23 Cara Mudah Membuat Karya Tulis Jadi Menarik!

Membuat Tulisa Jadi Menarik (1)

Banyak orang yang sebenarnya suka menulis, punya banyak ide dan cerita di kepala, tapi kadang suka bingung dan nge-blank tiba-tiba ketika sudah mencoba memulainya.

Tak sedikit juga yang malah menyerah di tengah-tengah penulisan, karena merasa apa yang dituangkan ke dalam lembaran demi lembaran kertas tidak semenarik yang awalnya dia kira.

Itu kah yang juga kamu rasakan?

Membuat Tulisa Jadi Menarik (1)

Nah, kalau iya, berikut ini beberapa tips mudah untuk para penulis pemula supaya bisa membuat dan menghasilkan tulisan yang menarik dan enak dibaca.
Kuy lah, disimak ya, gan!

1. Perluas Wawasanmu

Wawasan adalah salah satu hal mendasar yang wajib dimiliki seorang penulis. Karena dengan begitu, dia bisa menjelaskan serta mempertanggungjawabkan apa yang ditulis. Tanpa wawasan yang luas, biasanya orang juga akan mudah kehabisan ide, bahan, dan cerita yang mau dituangkan.

Di zaman sekarang ini, wawasan begitu mudah dicari dan didapatkan. Jadi, jangan bosan-bosan mengamati wawasan baru untuk memperkaya ide penulisanmu, ya.

Siapa tahu kamu malah menemukan hal-hal menarik untuk diangkat ke dalam sebuah cerita. Hal-hal yang selama ini tak pernah terpikirkan.

Sehingga yang paling penting, tulislah apa yang memang kamu tahu. Bagaimana caranya? Perluas wawasanmu.

Baca Juga: 9 Tips Menaklukkan Wanita Alfa (Dominan) Idamanmu

2. Pengalaman adalah Hal yang Paling Mudah Dituangkan

Biasanya, orang akan lebih mudah menulis sesuatu karena berangkat dari pengalamannya sendiri. Lihat saja, betapa banyak postingan atau tweet di media sosial yang bercerita tentang pengalaman mereka terhadap satu hal.

Mengekspresikan sesuatu berdasarkan hal yang pernah kita alami dan rasakan memang akan jauh ebih mudah.

Jadi jangan heran, kalau banyak penulis zaman sekarang yang ketika ingin menulis sesuatu, harus rela-rela mengorbankan waktu dan biaya supaya bisa melakukan observasi langsung ke orang, atau tempat yang ingin dia ceritakan.

Tidak sedikit orang yang rela menghabiskan budget yang lumayan besar untuk keliling Eropa supaya bisa menuangkan idenya ke dalam penulisan deskriptif yang detail, jelas, dan akurat tentang daerah-daerah menarik di sana.

Tapi bagi penulis pemula, cobalah tuangkan saja pengalaman yang memang sudah pernah dilalui. Cari sisi yang menarik dari pengalaman itu. Tuangkan seperti air yang mengalir.

3. Banyak Membaca Karya Orang

Ini juga perlu dilakukan oleh penulis pemula. Bukan berarti untuk meniru gaya penulisan mereka, tapi dengan membaca karya orang, kita bisa belajar banyak bagaimana cara menulis yang menarik dan enak dibaca. Yap, karena biasanya kita justru akan mampu melihat kekurangan yang kita punya dengan melihat karya orang lain.

Biasakan juga untuk membaca karya tulisan yang beragam, tidak hanya satu jenis saja. Mulai dari tulisan deskriptif hingga persuasif, baik fiksi maupun non-fiksi. Dengan begitu, kamu bisa melihat di mana kemampuan tulisanmu yang sesungguhnya, atau jenis tulisan apa yang memang cocok dan kamu suka.

Tidak hanya bagi penulis pemula, karena biasanya bagi penulis yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan sekali pun, mereka akan tetap menyempatkan diri untuk membaca karya orang lain sebagai pembanding. Dari situ, tentu mereka juga bisa terus tumbuh dan berkembang.

Jadi, ingat kata-kata ini ya:
“Penulis yang baik adalah orang yang senang membaca,”

4. Seringlah Menjadi Pendengar yang Baik

Nah, ini tips yang tak kalah penting. Percayalah, kadang ide itu tak hanya datang dari pengalamanmu saja, tapi bisa jadi dari pengalaman orang lain juga. Jadi, biasakan untuk menjadi seorang pendengar yang baik, karena cerita yang menarik terkadang justru kita dapatkan dari curhatan orang lain.

