5 Suku di Indonesia dan Keunikannya

Pernikahan adalah sebuah peristiwa yang penting pada kehidupan seseorang. Pernikahan menyatukan dua orang yang saling mencintai untuk kemudian hidup bersama dan berumah tangga.

Oleh karena itu, pernikahan tidak digelar secara sembarangan. Terutama di Indonesia yang memiliki akar tradisi yang kuat, pernikahan digelar dengan tradisi-tradisi tertentu yang memiliki makna filosofis yang mendalam.

Baca Juga: Macam-macam Bahasa Daerah di Indonesia (10 Suku)

Tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki tradisi dan kekhasannya sendiri-sendiri. Lalu apa saja contoh tradisi pernikahan di berbagai daerah di Indonesia? Simak ulasannya di bawah ini!

1. Pernikahan Adat Sunda

Masyarakat Sunda memiliki keragaman kebudayaan yang tinggi dan beberapa diantaranya tetap terjaga hingga saat ini. Salah satunya adalah tata cara pernikahan. Terdapat beberapa tahapan dalam pernikahan yang dilaksanakan secara adat Sunda.

Neundeun Omong

Neundeun omong adalah salah satu tahapan sebelum melaksanakan pernikahan tradisi Sunda. Acara ini dilakukan dengan maksud untuk penjajakan atau perkenalan antara keluarga dari calon pria terhadap calon wanita.

Pada acara ini keluarga dari pria akan menyatakan maksud kedatangan dan bertanya seputar calon wanita. Mereka antara lain menanyakan seputar kehidupan atau keseharian calon wanita, termasuk apakah dia telah dilamar pria lain ataukah belum. Apabila mereka merasa cocok, maka penjajakan ini akan berlanjut ke proses lamaran.

Narosan

Setelah penjajakan selesai dan berjalan sesuai rencana, maka tahap selanjutnya adalah narosan. Narosan adalah sebuah acara yang dikenal juga dengan istilah lamaran atau melamar. Acara ini digelar sebagai tindak lanjut dari acara neundeun omong yang telah dilakukan sebelumnya. pihak pria akan membawa orang sepuh yang dihormati dari keluarganya untuk menjadi juru bicara keluarga.

Baca Juga: 25 Tips Sederhana Cara Hidup Bahagia & Bermakna

Pada prosesnya, pihak keluarga calon pengantin pria memberikan sirih lengkap beserta panyangcang (uang pengikat). Benda dan uang tersebut adalah simbol bahwa calon pengantin pria telah menyanggupi untuk membiayai pernikahan antara dirinya dengan calon mempelai wanita.

Kemudian setelah itu, calon pengantin pria dapat juga memberikan cincin kepada calon pengantin wanita yang berfungsi sebagai simbol pengikat. Cincin tersebut adalah cincin meneng atau cincin belah rotan. Pemberian cincin ini sebenarnya bukan tradisi asli Sunda, melainkan tradisi yang diserap dari budaya barat.

Seserahan

Seserahan adalah sebuah prosesi penyerahan calon pengantin pria pada piak calon pengantin wanita. Seserahan dilakukan dengan membawa beberapa barang untuk melangsungkan pernikahan. Waktu digelarnya seserahan ini cukup bervariasi, tergantung dari kesepakatan kedua pihak keluarga. Pada umumnya, seserahan dilakukan seminggu atau sehari sebelum hari-H pernikahan.

Siraman

Siraman atau ngebakan merupakan salah satu prosesi yang dilakukan di pernikahan tradisi Sunda. Pada acara ini, calon pengantin wanita dimandikan. Siraman biasanya dilangsungkan baik di tempat kediaman calon pengantin wanita maupun calon pengantin pria. Prosesi ini memiliki makna filosofis yang tinggi, dengan maksud agar sang calon pengantin dapat bersih baik secara lahir maupun batin.

Biasanya jika calon pengantin beragama Islam, acara siraman ini juga ditambah dengan acara pengajian dan ceramah. Acara tersebut bertujuan untuk mendoakan agar pernikahan dapat berjalan lancar dan nantinya kedua pasang mempelai dapat hidup bersama dengan bahagia.