Membuat Tulisa Jadi Menarik (2)

Mendengar pengalaman orang lain juga bisa menjadi bagian pelengkap dari ide ceritamu. Kamu bisa bertanya pada orang lain yang memiliki pengalaman serupa denganmu, dan mengambil sisi lain yang menarik dan tak pernah kamu tahu sebelumnya. Dari situlah tulisanmu bisa berkembang.

Bagi penulis yang sudah punya jam terbang tinggi, mereka malah cenderung melakukan ini sebagai bagian dari observasi. Misalnya saja mereka ingin bercerita tentang sisi kelam penyalahgunaan narkoba, maka tak ada kata ragu-ragu untuk bertanya langsung kepada mantan pemakai atau penggunanya.

5. Pastikan Siapa Pembaca Tulisanmu

Yap, dengan segudang ide yang sudah menumpuk di kepala, sebelum menulis, alangkah baiknya kamu untuk tahu dan pahami dulu siapa yang nantinya akan membaca tulisanmu. Karena dengan begitu, kamu bisa menentukan bagaimana caramu bercerita.

Lihat siapa segmentasi pembacamu. Kalau anak-anak milenial misalnya, tentu kamu harus bercerita sesuai dengan cara komunikasi mereka yang lebih santai dan kekinian.
Jangan segmennya anak milenial, berceritanya kayak orang tua. Bahaya, dong!

Baca Juga: Tips Resign dari Pekerjaan

6. Sesuaikan Gaya Bahasanya

Gaya bahasa yang akan kamu pilih berkaitan dengan pembahasan yang sebelumnya, tentang siapa target pembacamu. Kalau segmen anak muda, menggunakan lebih banyak bahasa gaul pastinya akan lebih ‘nyambung’ dan efektif. Bahkan terkadang memakai sedikit kata-kata alay bisa jadi akan lebih mengena.

Penting untuk memiliki ‘koneksi’ dan wawasan yang sama dengan segmentasi pembaca. Kalau target pembacamu memang untuk segmen milenial, jangan bahas yang berat-berat, ya.

Bisa jadi mereka nantinya malah gampang bosan. Jadi buatlah tulisan yang bagi mereka menarik, dan memang ‘mereka banget gitu, lho’.

7. Tulisanmu Harus Mudah Dimengerti

Tips ini berlaku untuk semua segmen pembaca. Mau pria, wanita, anak kecil, orang dewasa, sampai anak muda yang gaul, yang funky, yang doyannya ngucapin ember, usahakan tulisanmu harus mudah dimengerti oleh mereka.

Jangan sering menggunakan kata-kata yang rumit. Usahakan membuang jauh-jauh bahasa tingkat tinggi yang mungkin cuma bisa dimengerti kalangan politisi (kecuali segmenmu memang mau menyasar para politisi, sih).

Intinya, jangan terlalu banyak menggunakan istilah yang tidak semua orang paham maknanya. Karena orang yang membaca akan jadi mudah capek dan bosan. Gunakanlah pemilihan kata yang ringan dan dipahami semua orang.

Pastikan bahwa cukup dengan sekali membaca tulisanmu, mereka sudah paham maksudnya. Karena, kalau sampai mereka harus membaca tulisanmu berulang-ulang bahkan sampai mengernyitkan dahi, itu artinya ada yang salah.

8. Buat Tulisan sesuai Trend

Apa topik yang sedang ramai dibahas atau kerap jadi bahan perbicangan saat ini? Percintaan? Perselingkuhan? Hubungan tak direstui orang tua? Atau kisah-kisah horor dan mistis?

Yap, kamu perlu memastikan, kalau tema tulisan yang ingin kamu angkat memang masih atau sangat relevan saat ini. Jangan membahas kisah atau isu yang sudah jadul. Bukannya tidak ada orang yang tertarik, tapi cukup sulit untuk bisa menarik perhatian kalau kita tidak punya segmentasi pembaca khususnya.

Kita ambil contoh mengangkat cerita tentang kerajaan masa lampau. Memang bisa menarik perhatian, tapi mungkin hanya untuk segmen khusus, seperti orang-orang yang suka dengan sejarah, itu pun kalau bisa dikemas dalam bentuk yang juga menarik, seperti dalam bentuk komik dan sejenisnya.

Menurut kami, orang akan mudah bosan membaca buku dengan tema ini kalau isinya cuma tulisan dan halamannya begitu tebal.

Sebaliknya, mengangkat tema seperti horor misalnya, saat ini sedang banyak digandrungi. Lihat saja bagaimana tulisan KKN di Desa Penari begitu viral dan disukai banyak orang meski belum bisa dipastikan kebenarannya.

9. Sampaikan dengan Bercerita

Terkadang, beberapa orang berpikir kalau bercerita hanya diperuntukkan bagi penulis novel dan sejenisnya saja. Padahal, istilah yang sering kita kenal dengan ‘story telling’ ini seharusnya bisa digunakan di hampir semua jenis tulisan.

Yap, apa pun jenis tulisannya, usahakan kamu harus mengemasnya dalam sebuah narasi. Itulah salah satu cara agar tulisanmu menjadi menarik. Karena narasi yang menarik akan mudah mengambil hati para pembaca.

Atau setidaknya, mereka tidak akan berhenti pada setengah atau bahkan seperempat tulisan saja, tapi terus membacanya hingga satu tulisan penuh karena rasa penasaran akan narasi lanjutannya.

Nah, kamu penasaran sama tips yang selanjutnya? Yuk, baca terus sampai habis ya!

10. Jadilah yang Beda

Menjadi beda adalah salah satu cara menarik perhatian pembaca. Sesuatu yang unik, pasti akan membuat penasaran. Itu juga berlaku pada tulisan. Mengutip sedikit kata-kata bijak dari aktor, penyiar radio, presenter televisi, penulis buku, penyanyi rap, sekaligus komika Pandji Pragiwaksono:

“Menjadi sedikit lebih beda, lebih baik, daripada menjadi sedikit lebih baik,”
Jadi, buatlah tulisanmu terlihat unik dan berbeda dibandingkan dengan penulis lain. Buatlah agar tulisanmu punya gaya dan ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki penulis lain.

Baca Juga: Fitur-Fitur Instagram yang Perlu Kamu Ketahui 

Buatlah pembaca, ketika membaca buku atau karya tulisanmu, sudah tahu kalau itu kamu yang menulisnya tanpa harus melihat terlebih dulu siapa pengarang buku itu. Ini baru mantap!

11. Renggut Sisi Emosional

Penulis yang baik adalah mereka yang bisa mengaduk-aduk sisi emosional pembacanya. Bila dia menulis kisah percintaan, hati pembaca bisa berbunga-bunga. Bila dia menuliskan kisah horor, pembaca bisa benar-benar merasakan ketakutan. Bila dia menulis kisah yang mengharukan, pembaca bisa terlarut bahkan meneteskan air mata. Atau bila dia menulis resep masakan, pembaca tanpa sadar bisa meneteskan air liur.

Dalam berkomunikasi, termasuk melalui media penulisan, hal yang memang tak kalah penting adalah bagaimana kita bisa ‘merenggut’ sisi emosional para pembaca. Karena di zaman seperti sekarang ini, orang tidak lagi bicara soal rasional saja, tapi apa yang bisa berkesan dan membekas di hati dan pikiran mereka.

Itulah sebabnya kenapa sekarang hal-hal yang mellow dan melankolis lebih mudah menjadi viral dan disukai banyak orang.

12. Bangun Interaksi

Dalam menulis, kamu terkadang tak bisa hanya mementingkan keinginan atau perasaanmu saja. Kamu harus bisa berbagi perasaan dengan pembaca, salah satu caranya dengan mencoba membangun interaksi yang kuat dengan mereka.

Hal ini salah satunya bisa dilakukan dengan penulisan yang mendetail. Dalam penulisan cerita fiksi maupun non fiksi misalnya, mendeskripsikan narasi sedetail mungkin menjadi cara bagaimana pembaca bisa memiliki koneksi yang sama dengan penulis.

Misalnya saja ketika tokoh dalam cerita sedang menangis. Maka deskripsikanlah bagaimana kedua bola matanya yang mendadak berubah menjadi merah, muncul butiran air yang berusaha sekuat mungkin ia tahan agar tak perlu terjun membasahi pipi. Bibirnya ia tahan agar tak bergetar, ditutupinya dengan senyuman palsu.