Ngeyeuk Sereuh

Acara ngeyeuk sereuh adalah acara yang dilakukan ketika calon mempelai meminta doa restu kepada orang tua. Pada prosesi ini, masing-masing mempelai meminta restu dan mendapat nasehat dari orang tua. Nasehat-nasehat tersebut disimbolkan dengan beberapa benda. Benda simbolis tersebut biasanya ditutupi oleh kain putih di mana di dalamnya terdapat puluhan benda simbolik.

Benda-benda simbolik tersebut nantinya akan dijelaskan oleh seorang pangeuyeuk yang memimpin prosesi ngeyeuk sereuh. Penjelasan biasanya akan dilakukan melalui tembang Sunda dengan diiringi alunan musik kecapi.

Ngababakeun

Sampailah pada hari pernikahan. Calon pengantin pria beserta rombongan keluarga mendatangi rumah kediaman calon mempelai wanita. Ketika datang mereka akan disambut oleh petugas penjemput yang dipimpin oleh Ki Lengser. Ki Lengser adalah seorang penari yang berpakaian menarik, melakukan gerakan tari dengan diiringi musik gamelan.

Sawer

Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah akad nikah selesai dilangsungkan. Untuk prosesi sawer ini, disiapkan beberapa benda, antara lain yaitu bokor berisi uang, kunyit, beras, dan permen. Sawer dilakukan berbarengan dengan prosesi pemberian nasehat terakhir orang tua pada kedua pengantin. Jadi, ketika orang tua memberi nasehat, pada saat itu juga, petugas mulai menaburkan isi bokor pada pengantin.

Baca Juga: Musyawarah Mufakat di Masa Kerajaan, Kemerdekaan, Saat Ini

Meleum Harupat

Prosesi ini memiliki makna filosofis yang cukup dalam. Pada meleum hareupat, pengantin pria memegang lidi, sedangkan pengantin wanita kemudian akan membakar lilin tersebut dengan api hingga menyala. Prosesi ini mengandung makna bahwa kemarahan pengantin pria yang disimbolkan dengan nyala lidi akan dapat padam berkat kelembutan dan kesabaran dari pengantin wanita.

Nincak Endog

Nincak endog dalam bahasa Indonesia berarti menginjak telur. Pada prosesi ini, kaki pengantin pria akan menginjak telur yang kemudian akan dibersihkan oleh pengantin wanita. Pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria dengan air kendi hingga bersih. Prosesi ini bermakna bahwa pengantin pria sebagai suami memiliki tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, sedangkan pengantin wanita sebagai istri berkewajiban untuk mengikuti dan melayani suami.

Melepas Merpati

Melepas merpati bermakna bahwa dengan pernikahan tersebut, maka tanggung jawab orang tua untuk mengasuh anaknya telah selesai karena kini anaknya telah mampu hidup manciri. Prosesi ini dilakukan oleh kedua orang tua, baik orang tua mempelai pria maupun wanita. Kedua orang tua akan melepas merpati berwarna putih untuk terbang ke angkasa.

Buka Pintu

Umumnya prosesi ini dilakukan dengan juru mamaos (yang membaca syair) sebagai perwakilan pengantin. Prosesi ini menyimbolkan sebuah pesan atau nasehat supaya pasangan suami istri dapat saling menghargai dan menghormati.

2. Pernikahan Adat Bali

Masyarakat Bali memiliki dua jenis adat atau tradisi dalam melangsungkan perkawinan, yaitu patrilineal dan matrilineal. Pernikahan patrinlineal merupakan perkawinan yang mengikuti garis keluarga calon pengantin pria, sedangkan pernikahan matrilineal merupakan jenis pernikahan yang mengikuti garis keluarga calon pengantin wanita.

Pada perkawinan patrilineal, pihak pengantin pria bertindak sebagai penyelenggara pernikahan. Terdapat tiga cara dalam melangsungkan pernikahan patrilineal ini. Cara yang pertama yaitu mamadik atau ngidih (meminang). Cara kedua yaitu dengan didasari oleh perjodohan antar pihak keluarga.

Baca Juga: Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia dalam Menjaga Alam

Pada cara yang kedua ini, kedua calon mempelai tidak mengetahui jika akan dinikahkan atau dijodohkan oleh keluarganya. Lalu cara yang ketiga adalah kawin lari. Cara yang ketiga ini biasanya disebabkan oleh adanya perbedaan kasta pada kedua calon pengantin yang ingin menikah.