Nah, ketika pembaca sampai berkata-kata ketika membaca tulisanmu, seperti: “Ih, ngeselin banget sih tuh orang!” atau “kasihan sekali ya orang itu,” atau minimal sekali dia mengucapkannya dalam hati, itu artinya kamu telah berhasil membuat mereka ‘berinteraksi’ denganmu.

13. Bukan hanya ‘Dekat’ denganmu, Tapi Juga ‘Dekat’ dengan Mereka

Kalau masih timbul sedikit pertanyaan mengenai bagaimana cara yang paling ampuh untuk bisa membangun interaksi yang kuat, maka salah satu cara yang lain adalah dengan memahami juga apa yang dekat dengan pembaca.

Yap, tulislah sesuatu yang bukan hanya terasa dekat denganmu, tapi juga dekat dengan pembaca. Jangan terlalu terpaku pada isu atau tema yang sempit, sehingga tak bisa ‘diterima’ denga mudah. Buatlah tema yang umum, yang orang lain juga sering merasakan hal yang sama, namun bisa dikemas secara berbeda dan unik, atau dari sisi yang tak biasa.

Misalnya saja mengangkat cerita tentang hubungan sebuah keluarga, atau yang lebih spesifik mengenai hubungan antara anak dan ayahnya. Tentu semua pernah merasakannya, kan?

Namun kemaslah dalam bentuk yang unik, seperti ketika biasanya seorang ayah yang harus bisa menjaga anak kecilnya sampai kelak ia dewasa, dalam kisah ini sebaliknya justru seorang anak kecil yang berjuang menjaga dan merawat ayahnya karena sakit yang diderita.

Baca Juga: Akankah Facebook Tetap Bertahan di Singgasana Raja Sosmed?

14. Jangan Menulis dalam Keadaan Lelah

Ini termasuk hal yang paling penting. Menulis dalam keadaan lelah, tentu membuat kita menjadi kurang bergairah dalam menuangkan ide-ide dan bercerita. Pada kondisi seperti ini lah mood seseorang juga bisa terganggu. Jika sudah bad mood, bisa-bisa kita malah menyerah dan tak mau lagi melanjutkan tulisan.

Membuat Tulisa Jadi Menarik (2)

Menulis dalam kondisi kurang tidur misalnya, tentu akan membuat ide di dalam kepala menjadi tertuang secara berantakan karena energi yang dimiliki dan digunakan tidak optimal. Tidak cuma sampai di situ, karena kurang tidur juga bisa mempengaruhi suasana hati menjadi negatif, lho.

Jadi, kalau sudah merasa lelah, jangan dipaksakan untuk menulis, ya!

15. Hindari Rasa Bosan

Dalam menulis, kita juga perlu menjaga suasana hati agar selalu positif. Menulis dalam keadaan jenuh atau bosan tentu bisa merusak suasana hati. Oleh karena itu, biasakan untuk tidak sering menulis pada satu tempat yang itu-itu saja.

Yap, terkadang kamu bisa menulis sambil liburan. Menulis di gunung, pantai, pedesaan, atau tempat yang berbeda-beda sesuai kondisi hati kamu saat itu.

Menulis memang perlu sendiri dan kesunyian. Tapi bagi sebagian orang, menulis sambil mendengarkan musik misalnya, juga bisa menjadi cara mengatasi bosan, atau bahkan bisa menemukan ide-ide baru yang sebelumnya tak terpikirkan. Jadi semua juga tergantung pada aktivitas yang memang kamu suka untuk menghindari rasa bosan.

16. Jika Stuck, Jangan Dipaksakan

Jika kamu mengalami stuck ketika sedang menulis, maka sebaiknya jangan diteruskan dulu. Karena kalau tetap dipaksakan, hal itu justru bisa membuatmu gampang menyerah dan meninggalkan apa yang sudah kamu tulis begitu saja. Yap, kadang kamu juga perlu istirahat, atau menunggu ilham ide-ide baru yang datang di saat yang tak terduga.

Resign dari Pekerjaan

Stuck bisanya juga sering tejadi ketika penulis mencoba menulis begitu banyak dalam satu waktu. Alhasil, di tengah-tengah penulisan dia bisa kehabisan bahan. Biasanya ini terjadi karena ada deadline. Makanya, di dalam menulis, usahakanlah agar kamu bisa mengatur waktu sebaik mungkin.