Kemudian untuk pernikahan dari garis keluarga calon pengantin wanita atau matrilineal. Jenis pernikahan ini disebut juga dengan nyeburin atau nyentana. Pernikahan jenis ini juga dapat dilakukan dengan tiga cara yang merupakan kebalikan dari bentuk pernikahan pada garis patrilineal.

Tiap-tiap jenis tentu memiliki konsekuensi dan hukum adat yang berbeda-beda. Secara garis besar, berikut ini adalah tahap-tahap prosesi pernikahan yang umum dilakukan oleh penduduk Bali.

Menentukan Hari Baik

Adat Bali memiliki sebuah kepercayaan dalam menentukan tanggal atau hari baik. Penentuan tanggal baik ini dimaksudkan supaya mendapatkan hari yang dianggap terbaik untuk melangsungkan pernikahan. Pada hari yang telah disepakati bersama, kedua pihak keluarga dari calon pengantin pria dan wanita saling bertemu.

Pihak keluarga calon pengantin pria datang berkunjung ke kediaman calon pengantin wanita. Pada kesempatan tersebut, pihak kelurga calon pengantin pria menyampaikan niat kedatangannya, yaitu meminang calon wanita. Ketika pinangan tersebut disetujui dan diterima, maka kemudian kedua keluarga berdiskusi mengenai waktu pelaksanaan pernikahan. Saat hari pernikahan telah disepakati bersama, lalu calon pengantin wanita akan dijemput dan dibawa ke rumah calon pengantin pria.

Pada pagi hari menjelang acara pernikahan, warga sekitar serta keluarga calon pengantin pria mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk melangsungkan upacara pernikahan. Beberapa yang dipersiapkan antara lain pura, tempat untuk ibadah, altar suci, hingga sesajen. Pada adat Bali, pernikahan memang melibatkan banyak orang. Pernikahan dilangsungkan dengan penuh khidmat melalui upacaya Byekawon. Upacaya ini dipimpin oleh Jero Balian.

Upacara Mekala-Kalaan

Upacara ini mengandung makna bahwa kehidupan sepasang suami istri harus diawali dan dijalankan dengan penuh kesucian. Prosesi ini merupakan salah satu prosesi yang penting dalam pernikahan tradisi Bali. Ritual upacara dilaksanakan seusai tata cara agama Hindu. Pada upacara ini, dengan dipimpin oleh Balian, kedua pasangan pengantin berikrar suci dihadapan Tuhan yang juga disaksiskan oleh keluarga dari kedua pihak pasangan beserta dengan msayarakat setempat.

Upacara ini memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam basa Bali, Kala berarti energi. Upacara tersebut merupakan upaya untuk menyucikan diri kedua calon pengantin dari pengaruh energi-energi yang bersifat negatif yang mungkin melekat. Dengan ritual yang dilakukan pada upacara ini diharapkan kedua pengantin akan tersucikan baik secara jasmani maupun rohani. Hal tersebut diperlukan agar keduanya dapat hidup berumah tangga dengan selamat dan bahagia.

Prosesi pernikahan dimulai dengan bunyi tabuhan genta dari sang pendeta. Kemudian lantunan kidung akan dibacakan dengan pelan-pelan, membuat upacara tersebut terasa sangat sakral. Dupa mulai dibakar, sehingga para hadirin yang datang pun akan menciumnya. Lalu kedua pasangan pengantin akan mendapatkan percikan air suci dari pimpinan upacara.

Natab Banten Beduur (mewidi widana)

Prosesi ini dipimpin oleh Ida Peranda atau Sulinggih dan ini menjadi penyempurna rangkaian acara Wiwaha. Kedua mempelai selanjutnuya bedoa di depan bebanten, selanjutnya para pini sepuh mengantar mempelai berdoa di tempat pura keluarga yang dipimpin oleh pemangku sanggah.

Upacara Ma Pejati ata Majamuan

Tahapan berikutnya yaitu upacara Ma Pejati atau disebut juga Mepamit. Upacara ini brmakna perpisahan atau berpamitan. Upacara ini biasanya dilakukan di kediaman pengantin wanita. Upacara ini merupakan bentuk perpisahan antara pengantin wanita dengan orangtuanya serta leluhur-leluhurnya. Pengantin wanita akan berpamitan, karena sekarang dirinya telah menjadi tanggung jawab dari pengantin pria yang kini telah menjadi suaminya.

Pada upacara ini, kedua pengantin mendatangi keluarga pengantin wanita dengan membawa sesajen, yaitu antara lain cerocot, wajik, apem, dan sumping. Makanan-makanan tradisional berwarna merah dan putih juga dibawa dan diserahkan ke pihak keluarga pengantin wanita.

3. Pernikahan Adat Jawa

Masyarakat Jawa dikenal dengan budaya yang sarat makna filosofis disetiap sendi kehidupannya. Termasuk juga dengan tradisi pernikahannya yang kental dengan tradisi budaya dan sarat akan makna.

Prosesi pasang tarub, bleketepe, dan tuwuhan

Pasang tarub, bleketepe, dan tuwuhan adalah prosesi penting yang perlu dilakukan sebelum mengadakan pernikahan. Pada setiap acara pernikahan yang digelar dengan adat Jawa, maka prosesi tersebut selalu jadi yang pertama dilakukan.

Baca Juga: Danau Toba: Wisata Alam dan Budaya

Tarub yang dipasang di pintu atau pagar bermakna sebagai peneduh rumah. Adanya tarub beserta dengan bleketepe menunjukkan bahwa di tempat tersebut sedang berlangsung acara perkawinan. Tarub, bleketepe dan tuwuhan merupakan simbol untuk menolak bala dan simbol harapan calon mempelai. Diharapakan kedua calon pengantin akan mendapatkan keturunan yang sehat, berperangai baik, makmur, dan selamat sentausa.

Sungkeman

rosesi ini sepertinya sudah cukup dikenal oleh sebagian besar dari kita. Prosesi ini sebenarnya tidak hanya dilakukan di acara pernikahan saja. Sungkeman merupakan sebuah bentuk penghormatan dari yang muda kepada yang lebih tua atau sepuh. Sungkeman pada pernikahan pada umumnya berlangsung lebih khidmat, karena pengantin akan memohon maaf pada orang tua sekaligus memohon restu untuk menjalani kehidupan bersama pasangan.

Siraman

Sama sperti pada tradisi Sunda, pada tradisi Jawa juga ditemukan adanya prosesi siraman. Siraman adalah sebuah prosesi yang bermakna untuk menyucikan diri sebelum mengikuti acara pernikahan yang dianggap begitu sakral.

Pertama-tama, siraman ini dilakukan oleh kedua orang tua calon pengantin. Kemudian dilanjutkan oleh keluarga dekat, seperti kakek, nenek, paman, bibi, dan keluarga lain yang lebih dituakan. Pada umumnya, pada prosesi siraman adat Jawa ini, terdapat sekitar tujuh orang yang menyiram air kepada calon pengantin. Orang yang menyiram air tersebut harusla telah menikah. Hal tersebut mengandung makna untuk meminta doa dan keberkahan untuk mengikuti pernikahan.

Dodol dawet

Prosesi ini biasanya dilaksanakan setelah prosesi siraman selesai. Dodol dawet berarti menjual dawet atau cendol. Pada acara ini, ibu dari calon pengantin akan berjualan dawet seraya dipayungi oleh suaminya. Prosesi ini menjadi simbol kebulatan tekad orang tua untuk melepaskan serta menikakan anaknya.

Tamu yang ingin membeli dawet tersebut ini diwajibkan membayar dengan uang kreweng. Uang ini terbuat dari tanah liat. Kreweng merupakan simbol bahwa kehidupan manusia adalah berasal dari tanah. Selama prosesi dodol dawet ini berlangsung, sang ibu akan melayani pembeli sedangkan sang ayah yang menerima pembayarannya. Hal tersebut adalah simbol pengajaran pada calon pengantin untuk mampu bekerja mencari nafkah serta dapat saling membantu.

Midodareni

Dari sekian banyak acara pranikah di tradisi Jawa, salah satu yang masih sering diadakan yaitu midodareni. Prosesi ini dilaksanakan oleh calon pengantin wanita. Pada ritual ini, calon pengantin wanita diwajibkan untuk berdiam diri di kamar dari jam enam petang hingga jam dua belas malam. Calon pengantin wanita biasanya diberi riasan yang sederhana pada prosesi ini.

Selama prosesi tersebut, calon pengantin wanita biasanya ditemani oleh ibu dan keluarga terdekatnya yang sama-sama berjenis kelamin wanita. Sedangkan ayahnya akan menanyakan soal kesiapan dan keteguhan hati dari calon pengantin untuk hidup berumah tangga bersama suaminya nanti.