Biasakan untuk membuat timeline terlebih dulu, sehingga tahu langkah-langkah dan detail waktu pengerjaan penulisanmu, bab per bab, tahap demi tahap, satu demi satu. Sehingga kamu tidak mepet menulisnya ketika deadline sudah dekat, atau justru memaksakan diri supaya bisa selesai lebih awal.

17. Jangan Lupa Selalu Bawa Catatan

Ide terkadang datang di saat yang tak terduga. Di kereta, dalam perjalanan ke kantor, atau mungkin saat sedang liburan ke luar kota, siapa yang tahu?

Jadi, usahakan agar kamu selalu punya dan membawa sebuah catatan kecil ke mana pun kamu pergi, ya. Begitu ide muncul di kepala, segera tulis sebelum kamu melupakannya. Tulis saja dalam bentuk pointers yang rapi.

Nah, ketika kamu sudah sampai di rumah atau siap untuk menulis, kamu bisa membuka catatanmu itu untuk mulai dituangkan ke dalam cerita.

Oh iya, perlu diingat juga, ide itu tidak hanya bisa muncul dari apa yang kamu pikirkan di kepala, tapi juga ketika kamu sedang melihat dan mengamati sekeliling.

Siapa sangka idemu muncul ketika kamu mendengar percakapan orang sekitar, atau ketika ada hal unik yang kamu lihat sehingga bisa kamu angkat. Dengan membawa catatan, kamu bisa segera menulisnya sebelum keburu menguap.

Hari ini, aku melihat seorang kakek paruh baya bersuka cita merayakan ulang tahun pernikahannya yang entah ke berapa, dengan menggenggam erat sekuntum bunga dan sekotak coklat untuk sang istri tercinta.

Tapi, ia hanya bisa menatap dalam-dalam wajah istrinya dalam sebuah bingkai foto tua. Kuharap sang wanita hanya sedang pergi sementara karena sebuah urusan dan akan segera kembali kepelukan suaminya. Semoga.
Catat!

18. Sisipkan Jokes/Humor

Zaman sekarang, terus menerus membahas hal-hal yang serius terkadang juga gampang bikin bosan, lho. Jadi, jangan lupa sisipkan sedikit jokes atau humor di setiap tulisanmu. Ini sudah banyak dilakukan para penulis, bahkan penulis skenario film. Makanya, sekarang ini jasa konsultan komedi di industri perfilman tanah air juga sedang banyak dibutuhkan alias lagi naik daun.

Kenakalan Remaja (2)

Yap, menambahkan sedikit bumbu-bumbu humor di tulisanmu adalah hal yang kadang dibutuhkan. Itu juga salah satu cara mengaduk-aduk perasaan pembaca. Tidak hanya tersenyum, lalu menangis. lalu takut, tapi juga tertawa.

19. Jadilah Kreatif dan Inovatif

Sama seperti bidang-bidang pekerjaan yang lain, seorang penulis juga dituntut untuk bisa bekreasi dan berinovasi dari waktu ke waktu. Penulis tidak boleh hanya terpaku pada karya yang begitu-begitu saja. Usahakan agar punya sesuatu yang baru.

Beberapa penulis saat ini tidak lagi hanya terpaku pada tulisan semata, tapi juga digabungkan dengan beberapa gambar atau foto. Ada juga yang mengisi tulisannya dengan komik di beberapa bagian halaman.

Kreatifitas dibutuhkan agar mata pembaca tidak mudah bosan dan letih melihat tulisan demi tulisan. Terlebih di zaman sekarang, kaum milenial mungkin sudah tidak terlalu tertarik pada hal-hal yang cuma bersifat teks, namun lebih suka pada yang bersifat visual dan berwarna.

20. Minta Temanmu Membacanya

Nah, jika kamu sudah selesai menulis, maka tak ada salahnya meminta temanmu yang kau percaya untuk melihatnya sebagai pembaca pertama. Mintalah masukan dan koreksi mengenai kekurangan tulisanmu. Anggap saja temanmu sedang mewakili seluruh pembaca yang nantinya akan melihat karyamu.