Ketika midodareni, calon pengantin pria akan berkunjung ke rumah calon pengantin wanita. Namun demikian, keduanya tidak diperbolehkan untuk bertemu terlebih dahulu. Kedatangan calon pengantin pria hanyalah simbol bahwa dirinya telah siap untuk melaksanakan pernikahan.

Srah-srahan

Srah-srahan dilakukan tepat ketika prosesi midodareni dilaksanakan. Ketika calon pengantin wanita “disembunyikan” tidak boleh keluar kamar, calon pengantin pria datang ke rumahnya membawa srah-srahan. Benda-benda yang dibawa umumnya berupa perlengkapan atau kebutuhan pribadi untuk wanita seperti sabun, baju, alat mandi, make up, serta ditambah dengan perhiasan.

Pada umumnya di momen srah-srahan ini diberikan juga setandan pisang raja. Buah ini dimaknai sebagai sebuah rasa syukur atas barokah yang diterima.

Balang gantal

Prosesi ini dilakukan setelah proses ijab kabul selesai. Balang gantal adalah salah satu acara yang dilaksanakan pertama kali pada upacara panggih, yaitu sebuah upacara tradisi Jawa yang dilakukan setelah proses ijab kabul selesai. Bahan-bahan dari prosesi gantal ini adalah daun sirih  kapur sirih, gambir, bunga pisang, dan tembakau.

Prosesi balang gantal dilakukan dengan cara kedua pengantin saling lempar sirih satu sama lain. Kedua pengantin pria dan wanita berdiri saling berhadap-hadapan lalu saling lempar. Prosesi ini bermakna bahwa kedua pasangan pengantin akan saling melempar kasih sayang.

Ngindak endhog

Ngindak endhong dalam bahasa Indonesia berarti menginjak telur. Acara ini bermakna harapan dari kedua pasangan supaya dikaruniai Tuhan keturunan. Prosesi tersebut juga disimbolkan sebagai kesetiaan istri kepada suaminya.

Sindur

Prosesi ini dilaksanakan setelah prosesi ngindhak endhog. Pada prosesi ini, Ibu akan membentangkan kain pada kedua mempelai, sedangkan sang ayah akan menuntun kedua mempelai untuk menuju ke pelaminan. Prosesi ini merupakan simbol harapan dari orang tua agar kedua pasangan pengantin dapat saling menguatkan ketika mengalami cobaan dalam rumah tangganya.

Kacar kucur

Prosesi ini dilaksanakan dengan cara pengantin pria akan mengguyurkan atau mengucurkan berbagai biji-bijian serta uang logam. Benda-benda tersebut merupakan simbol dari penghasilan. Prosesi ini bermakna bahwa pengantin pria sebagai suami yang memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah istri dan anak-anaknya kelak.

Dulangan

Pada pernikahan adat Jawa juga dapat ditemui prosesi dulangan atu suap-suapan. Kedua mempelai saling menyuapi makanan, yang bermakna bahwa kedua pasangan pengantin diharapkan dapat hidup rukun dan bisa saling memahami satu sama lain.

Bubak kawah

Bubak kawah merupakan prosesi terakhir dari serangkaian prosesi pada pernikahan adat Jawa. Karena ini adalah proses paling akhir, bubak kawah biasanya digelar lebih meriah dibandingkan prosesi-prosesi yang lain. Prosesi Bubak kawah ini pada umumnya digelar untuk mantu pertama. Hal tersebut sebagai ungkapan syukur orang tua karena menikahkan anak untuk pertama kalinya.

4. Pernikahan Adat Sasak (Lombok)

Suku Sasak di Lombok memiliki tradisi pernikahan yang cukup unik dibandingkan dengan suku-suku lain. Pada jaman dahulu kala, apabila seorang pria ingin melamar dan menikahi wanita yang dicintainya, maka dia diwajibkan untuk memiliki semangat juang, tidak kenal menyerah, dan memiliki fisik yang kuat.

Pria tersebut juga dituntut untuk memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Maka, pria harus menunjukkan hal tersebut baik ke wanita itu sendiri maupun ke keluarga dari wanita tersebut.

Pembuktian yang dimaksud yaitu dengan “mencuri” si wanita pujaan dari rumahnya secara diam-diam. Hal tersebut harus dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga si wanita. Setelah berhasil mencurinya, lalu wanita tersebut dibawa untuk menginap dirumahnya selama seminggu. Sepanjang waktu itu juga wanita tersebut tidak diperbolekan memberi kabar. Keluarga pria tersebut juga secara kompak menjaga rahasia. Sampai kemudian tiba saatnya, lalu pria beserta rombongan keluarga datang ke kediaman keluarga calon pengantin wanita lengkap dengan pakaian adat Sasak untuk melakukan pelamaran.

Pencurian atau kawin culik tersebut sebenarnya merupakan simbolis semata, guna membuktikan keseriusan pria untuk meminang sang wanita. Namun demikian, sekarang tradisi ini mulai jarang dilakukan karena perkembangan budaya serta hukum di Indonesia yang membuat tradisi ini terlalu beresiko untuk dilakukan.

Kawin culik tersebut tentu tidak dilakukan tanpa perhitungan. Walau tergolong nekat dan mengambil resiko tinggi, tetapi kawin culik tetap memiliki aturan main. Pada umumnya sang wanita dan pria yang sudah ia pilih akan berjanji dan membuat kesepakatan tentang kapan kawin culik tersebut dilakukan. Waktu penculikan biasanya malam hari. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya keributan baik dengan keluarga maupun penduduk sekitar.

Selain dilakukan pada malam hari, kawin culik juga mesti dirahasiakan dari keluarga wanita maupun kerabat-kerabat lainnya. Ini diperlukan untuk menjaga agar jangan sampai rencana penculikan tersebut gagal, terutama terhadap mereka yang tidak setuju atau tidak senang dengan pria tersebut. Proses ini legal karena aturan-aturannya telah ada secara adat dan diatur dengan baik, seperti adanya denda jika dalam prosesnya terjadi keributan.

Setelah terjadi penculikan sang wanita dibawa kerumah kerabat sang pria, jadi bukan dibawa langsung kerumah pria. Melainkan diamankan dari kemungkinan keributan yang bisa saja terjadi di kediaman salah satu keluarga sang pria.

5. Pernikahan Adat Toraja

Pernikahan adat Suku Toraja dapat disebut memiliki tradisi pernikahan yang berbeda dengan suku-suku lainnya di Indonesia. Berdasarkan adat Toraja, pernikahan selain harus disahkan secara agama, kedua pengantin juga harus mendapatkan pengesahan secara adat oleh pemangku adat yang sangat dihormati disana dengan menggunakan adat Aluk Todolo yang disebut Aluk Rampanan Kapa’.

Rampanan Kapa’ atau juga dikenal dengan nama Rambu Tuka adalah acara tradisional pernikahan adat Toraja. Pernikahan tersebut digelar menggunakan pakaian adat khas adat Toraja. Untuk diketahui, masyarakat di daerah Toraja masih mempertahankan sistem kasta. Sistem tersebut juga tetap berlaku pada acara pernikahan adat Toraja. Walau demikian, justru disitulah keunikan dari pernikahan adat Toraja. Acara pesta pernikahan adat Toraja dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu bo’bo’ bannang, rampo karoen, dan rampo allo.
Bo’bo’ Bannang

Pesta pernikahan bo’bo’ bannang diperuntukkan bagi masyarakat yang berada pada kasta terendah. Oleh karena itu, acara pernikahan digelar secara sederhana. Hal tersebut salah satunya terlihat dari jumlah tamu undangan yang tidak terlalu banyak. Umumnya pernikahan Bo’bo’ bannang digelar pada malam hari dengan sajian makanan yang tidak mewah.

Rampo Karoen

Pernikahan Rampo Karoen merupakan pernikahan adat Toraja yang diadakan oleh masyarakat kasta menengah. Rampo Karoen dilaksanakan pada sore hari di kediaman pengantin wanita. Pernikahan rampo karoen lebih meriah ketimbang Bo’bo’ bannang. Acara biasanya diisi dengan pembacaan pantun-pantun pernikahan.

Rampo Allo

Rampo Allo merupakan pesta pernikahan adat toraja untuk kalangan masyarakat kasta tertinggi. Maka dari itu tidak heran jika rampo allo digelar lebih meriah dibandingkan dengan pernikahan pada masyarakat kasta rendah dan menengah. Masyarakat kasta tertinggi biasanya adalah golongan bangsawan. Biaya untuk menggelar pesta pernikahan umumnya lebih besar.

Oleh: Riyyan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*