Pertimbangan untuk S2 (4)

Eits, tapi ingat, jangan mudah tersinggung dan berputus asa kalau temanmu mengatakan hal yang tak menyenangkan, ya. Yang dibutuhkan justru sebuah kejujuran, kan?

Karena dari situ kamu juga bisa belajar dan berkembang. Mengetahui apa yang salah yang perlu diperbaiki. Merevisinya bukanlah hal yang buruk, kan. Tapi justru supaya tulisanmu bisa menjadi lebih baik dan sempurna.

Percayalah, temanmu tak mungkin ingin menjatuhkanmu, dia justru ingin yang terbaik untukmu!

21. Jangan Takut Revisi, Revisi, dan Revisi

Kalau kamu ingin menjadi penulis, maka revisi adalah bagian yang harus kamu lewati. Jangan pernah bosan dan takut mendengar kata revisi, revisi, dan revisi. Bahkan hanya karena sekadar typo atau error-error kecil lainnya.

Baca Juga: Persiapan Penting Sebelum Kamu Berpidato

Ingat, melakukan revisi itu bukan artinya tulisanmu buruk, lho. Karena revisi justru dilakukan supaya tulisanmu bisa jadi lebih sempurna dan sesuai dengan apa yang diinginkan. Jadi, harus mulai terbiasa, ya.

Untuk mempermudah, maka bedakan filenya ketika kamu baru mulai pertama kali menulis, dan setelah melakukan revisi. Yap, cobalah untuk menyimpannya ke dalam file dengan nama yang berbeda. Misalnya saja ketika pertama kali menulis kamu menggunakan nama file draft 1, maka ketika sudah melakukan revisi kamu mengubahnya menjadi draft 2, draft 3, draft 4, dan begitu seterusnya.

Oh iya, untuk lebih mudah dalam me-review tulisanmu, tidak salahnya juga untuk kamu print out hasilnya sehingga lebih mudah dibaca. Tapi, paperless juga tetap penting, lho, Jadi jangan sering-sering juga sih, ya.

22. Terus Asah Dirimu

Siapa bilang atlet sepak bola sukses macam Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo bisa menjadi hebat seperti sekarang ini tanpa melakukan apa-apa? Tentu saja mereka terus berlatih dan bekerja keras sehingga bisa berada pada level yang sekarang. Bahkan hingga saat ini pun, latihan adalah salah satu menu utama mereka sehari-hari.

Yap, begitu juga dengan menulis. Kamu tak boleh berhenti untuk terus menerus latihan dan mengasah tulisanmu. Semakin sering kamu menulis, maka kamu akan semakin mudah menuangkan ide di kepala ke dalam lembaran kertas.

Seperti Messi dan Ronaldo, mereka akan menjadi hebat setelah banyak ‘dilanggar’ dan mengalami beberapa kegagalan di lapangan. Begitu pula dengan penulis, tanpa banyak hambatan dan kegagalan, kamu tidak bisa menemukan karyamu yang sesungguhnya. Kesuksesan itu akan datang melalui sebuah proses, bukan hal yang instan.
Kamu bisa hebat, kalau kamu sudah melewatinya.

23. Coba Terus! Jangan Mudah Menyerah

Tulisan pertamamu memang bukan sekadar untuk coba-coba. Tapi jadikanlah tulisan pertama itu untuk mengukur seberapa jauh kemampuan menulismu. Dari tulisan pertama itu, kamu bisa berkembang.

Tapi bukan berarti di tulisan keduamu, atau ketiga, keempat dan seterusnya, kamu sudah harus menjadi penulis yang sempurna. Tidak juga. Karena seperti pekerjaan yang lain, penulis juga akan terus tumbuh.

Jadi, jangan mudah menyerah dan berputus asa hanya karena tulisan pertamamu terlihat tidak seperti yang kamu harapkan, ya. Justru dari situ kamu bisa belajar. Coba terus!

Yap, karena sebetulnya semua orang bisa menjadi penulis. Hanya saja kita perlu terbiasa untuk melakukannya. Dengan terbiasa menulis, kita bisa memahami apa ciri khas yang kita punya, juga kelebihan dan kekurangannya.

So, jangan pernah berhenti menulis, ya!
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

Demikian “Cara Mudah Membuat Karya Tulis Jadi Menarik” Semoga Bermanfaat. Salam.

Oleh: Umair Shiddiq Yahsy

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*